facebook

Menyembuhkan Guru TBC

Ilham
Menyembuhkan Guru TBC
Ilustrasi Guru (Pexels/Andrea)

Sudah satu jam lebih saya lihat kakak di depan laptop. Dia sedang ikut webinar tentang cara membuat soal ulangan harian berbasis website. Ingin tertawa saya melihatnya. Bagaimana tidak? Kakak saya itu guru SD. Sementara setahu saya, dia penderita TBC. Biasanya penderita TBC seperti dia malas ikut acara seperti itu.

Tapi sepertinya tidak ada pilihan baginya. Beliau seorang guru. Sedangkan sekarang sedang dalam masa pandemi Covid-19. Jadi mau tidak mau, meskipun berpenyakit TBC, dia harus aktif dalam acara webinar seperti itu.

Agar tidak salah paham, perlu ditegaskan, TBC yang dimaksud disini bukan Tuberkulosis. TBC yang dimaksud adalah "Tidak Bisa Computer" (TBC). Bagi guru seperti kakak saya, TBC yang ini jelas berbahaya. Apalagi dalam masa pandemi Covid sebab dalam pandemi ini sekolah menerapkanPJJ.

PJJ itu kependekan dari Pendidikan Jarak Jauh. Dalam Pasal 1 UU RI Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), istilah ini didefinisikan dengan pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Dari definisi tersebut jelas PJJ perlu kemampuan guru dalam mengoperasikan berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat krusial. Tanpa kemampuan ini, proses pembelajaran yang dilaksanakan jelas tidak bisa optimal.

Dalam PJJ, papan tulis digantikan layar smartphone, komputer dan laptop. Kapur tulis dan spidol pun tergantikan keyboard dan keypad. Materi pelajaran yang biasa disampaikan secara langsung di depan kelas, otomatis disalurkan dengan berbagai slide aplikasi office dan multimedia. Dari sini jelas, kalau dalam PJJ guru harus menguasai software dan hardware dalam TIK. Seperti yang kakak saya lakukan itu.

Dia terlihat berusaha menjinakkan krusor mouse. Berkali-kali dia salah klik kanan dan kiri tapi segera dia punya inisiatif menekan tab back atau forward. Dengan sabar juga dia mengetik kata demi kata dengan sebelas jari. Dengan sabar juga dia mengulang-ulang video tutorial yang dibagikan dalam webinar itu dengan semangat membara.

Kasihan juga melihatnya seperti itu. Sempat terpikir untuk membantu agar pekerjaannya cepat selesai. Tapi keinginan itu saya tahan.

Bagi saya, setiap orang harus belajar sepanjang hayat. Tidak peduli oleh waktu dan usia harus terus berusaha memperbaiki diri jika dalam diri itu ditemukan kekurangan. Hal ini sudah jelas dinyatakan dalam UU sisdiknas.

Dalam pasal 4 ayat 3 UU Sisdiknas tersebut dinyatakan pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

Istilah peserta didik pada pasal di atas bukan sekedar mengacu pada siswa. Makna yang lebih luas dari istilah itu dapat diartikan peserta didik adalah siapa saja yang mau belajar dan yang sedang belajar. Jadi maksud frasa "siapa saja" tersebut sudah pasti guru juga sebagai individu yang belajar.

Meskipun begitu akhirnya saya dekati kakak. Dengan suara rendah saya motivasi dia dengan bilang begini.

"Pandemi Covid ini memang berbahaya. Meskipun begitu kita harus bersyukur karena dengan begitu para guru penderita TBC akan terus berusaha menyembuhkan penyakitnya itu. Sabar, Kak. Belajar itu sepanjang hayat. Tetap semangat dan jangan pernah menyerah. Percayalah jika kakak terus belajar dan berusaha, TBC yang kakak derita pasti akan sembuh juga. Semangat Kak! Belajar! Hanya itulah cara menyembuhkan guru TBC".

Kakak menatap saya tajam. Matanya melotot. Lalu dengan suara menggelegar dia menyalak: "TBC Ndasmu!"

Penulis : Ilham Wahyu Hidayat, Pendidik

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak