Di persepakbolaan nasional, nama seorang Justinus Lhaksana tentu sudah tak asing lagi di telinga. Selain kerap membagikan analisis dan pandangannya terhadap dinamika persepakbolaan nasional maupun internasional, pria yang satu ini juga sering membuat warganet geger dengan kalimat-kalimat kontroversialnya.
Termasuk ketika dirinya mengomentari pertandingan-pertandingan yang dijalani oleh mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dan mantan pelatih Timnas U-20, Indra Sjafri.
Beberapa waktu sebelum Shin Tae-yong dilengser dari jabatannya sebagai pelatih Timnas Indonesia, Justinus Lhaksana kerap menyerang pelatih berdarah Korea Selatan tersebut. Ketika pertandingan berakhir tak memuaskan, mantan pelatih Timnas Futsal Indonesia itu tak segan untuk memberikan komentar pedas kepada STY.
Namun sayangnya, pedasnya komentar dari Justin tersebut tak terjadi di tim lain yang tak dilatih oleh STY. Seperti misal, di ajang Piala Asia U-20 beberapa waktu lalu, menanggapi pencapaian minor yang didapatkan oleh skuat Garuda Muda, Justin justru menyalahkan para pemain, alih-alih sang pelatih.
Bahkan, ketika dirinya melakukan live reaction and live commentary pertandingan Piala Asia U-20 antara Iran melawan Indonesia di kanal YouTube Justinus Lhaksana miliknya, justin terang-terangan membela Indra Sjafri dan menyalahkan para pemain terkait lemahnya antisipasi bola-bola atas yang dimiliki oleh Timnas U-20.
"Bukan salah pelatih, itu!" ujar Justin kala itu.
"Crossing-crossing susah lah. Kita kalah body aja. Lu lihat kualitas kita dong. Emang postur kita segitu," sambungnya di momen lain pasca Timnas Indonesia U-20 kebobolan kali kedua melalui bola atas.
Namun ternyata, komentar nyeleneh yang pernah dilontarkan oleh salah satu pundit sepak bola Indonesia ini kembali terbantahkan oleh anak-anak asuh Nova Arianto yang tergabung di Timnas Indonesia U-17.
Ketika dalam pandangan Justinus Lhaksana faktor postur tubuh adalah sebuah masalah yang tak bisa diselesaikan dalam hal antisipasi bola-bola atas, namun tidak demikian halnya di tangan Nova Arianto yang notabene adalah "murid" dari Shin Tae-yong ketika masih bertugas di Indonesia.
Melawan Korea Selatan yang unggul dalam hal fisik dan postur tubuh, Putu Panji dan kolega berhasil mengantisipasi serangan udara tim lawan dengan sangat baik.
Meskipun secara keseluruhan Timnas Indonesia U-17 kalah dalam hal postur tubuh, namun di sepanjang laga berjalan, duel-duel udara yang mereka lakukan terlihat sangat efektif dan membuat tim lawan tak bisa memanfaatkannya dengan baik.
Hal ini bukannya tanpa dasar. Pasalnya, di statistik AFC sendiri juga terlihat betapa superiornya Korea Selatan dalam hal bola-bola udara.
Selama 90 menit permainan berjalan, Korea Selatan tercatat melancarkan sebanyak 31 umpan silang, yang mana dari jumlah tersebut, hanya 19,4 persen saja yang bisa dimenangi oleh mereka.
Itu artinya, hanya ada 6 umpan silang yang bisa menyentuh rekan mereka, sementara sisanya, sebanyak 25 crossing berhasil diredam oleh para pemain Indonesia.
Dan perlu dicatat, jumlah itu masih belum termasuk 7 tendangan sudut yang didapatkan oleh Korea Selatan, di mana semuanya juga berakhir sia-sia di lini pertahanan Indonesia.
Padahal, jika kita melihat data tinggi badan para pemain di laman transfermarkt.com, para pemain Indonesia yang diturunkan oleh coach Nova, hanya penjaga gawang Dafa Setiawarman saja yang memiliki tinggi badan di atas 180cm.
Sementara sisanya, berkisar di angka 170cm hingga 179cm dan tentunya lebih inferior jika dibandingkan para pemain Korea Selatan yang rata-rata memiliki tinggi badan rata-rata di angka 182cm.
Jadi, sekali lagi, sejatinya postur tubuh bukanlah sebuah harga mati untuk tak bisa berduel bola-bola udara. Pasalnya, anak-anak Timnas Indonesia U-17 secara nyata membuktikan bahwa dengan latihan, kerja keras dan teknik bermain yang benar, mereka bisa membuat lawan yang memiliki postur lebih baik menjadi tak berdaya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS