Hobi
FFF Bidik Zinedine Zidane, Timnas Prancis Siap Mulai Era Baru
Perjalanan Prancis di Piala Dunia 2026 kembali menyisakan pertanyaan besar. Les Bleus memang berhasil menembus semifinal, tetapi kegagalan melangkah ke partai puncak membuat evaluasi tak terhindarkan.
Didier Deschamps, pelatih yang telah membawa Prancis meraih Piala Dunia 2018 dan dua kali tampil di final, diyakini akan segera mengakhiri pengabdiannya setelah lebih dari satu dekade membangun fondasi tim nasional.
Di tengah situasi tersebut, nama Zinedine Zidane kembali menjadi kandidat terdepan untuk mengambil alih kursi pelatih. Bagi publik Prancis, pilihan ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Zidane bukan hanya legenda sepak bola nasional, tetapi juga pelatih yang telah membuktikan kapasitasnya di level tertinggi bersama Real Madrid.
Menariknya, mantan striker AC Milan, Paris Saint-Germain, dan Timnas Swedia, Zlatan Ibrahimovi, justru melihat tantangan Zidane bukan pada aspek teknis. Menurutnya, Prancis sudah memiliki pemain terbaik di hampir semua posisi. Yang dibutuhkan hanyalah sosok yang mampu mengelola ruang ganti dan menyatukan seluruh bintang dalam satu visi permainan.
Pandangan Zlatan tersebut membuka diskusi yang lebih luas. Mungkin benar, pekerjaan pelatih Prancis saat ini bukan lagi membangun tim dari nol, melainkan memastikan kumpulan pemain hebat itu mampu bergerak sebagai satu kesatuan.
Warisan Deschamps yang Tidak Mudah Dilanjutkan
Sulit membicarakan masa depan Prancis tanpa mengakui besarnya warisan Didier Deschamps.
Sejak mengambil alih tim nasional pada 2012, ia berhasil mengubah Les Bleus menjadi salah satu kekuatan paling konsisten di sepak bola internasional.
Gelar Piala Dunia 2018, final Piala Dunia 2022, hingga semifinal Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa Prancis hampir selalu hadir di fase-fase akhir turnamen besar.
Keberhasilan tersebut bukan semata karena kualitas individu para pemain, melainkan kemampuan Deschamps membangun keseimbangan.
Ia memahami kapan tim harus menyerang, kapan bertahan, dan bagaimana mengelola ruang ganti yang dipenuhi pemain-pemain berstatus bintang.
Dalam sepak bola internasional yang waktu latihannya sangat terbatas, kemampuan mengelola karakter pemain sering kali jauh lebih penting dibanding menyusun taktik yang rumit. Karena itu, siapa pun penggantinya akan menghadapi ekspektasi yang luar biasa tinggi.
Zidane memang memiliki pengalaman melatih klub elite, tetapi tim nasional menawarkan tantangan berbeda. Ia tidak bisa membeli pemain baru atau membangun skuad sesuai keinginannya. Ia harus bekerja dengan sumber daya yang sudah tersedia dan memaksimalkan potensi yang ada.
Di sinilah komentar Zlatan Ibrahimovic menjadi menarik. Menurutnya, Zidane tidak akan dipusingkan dengan urusan memilih pemain.
"Saya pikir Zidane hanya perlu melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai oleh Deschamps. Memilih pemain tidaklah sulit karena dia sudah memiliki yang terbaik. Apa yang harus dia lakukan adalah memaksakan gaya manajemennya pada tim, sesuai dengan filosofinya sendiri."
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi justru menggambarkan tantangan sesungguhnya.
Prancis Tidak Kekurangan Bintang, Mereka Membutuhkan Seorang Pemimpin
Jika melihat kedalaman skuad Prancis, sulit menemukan kelemahan yang benar-benar mencolok.
