Kolom
Sarjana Pendidikan, tapi Tidak Mengajar: Mengapa Selalu Dipertanyakan?
Setelah lulus dari jurusan pendidikan, ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika bertemu orang lain: “Sekarang ngajar di mana?” Jika jawabannya belum atau tidak mengajar, biasanya muncul respons lanjutan yang tidak kalah familiar. “Loh, bukannya kamu kuliah pendidikan?” atau “Sayang dong kalau nggak jadi guru. Sayang ijazahnya. Sia-sia ilmunya.” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin terdengar sederhana, bahkan sekilas seperti basa-basi biasa. Namun, jika dipikirkan lebih jauh, pertanyaan tersebut menyimpan sebuah asumsi yang cukup kuat: lulusan sarjana pendidikan seharusnya menjadi guru di sekolah.
Asumsi ini memang tidak sepenuhnya keliru. Jurusan pendidikan sejak awal dirancang untuk mempersiapkan calon tenaga pendidik. Mahasiswa mempelajari berbagai teori belajar, metode mengajar, hingga menjalani praktik mengajar di sekolah. Oleh karena itu, tidak heran jika masyarakat menganggap bahwa jalur karier yang paling logis bagi lulusan pendidikan adalah menjadi guru.
Namun, persoalannya muncul ketika asumsi tersebut berubah menjadi ekspektasi yang terlalu sempit. Seolah-olah setelah lulus dari jurusan pendidikan, seseorang hanya memiliki satu pilihan karier yang dianggap “benar”, yakni mengajar di sekolah. Ketika ada lulusan yang memilih jalan berbeda, respons yang muncul sering kali berupa keheranan, pertanyaan, bahkan komentar bernada menyayangkan.
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada lulusan pendidikan. Lulusan jurusan lain juga sering mengalami hal serupa. Lulusan psikologi misalnya, kerap dianggap harus menjadi psikolog. Lulusan sastra sering diasosiasikan dengan profesi penulis. Begitu pula lulusan hukum yang kerap dipersepsikan akan menjadi pengacara atau hakim. Pola pikir semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat sering kali melihat jurusan kuliah sebagai jalur karier tunggal yang harus diikuti oleh para lulusannya.
Padahal, kenyataan setelah lulus dari bangku kuliah sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan lurus antara jurusan dan profesi. Banyak faktor yang memengaruhi pilihan karier seseorang. Minat dan passion bisa berubah seiring waktu. Peluang kerja yang tersedia juga tidak selalu sama bagi setiap orang. Ada pula yang sebenarnya ingin mengajar, tetapi belum mendapatkan kesempatan yang tepat.
Di sisi lain, tidak sedikit pula lulusan pendidikan yang menemukan potensi dan ketertarikan di bidang lain. Ada yang bekerja di lembaga pelatihan, menjadi pengembang media pembelajaran, menulis buku atau materi edukasi, hingga menjadi kreator konten yang membagikan pengetahuan melalui berbagai platform digital. Meskipun tidak berdiri di depan kelas sekolah, aktivitas-aktivitas tersebut tetap berkaitan dengan proses belajar dan berbagi ilmu.
Hal ini menunjukkan bahwa esensi dari pendidikan sebenarnya tidak selalu terbatas pada ruang kelas. Pendidikan pada dasarnya adalah proses membantu orang lain belajar, memahami sesuatu, dan berkembang melalui pengetahuan. Dalam konteks ini, peran seorang pendidik bisa hadir dalam banyak bentuk dan ruang yang berbeda.
Perkembangan teknologi dan dunia digital bahkan semakin memperluas ruang tersebut. Saat ini, banyak orang belajar melalui video edukasi, artikel di internet, kelas daring, hingga berbagai komunitas belajar yang muncul di berbagai tempat. Proses belajar tidak lagi hanya terjadi di sekolah formal. Dengan demikian, peran orang-orang yang memiliki kemampuan pedagogis juga tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk mengajar di sekolah.
Lulusan sarjana pendidikan memiliki bekal yang cukup penting dalam hal ini. Selama kuliah, mereka mempelajari bagaimana cara menyampaikan materi, menyusun proses pembelajaran, serta memahami bagaimana seseorang dapat belajar secara efektif. Keterampilan semacam ini sebenarnya sangat berguna di berbagai bidang, tidak hanya di sekolah.
Karena itu, rasanya kurang tepat jika pilihan karier lulusan sarjana pendidikan yang tidak mengajar selalu dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Setiap orang memiliki perjalanan dan pertimbangannya masing-masing dalam menentukan arah hidupnya setelah lulus dari perguruan tinggi. Selama ilmu yang dimiliki tetap dimanfaatkan dan memberikan manfaat bagi orang lain, pilihan tersebut seharusnya tetap layak dihargai.
Pertanyaan seperti “ngajar di mana?” atau pertanyaan serupa lainnya mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang dari percakapan sehari-hari. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin sekadar bentuk rasa ingin tahu atau basa-basi yang tidak bermaksud apa-apa. Namun, mungkin ada baiknya kita juga mulai melihat bahwa lulusan dari sebuah jurusan tidak selalu harus berjalan pada satu jalur yang sama.
Menjadi lulusan sarjana pendidikan tidak selalu berarti harus mengajar di sekolah. Ada banyak cara untuk tetap berkontribusi dalam dunia pendidikan dan berbagi ilmu kepada orang lain. Pada akhirnya, yang lebih penting bukanlah seberapa linear pekerjaan seseorang dengan jurusan kuliahnya, melainkan apakah ilmu yang dimilikinya tetap dapat memberi manfaat bagi orang lain. Sebab apa pun pilihan karier seseorang setelah lulus, hal itu tetap layak dihargai tanpa perlu dihakimi.