facebook

Benarkah Dominansi Vietnam, Minim dan Matinya Kreativitas Indonesia?

Ahmad Zubairi
Benarkah Dominansi Vietnam, Minim dan Matinya Kreativitas Indonesia?
Witan dan kawan-kawan (Instagram.com/@timnas.indonesia)

Permainan Timnas U-23 di laga perdana Sea Games 2021 kontra Vietnam beberapa hari yang lalu, menghasilkan tragedi yang sungguh memilukan. Anak buah Shin Tae-yong itu harus tersungkur dengan kekalahan 3:0.

Kekalahan tersebut adalah tidak lepas dari masalah antar lini timnas Indonesia yang buruk, dan minimnya membangun serta menciptakan kreativitas.

Di lain sisi, permainan antar lini Vietnam cukup prima dan sangat dominan. Vietnam bermain dengan luar biasa. Indonesia, justru permainannya di bawah performa (underform). 

Di babak pertama kala itu, skor memang 0:0. Tapi, bukan lantas Indonesia bermain baik. Indonesia bermain di bawah tekanan.

Kenapa demikian? Banyak sekali faktornya. Indonesia mimble, tidak kompak, kebingungan, alur serangan dan ancaman sama sekali tak terlihat, passing amburadul, adalah satu problemnya.

Sejatinya, permainan Vietnam yang dinamis itu, masih bisa dikendalikan oleh Indonesia. Andai kreativitas—komunikasi di kubu Indonesia baik dan tahu bagaimana cara menghentikan laju serangan lawan, mungkin hasilnya sedikit berbeda.

Sehingga karena berbeda, laga jelas akan berjalan dengan alot. Karena alot, meskipun Indonesia mau kalah, bisa jadi tidak diganjar dengan tiga gol alias tidak akan kalah telak.

Bahkan, jika Indonesia kala itu tidak bermain di bawah performa, kontrolnya maksimal, passingnya bagus, antar lini permainanya menjanjikan misalkan, bisa jadi Indonesia mampu menahan imbang. Atau bahkan menang, walaupun hal ini memang agak mustahil.

Tapi walaupun kalah, jika bermain bagus, mungkin tak terlalu menyedihkan. Masalahnya, sudah kalah telak, mainnya mengecewakan. 

Padahal, personil yang berlaga di Sea Games tahun ini, adalah mayoritas personil yang sebelumnya mentas di AFF level senior di Singapura. Kala itu, permainannya sangat menjanjikan meski harus kalah atas Thailand di laga final. 

Artinya, skuad timnas Indonesia saat ini, bisa dikatakan mewah dan mentereng. Bayangkan, ada 13 nama-nama Indonesia yang kemarin itu mampu membawa Indonesia ke puncak final AFF. Ini bukan tentang absennya Arhan, Elkan atau Asnawi.

Tapi, perihal permainan yang kemarin di AFF menakjubkan, tapi kini sirna. Kekayaan kreativitas dalam membangun serangan dan bertahan yang diperagakan di helatan AFF, kini hilang dan entah ke mana. 

Lini belakang diobok-obok. Sisi kanan digempur. Sehingga hal itu, menjadi titik terang bagi Vietnam untuk memecah kebuntuan. Wabil khusus menjadi titik merah bagi Indonesia.

Bahkan, selaku pemain senior, Fachruddin tak mampu mengantisipasi bola dengan baik. Niatnya memang bagus, ingin menendang bola ke depan, tapi malah nendang angin dan terciptalah gol ketiga. Memalukan! 

Ditambah lagi lini tengah Indonesia yang tampak gugup dan tak mampu berbuat banyak. Salah passing, bola mudah lepas, umpan tidak akurat, sentuhan 1-2 tak berjalan mulus adalah kenyataan yang menyakitkan.

Lini tengah yang diisi oleh Klok, Kambuaya dan Rachmat Irianto tak mampu menghidupkan alur serangan. Trisula tersebut tak sanggup menjaga keseimbangan di lini tengah. Sehingga Saddil, Egy dan Irfan Jauhari harus parkir bus di lini depan. 

Sokongan dari titik utama arena tanding, lini tengah lumpuh dan mati suri. Ke mana kreativitas di lapangan? Dua senior, Kambuaya dan Klok tak mampu berkolaborasi dan berkombinasi baik dengan juniornya, Irianto. Mereka benar-benar tak sanggup menjalankan tugasnya dengan baik, maksimal dan kompleks. 

Bahkan, masuknya Abimanyu sekali pun, sebagai gelandang jangkar, juga tak mampu memberikan warna yang berbeda. Begitu pula masuknya Witan, Dewangga dan Ronaldo. Tetap loyo, tempo permainan dan intensitas  tetap tak ada perkembangan yang signifikan dan tetap saja tak mampu memberikan ancaman ke area pertahanan Vietnam. 

Tiga penyerang andalan timnas di lini depan, hanya bisa turun ke belakang membantu Indonesia dari gempuran Vietnam. Tugas mereka untuk memporak-porandakan jantung pertahanan anak buah PHS gagal secara totalitas. Tak ada serangan. Tak ada ancaman yang berarti bagi Vietnam. Sebab tak ada peluang emas yang mampu diciptakan oleh kubu Indonesia. 

Ini bukan lagi masalah pemain individu atau beda kelas antara kekuatan Indonesia yang berada di bawah Vietnam. Bukan pula sebab Vietnam tuan rumah karena didukung ribuan penonton di tribun. Tapi masalah kreativitas antar lini di kubu Garuda Nusantara yang minim dan mati kutu dan menjadi tanggung jawab bersama. 

Sehingga, karena Indonesia minim dan mati kreativitas, baik dalam bertahan, menyerang, komunikasi pecah dan passing yang asal-asalan dan keretakan lainnya, maka mapan dan nyamanlah Vietnam dalam menguasai bola.

Vietnam mudah mendapat bola karena Indonesia mudah kehilangan bola, Vietnam mudah menciptakan peluang dan pintar memaksimalkannya karena goyah dan runtuhnya pertahanan Indonesia. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak