Pernah nggak sih kalian pas lagi sakit hati karena pacar, eh besoknya malah badannya ikut sakit juga, tau nggak itu karena apa? Jawabannya, karena fungsi otak yang berperan dalam memberi dan mengolah respons sakit itu berada pada bagian yang sama, yaitu Anterior Cingulate Cortex (ACC), cerebellum, Posterior Cingulate Cortex (PCC), dan thalamus. Oleh karena itu, ada sebagian remaja yang lebih memilih menggantikan rasa sakit emosionalnya dengan menyakiti dirinya sendiri atau self-injury.
Masa remaja adalah salah satu fase paling penting dalam perkembangan manusia. Masa remaja boleh dibilang masa peralihan, peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya (Gatot, 2020). Artinya, apa yang telah terjadi di masa lalu akan membekas pada masa sekarang dan yang akan datang.
Pada masa ini, remaja juga memiliki emosi yang masih labil karena pengaruh hormon, pada beberapa waktu remaja bisa senang sekali ataupun sebaliknya. Emosi remaja cenderung lebih kuat dan menguasai diri mereka daripada pikiran yang realistis. Bentuk-bentuk emosi yang sering terjadi pada masa remaja antara lain adalah takut, cemas, senang, gembira, ingin tahu, kasih sayang, marah, dsb.
Dalam hal emosi yang negatif, biasanya remaja belum bisa mengendalikannya dengan baik. Oleh karena itu, peran pendidik di sini sangat diperlukan baik guru, orang tua, maupun lingkungan sekitar untuk membentuk identitas diri dan mengidentifikasi diri serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Jika remaja gagal beradaptasi dengan baik, maka dapat berakibat pada munculnya penilaian yang negatif terhadap diri mereka, sehingga saat mereka menghadapi suatu masalah, mereka akan gagal untuk mengatasinya dengan baik. Ketidakmampuan remaja menghadapi suatu masalah inilah yang dapat menimbulkan terjadinya stres, afek negatif, dan tekanan yang menimbulkan emosi negatif pada remaja.
Stres yang berdampak terhadap emosi negatif tidak terkendali dapat membuat individu melakukan perilaku yang merugikan diri sendiri, seperti melukai diri sendiri, mengonsumsi narkoba, minum-minuman beralkohol, penyimpangan sosial, dan perilaku negatif lainnya (Latipun & Notosoedirjo, 2019).
Berdasarkan uraian di atas, contoh salah satu perilaku yang merugikan diri sendiri akibat stres yang menimbulkan emosi negatif adalah perilaku menyakiti diri sendiri dan biasa disebut self-injury atau self-harm.
Apa itu Self-injury?
Self-injury adalah perilaku melukai dirinya sendiri yang dilakukan dengan sengaja tanpa ada maksud untuk bunuh diri, melainkan untuk mengurangi penderitaan secara psikologis. Perilaku ini meliputi menyayat bagian kulit tubuh dengan pisau atau silet, memukul diri sendiri, membakar bagian tubuh tertentu, menarik rambut dengan keras, bahkan memotong bagian tubuh tertentu.
Hal tersebut dilakukan tanpa adanya maksud untuk bunuh diri. Biasanya, perilaku self-injury ini banyak terjadi pada usia remaja, di mana pada masa ini emosi remaja masih cenderung labil dan pikiran realistisnya terkalahkan oleh emosi negatifnya.
Faktor yang melatarbelakangi Self-injury
Nock (2000) mengemukakan 4 alasan utama seseorang melakukan self-injury. Pertama, meredakan ketegangan atau menghentikan perasaan buruk. Kedua, merasakan sesuatu bahkan rasa sakit. Ketiga, untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menunjukkan bahwa mereka menderita. Keempat, membuat orang lain berhenti mengganggu mereka.
Dalam penelitian tersebut juga menyatakan bahwa individu yang melakukan self-injury mempunyai reaktivitas fisiologis yang kuat, daya tahan yang lemah dalam menghadapi distress, serta kemampuan memecahkan masalah yang rendah jika dibandingkan dengan individu lain yang tidak melakukan self-injury.
