Hobi

Piala Dunia 2026: Tantang Argentina, Swiss Siap Unjuk Mental Baja

Piala Dunia 2026: Tantang Argentina, Swiss Siap Unjuk Mental Baja
Timnas Swiss (Instagram/swissnatimen)

Perjuangan Swiss untuk menembus babak perempat final Piala Dunia 2026 dipastikan bakal disambut dengan ujian yang sangat berat. Kendati harus bersua dengan sang juara bertahan, Argentina, skuad berjuluk La Nati tersebut menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak merasa inferior ataupun gentar.

Keberhasilan melangkah ke fase delapan besar ini didapatkan setelah anak-anak asuh Murat Yakin melewati pertarungan yang sangat melelahkan di babak 16 besar. Mereka dipaksa bermain ketat hingga waktu normal dan babak tambahan selama 120 menit tanpa gol melawan Kolombia, sebelum akhirnya mengunci kemenangan dramatis lewat adu penalti.

Ketegangan di atas lapangan hijau itu diakui secara terbuka oleh salah satu pilar lini belakang Swiss, Manuel Akanji. Pemain bertahan asal klub Inter Milan tersebut sempat merasakan tekanan yang luar biasa berat lantaran dirinya gagal mengeksekusi penalti.

Akanji membeberkan bahwa kegagalannya mengeksekusi tendangan dari titik putih disebabkan oleh keraguan sesaat sebelum menendang. Perubahan keputusan mendadak itulah yang membuat arah bola tidak sesuai dengan rencana awalnya.

“Saya mengubah keputusan di detik terakhir. Saya sebenarnya ingin menendang ke kiri atas. Saya sudah membayangkan bola itu masuk beberapa kali, tetapi seperti yang Anda tahu, hal seperti itu tidak berjalan dengan baik,” ujar Akanji seusai pertandingan, melansir Antara News pada Rabu (8/7/2026).

Meski sempat berada dalam momen tersulit sepanjang laga, Akanji memilih untuk lekas bangkit dan memberikan apresiasi tinggi kepada rekan-rekan setimnya. Ia memuji ketenangan para pemain Swiss lainnya yang berhasil menyelesaikan tugas sebagai algojo penalti dengan sangat sempurna.

“Itu adalah penalti yang sulit bagi saya. Saya memberikan pujian kepada pemain lainnya karena mereka mampu melakukan tugas mereka dengan sangat baik,” kata Akanji melanjutkan.

Akanji menilai bahwa keberhasilan dalam adu tos-tosan bukan melulu soal kesiapan kaki dan teknik sepakan. Unsur kekuatan mental memegang peranan yang jauh lebih masif, dan timnya memang telah mengasah kesiapan tersebut lewat analisis video penalti sebelum laga digelar.

“Kami melihat beberapa video tentang penalti. Adu penalti sangat berkaitan dengan mental. Saya pikir semua pemain di tim kami mampu mengambil penalti,” tutur sang bek.

Modal Disiplin Taktis demi Meremdam Sang Juara Bertahan

Tantangan bagi Swiss kala menyingkirkan Kolombia kian berlipat gawang karena atmosfer stadion yang tidak berpihak kepada mereka. Mayoritas tribune penonton diisi oleh suporter lawan yang terus memberikan tekanan suara sepanjang 120 menit laga berjalan.

“Banyak suporter Kolombia berada di stadion. Itu bukan situasi yang mudah. Berbeda rasanya ketika Anda berdiri di titik penalti setelah bermain selama 120 menit,” ucap Akanji menceritakan bebannya.

Meski begitu, kebiasaan bermain di bawah tekanan atmosfer stadion yang besar selama Piala Dunia 2026 justru membentuk mental baja para punggawa Swiss. Mereka merasa sudah cukup beradaptasi dengan lingkungan pertandingan yang dipadati suporter militan dari negara-negara Amerika Latin.

“Kalau melihat stadion ini, Anda tidak benar-benar merasa seperti bermain di kandang. Suasananya seperti stadion Spanyol atau Kolombia karena banyaknya suporter mereka. Tetapi kami sudah beberapa kali bermain di sini dan tahu bagaimana atmosfernya,” papar Akanji.

Menatap laga perempat final nanti, Argentina memang lebih diunggulkan berkat kedalaman skuad, modal mentereng, serta pengalaman mumpuni di fase gugur. Tim Tanggo juga tengah diselimuti momentum positif pascapertandingan dramatis melawan Mesir.

Walau demikian, Swiss memiliki modal taktik terstruktur dan organisasi pertahanan yang sangat kompak untuk membuat sang juara bertahan frustrasi. Kehadiran pemain-pemain berpengalaman seperti Granit Xhaka, Remo Freuler, Breel Embolo, Dan Ndoye, Noah Okafor, serta Manuel Akanji memberikan keseimbangan dalam skema transisi.

Peluang realistis bagi La Nati untuk menciptakan kejutan adalah dengan memaksa Argentina bermain melebar, merapatkan area tengah, serta memaksimalkan transisi cepat dan bola mati. Jika mereka mampu meminimalkan kesalahan sendiri, Swiss berpotensi memaksakan laga berjalan ketat dengan skor rendah.

Akanji pun memastikan bahwa Swiss akan memberikan perlawanan maksimal demi mengukir sejarah baru di turnamen ini. Kepercayaan diri tim saat ini berada di level tertinggi untuk membuktikan bahwa mereka sanggup bersaing dengan tim-tim elite dunia.

“Kami percaya bisa menghadapi setiap lawan dan membuat pertandingan menjadi sangat sulit bagi mereka. Kami tahu pertandingan melawan Argentina akan sulit, tetapi kami akan memberikan yang terbaik,” tegas Akanji menutup pembicaraan.

Pertandingan delapan besar ini dipastikan akan menjadi duel adu ketahanan mental dan kedisiplinan taktik yang sangat sengit. Skuad Swiss kini siap mengalihkan fokus sepenuhnya demi meredam agresivitas serangan Argentina dan mengamankan tiket menuju babak semifinal.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda