Health

Saat 'Diterima Teman' Lebih Penting dari Kesehatan: Membedah Psikologi Remaja Pengguna Vape

Saat 'Diterima Teman' Lebih Penting dari Kesehatan: Membedah Psikologi Remaja Pengguna Vape
Ilustrasi remaja menggunakan vape (Pexels/Muhamad Lutfi)

Fenomena vape di kalangan remaja semakin berkembang dan sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern. Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021, prevalensi penggunaan vape meningkat dari 0,3% pada 2019 menjadi 3% pada 2021. Selain itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 juga menunjukkan bahwa penggunaan vape paling banyak ditemukan pada kelompok usia 10–18 tahun, yaitu sebesar 10,9%.

Dilihat dari tahapan perkembangan psikososial menurut Erik Erikson, masa remaja merupakan fase pencarian identitas diri. Pada tahap ini, remaja cenderung lebih sensitif terhadap penilaian sosial dan memiliki kebutuhan besar untuk diterima oleh lingkungan sekitarnya sehingga lebih mudah mengikuti perilaku kelompok agar merasa menjadi bagian dari lingkungannya.

Banyak faktor yang menyebabkan remaja menggunakan vape, di antaranya pengaruh lingkungan sosial, rasa ingin tahu, dan persepsi bahwa vape lebih aman dibanding rokok biasa. Namun, faktor yang paling berpengaruh dalam tren ini adalah lingkungan sosial, seperti ajakan teman, keinginan diterima dalam kelompok pergaulan, serta dorongan untuk terlihat mengikuti gaya hidup modern. Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konformitas atau biasa dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal tren sosial atau tidak diterima dalam kelompok.

Di kehidupan sehari-hari, penggunaan vape di kalangan remaja sering muncul karena pengaruh lingkungan sekitar. Banyak remaja mencoba vape karena melihat teman dekat, kelompok pergaulan, atau influencer di media sosial menggunakannya. Akibatnya, vape bukan lagi dipandang sekadar alat pengganti rokok, tetapi juga menjadi simbol agar dianggap keren dan mudah diterima dalam lingkungan sosial. Penelitian mengenai pengaruh konformitas pada pengguna vape menunjukkan bahwa tekanan sosial dan kebutuhan diterima lingkungan berpengaruh terhadap perilaku penggunaan vape pada remaja.

Signifikansi Temuan Teman Sebaya dan Rapuhnya ‘Coping Stress’

Besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku penggunaan vape juga terlihat dalam penelitian Fahria et al. (2025) yang menunjukkan bahwa faktor keluarga dan teman sebaya memiliki pengaruh signifikan terhadap penggunaan vape pada remaja. Dari 100 responden yang dipengaruhi keluarga, sebanyak 60,3% menggunakan vape, sedangkan dari 61 responden yang dipengaruhi teman sebaya, sebanyak 60,7% menggunakan vape. Temuan ini memperlihatkan bahwa perilaku penggunaan vape pada remaja tidak hanya dipengaruhi oleh keputusan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitarnya.

Tidak sedikit pula remaja yang menggunakan vape sebagai cara mengurangi stres atau tekanan emosional. Beban akademik, masalah sosial, dan tuntutan lingkungan membuat sebagian remaja mencari pelarian yang dianggap dapat memberikan rasa tenang sementara. Saat ini, sebagian remaja juga melampiaskan stres dengan cara yang mengikuti tren di lingkungan sekitarnya, seperti menghabiskan waktu berlebihan di media sosial, nongkrong terus-menerus, atau mencari validasi melalui gaya hidup tertentu agar merasa lebih diterima dalam pergaulan. Cara tersebut sering dipilih karena dianggap dapat mengalihkan pikiran dari tekanan yang dirasakan, meskipun belum tentu membantu remaja menyelesaikan sumber stres yang sebenarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku penggunaan vape tidak hanya berkaitan dengan konformitas, tetapi juga dengan kemampuan coping stress remaja yang masih kurang adaptif. Remaja yang belum memiliki konsep diri yang kuat cenderung lebih mudah mengikuti tekanan lingkungan dan menjadikan tren sebagai cara memperoleh pengakuan sosial. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memahami konsep diri secara positif agar mampu mengenali nilai diri, menentukan pilihan secara mandiri, dan tidak mudah terbawa pengaruh kelompok.