Ada faktor lain yang dapat menjadi pemicu seseorang melakukan self-injury, yaitu penilaian negatif individu terhadap dirinya sendiri. Individu tersebut merasa bahwa dirinya pantas untuk dihukum atas dasar apa yang telah terjadi dalam hidup mereka, maka mereka memilih self-injury sebagai bentuk kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
Self-injury sebagai coping mechanism
Biasanya, individu yang cenderung terlibat dalam perilaku self-injury adalah individu yang kerap kali merasakan kehampaan dan kekosongan dalam dirinya. Dia merasa memiliki masalah, tetapi dia bingung dan tidak tahu apa sebenarnya masalah yang ia rasakan dan hadapi sekarang serta bagaimana cara mengatasi masalah tersebut dengan baik dan tepat.
The British Journal of Psychiatry mengemukakan bahwa individu melakukan self-injury sebagai coping mechanism atau cara yang dilakukan untuk mengatasi atau menghadapi situasi stres, trauma, dan lain sebagainya. Mereka melampiaskan rasa sakit emosionalnya dengan cara menyakiti fisik mereka untuk mendapatkan ketenangan sementara dan meredakan ketegangan dalam dirinya.
Banyak yang menganggap pelaku self-injury melakukan hal tersebut hanya untuk mencari perhatian semata, tapi nyatanya banyak pelaku self-injury yang justru enggan menunjukkan bekas atau bukti bahwa dirinya telah melakukan self-injury. Hal itu dikarenakan mereka merasa malu dengan keadaan, di mana mereka merasa berbeda dengan orang lain, sehingga mereka melakukannya secara diam-diam dan menyembunyikan bekas luka yang ada pada tubuh mereka.
Bagaimana cara mengatasi atau mencegah self-injury?
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau mencegah terjadinya self-injury, yaitu pertama, mengenali dan memahami berbagai macam emosi yang kita rasakan dengan baik. Kedua, ketika mulai merasakan emosi negatif, usahakan untuk mengalihkannya dengan kegiatan yang positif dan lebih adaptif. Misalnya, menyibukkan diri dengan membersihkan kamar, mendengarkan musik, berteriak, dll.
Ketiga, mencari bantuan kepada orang terdekat seperti sahabat, orang tua, kakak, atau siapa pun untuk membicarakan perasaan dan mendengarkan masalahmu agar setidaknya kamu tidak memendam perasaan itu sendirian.
Namun jika semuanya tidak dapat membantu, maka jangan sungkan untuk mencari bantuan profesional sesegera mungkin, karena itu akan sangat membantumu memahami dirimu sendiri dan kamu dapat menyelesaikan masalah, serta kesulitanmu.
Untuk kalian yang sedang dalam masa sulit, be strong because things will get better, it may be stormy now but it never rains forever, you’re enough, you’re worth it!
Referensi
Kurniawaty, R. (2012). Dinamika Psikologis Pelaku Self-Injury (Studi Kasus Pada Wanita Dewasa Awal). Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi, 1(1). https://doi.org/10.21009/JPPP.011.03.
Latipun & Notosoedirdjo, M. (2014). Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Malumbot, C. M., Naharia, M.,& Kaunang, S. E. J. (2020). Studi Tentang Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Self Injury dan Dampak Psikologis pada Remaja. Psikopedia, 1(1). https://ejurnal-mapalus-unima.ac.id/index.php/psikopedia/article/view/1612.
Marwoko, G. (2019). Psikologi Perkembangan Masa Remaja. Jurnal Tarbiyah-Syariah-Islamiyah, 26(1). https://doi.org/10.29138/tasyri.v26i1.69.
Nock, M. K., Prinstein, M. J., & Sterba, S. K. (2010). Revealing the form and function of self-injurious thoughts and behaviors: a real-time ecologicalassesment study among adolescents and young adults. Psychology of Violence, (1). https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/2152-0828.1.S.36.
Westers dkk. (2020). Media guidelines for the responsible reporting and depicting of non-suicidal self-injury. The British Journal of Psychiatry, 219(2). https://doi.org/10.1192/bjp.2020.191.