Di lini depan terdapat Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, Randal Kolo Muani, hingga para penyerang muda yang terus bermunculan. Lini tengah dihuni pemain-pemain kreatif dan dinamis, sementara sektor pertahanan juga dipenuhi bek yang bermain di klub-klub elite Eropa.
Masalahnya bukan kualitas. Masalahnya adalah bagaimana membuat seluruh kualitas tersebut bekerja secara harmonis.
Sepanjang sejarah sepak bola, banyak tim bertabur bintang gagal memenuhi ekspektasi karena tidak mampu membangun chemistry. Sebaliknya, tim yang memiliki kebersamaan kuat sering kali mampu mengalahkan lawan yang secara individu lebih unggul.
Inilah pekerjaan utama seorang pelatih modern. Zidane memiliki modal besar karena ia pernah berada di posisi yang sama sebagai pemain. Ia memahami tekanan mengenakan seragam Prancis, memahami ekspektasi publik, dan mengetahui bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian dunia.
Pengalamannya menangani ruang ganti Real Madrid yang dipenuhi Cristiano Ronaldo, Sergio Ramos, Luka Modri, Karim Benzema, hingga Gareth Bale juga menjadi nilai tambah yang sulit dimiliki pelatih lain.
Kemampuan mengelola ego pemain bukan sesuatu yang bisa dipelajari melalui buku taktik. Itu lahir dari pengalaman, wibawa, dan kepercayaan yang diberikan para pemain kepada pelatihnya.
Dalam aspek inilah Zidane memiliki keunggulan. Para pemain cenderung menghormatinya bukan hanya karena statusnya sebagai pelatih, tetapi juga karena pencapaiannya sebagai legenda sepak bola.
Era Zidane Harus Menjadi Evolusi, Bukan Sekadar Melanjutkan Tradisi
Jika benar ditunjuk oleh Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), kesalahan terbesar yang bisa dilakukan Zidane adalah mencoba menjadi Didier Deschamps kedua.
Prancis memang memiliki fondasi yang kuat, tetapi sepak bola terus berkembang. Filosofi permainan yang berhasil lima tahun lalu belum tentu relevan untuk lima tahun ke depan.
Zidane perlu membawa identitasnya sendiri. Selama melatih Real Madrid, ia dikenal sebagai sosok yang fleksibel. Ia tidak terpaku pada satu sistem permainan, melainkan mampu menyesuaikan strategi berdasarkan karakter pemain yang dimiliki. Pendekatan seperti ini sangat cocok untuk tim nasional yang memiliki waktu persiapan terbatas.
Namun, perubahan tidak boleh dilakukan secara drastis.
Deschamps telah meninggalkan organisasi permainan yang solid dan budaya kemenangan yang kuat. Tugas Zidane bukan menghancurkan fondasi tersebut, melainkan mengembangkannya agar Prancis tetap kompetitif menghadapi generasi baru sepak bola dunia.
Pandangan Zlatan sekali lagi terasa relevan. Les Bleus tidak membutuhkan revolusi besar dalam pemilihan pemain. Mereka membutuhkan pelatih yang mampu menciptakan lingkungan kompetitif, menjaga keseimbangan antara pemain senior dan generasi muda, serta memastikan setiap individu rela mengorbankan kepentingan pribadi demi tim.
Pada akhirnya, masa depan Prancis tidak hanya bergantung pada siapa yang duduk di bangku pelatih, tetapi juga pada bagaimana sosok tersebut memimpin.
Jika FFF benar-benar mempercayakan proyek baru kepada Zinedine Zidane, mereka bukan sekadar menunjuk seorang mantan pemain terbaik dunia. Mereka sedang menyerahkan estafet kepada figur yang diharapkan mampu menjaga Prancis tetap berada di puncak sepak bola internasional.
Warisan Deschamps telah membangun fondasi yang kokoh. Kini tantangannya adalah membawa Les Bleus memasuki babak baru. Dan jika ada sosok yang memiliki karisma, pengalaman, serta legitimasi untuk melakukannya, nama itu hampir selalu mengarah kepada Zinedine Zidane.