Dekonstruksi Persepsi Keamanan dan Dampak Klinis Kesehatan

Di sisi lain, persepsi bahwa vape lebih aman dibanding rokok biasa membuat remaja cenderung menyepelekan risiko kesehatannya. Padahal, vape tetap mengandung nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan. Dalam penelitian disebutkan bahwa penggunaan vape terus berkembang karena dianggap lebih aman bagi kesehatan dibanding rokok biasa (Putri et al., 2023).

Tinjauan dari Lyzwinski et al. (2022) menemukan bahwa penggunaan vape pada remaja berhubungan dengan gangguan pernapasan, masalah pada fungsi otak, hingga meningkatnya risiko kecanduan zat lain. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa vape sebenarnya tidak aman digunakan pada usia remaja meskipun sering dianggap lebih ringan dibanding rokok biasa. Jadi, anggapan bahwa vape sepenuhnya lebih aman dibanding rokok sebenarnya belum dapat dibenarkan secara ilmiah.

Fenomena vape pada remaja menunjukkan bahwa perilaku kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan tentang bahaya kesehatan, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan tekanan sosial. Oleh karena itu, edukasi mengenai vape perlu disertai penguatan kemampuan remaja dalam mengelola stres, meningkatkan kepercayaan diri, serta keberanian untuk menolak pengaruh negatif dari lingkungan.

Pendekatan Promotif-Preventif dan Intervensi Edukasi Konsisten

Dalam kajian psikologi kesehatan, penanganan fenomena vape pada remaja tidak cukup hanya melalui larangan atau edukasi bahaya kesehatan saja, tetapi perlu pendekatan promotif dan preventif melalui kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Sekolah dapat menghadirkan aktivitas yang membantu siswa mengenal konsep diri, memahami emosi, dan melatih coping stress yang lebih adaptif, misalnya melalui diskusi untuk mencari potensi diri, psikoedukasi kesehatan mental, pelatihan manajemen stres, atau peer support antar siswa. Sementara itu, keluarga berperan dalam memberikan dukungan emosional, komunikasi yang terbuka, dan pengawasan yang sehat terhadap pergaulan remaja.

Hasil penelitian oleh Ramadani et al. (2025) menunjukkan bahwa edukasi kesehatan mengenai bahaya vape efektif meningkatkan pengetahuan remaja. Sebelum diberikan penyuluhan, banyak remaja masih menganggap vape lebih aman dibanding rokok biasa akibat kurangnya pengetahuan dan pengaruh lingkungan sosial. Setelah dilakukan edukasi melalui metode ceramah, hasil post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan pada setiap item pertanyaan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa perilaku penggunaan vape pada remaja dipengaruhi oleh teman sebaya, lingkungan, dan keinginan untuk diterima dalam kelompok sosial sehingga edukasi yang dilakukan secara konsisten menjadi penting untuk mencegah penggunaan vape di kalangan remaja.

Kesimpulannya, fenomena vape di kalangan remaja menunjukkan bahwa penggunaan vape bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi juga berkaitan dengan tekanan sosial dan cara remaja menghadapi stres dalam kehidupannya. Karena itu, penguatan konsep diri dan kemampuan coping stress yang adaptif menjadi penting agar remaja tidak mudah mencari pelarian melalui perilaku yang berisiko. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar diperlukan untuk menciptakan sistem dukungan yang membantu remaja berkembang secara sehat, baik secara fisik maupun psikologis.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda