facebook

Sianida, Kasus Kriminal, dan Ilmu Forensik

Radhityana Utami
Sianida, Kasus Kriminal, dan Ilmu Forensik
Ilustrasi racun [Shutterstock/pzAxe]

Sianida The Series yang ditayangkan oleh WeTv mulai 25 Agustus 2021 lalu membawa pikiran saya kembali ke kasus yang sempat menjadi pusat perhatian publik beberapa tahun silam. Apalagi kalau bukan kasus racun sianida yang dimasukkan ke dalam es kopi Vietnam.

Wayan Mirna Salihin (27), seorang desainer grafis, tersungkur dan kejang-kejang dengan mulut berbusa sesaat setelah meminum es kopi Vietnam yang dipesankan oleh temannya, Jessica Wongso. Mirna pun dibawa ke Rumah Sakit Abdi Waluyo, tetapi nyawanya tidak tertolong lagi.

Dari hasil otopsi, ditemukan bahwa adanya perdarahan lambung dikarenakan oleh zat korosif  yang merusak mukosa lambung. Dari hasil toksikologi, ditemukan bahwa zat korosif yang merenggut nyawa Mirna adalah racun sianida sebanyak 15 gram.

Sianida ditemukan dalam sampel es kopi Vietnam yang diminum oleh Mirna. Dari hasil-hasil temuan penyidik, akhirnya ditetapkan Jessica Wongso sebagai pembunuh Wayan Mirna Salihin.

Bukti-bukti yang didapat penyidik tidak lepas dari penggunaan ilmu forensik. Temuan perdarahan lambung didapat melalui ilmu patologi forensik. Temuan racun sianida dalam es kopi dan dalam tubuh Mirna didapat melalui ilmu toksikologi forensik. Temuan data-data digital seperti chat dan rekaman CCTV didapat melalui ilmu digital forensik.

Nah, apa sih penjelasan ilmu-ilmu itu? Mari kita bahas satu-persatu

1. Patologi Forensik 

Adalah ilmu yang melakukan pembuktian penyebab kematian melalui pemeriksaan mayat korban, misalnya memeriksa luka untuk mengidentifikasi senjata yang menyebabkan luka tersebut. Ilmu ini dapat menyimpulkan apakah kematian tersebut terjadi secara alami, kecelakaan, atau terjadi karena tindak kriminal.

2. Toksikologi Forensik 

Adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan efek berbahaya suatu zat kimia atau racun. Cabang ilmu ini penting dalam membantu pemecahan kasus keracunan, kecelakaan lalu-lintas, dan kekerasan seksual.

3. Digital Forensik

Adalah salah satu cabang ilmu forensik yang menelaah jejak-jejak dan konten perangkat digital. Data-data seperti pesan digital, akun-akun sosial media, dan juga data dari CCTV dianalisa oleh ahli digital forensik.

4. Kriminalistik

Menurut Locard, seluruh kejadian meninggalkan jejak. Ilmu ini dapat menemukan hubungan antara kasus dan pelaku dari bukti bukti yang ditinggalkan di tempat kejadian perkara atau TKP.

5. Odontologi Forensik

Adalah ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi segala bentuk bukti yang didapat dari gigi dan mulut, yang nanti akan dijadikan barang bukti pada peradilan. 

6. Psikologi Forensik

Adalah aplikasi psikologi dalam ranah hukum. Ahli psikologi forensik memelajari para pelaku kriminal untuk mendapatkan profil perilaku, kepribadian, dan masalah psikis dari pelaku tersebut.

7. Balistik Forensik

Balistik forensik menganalisis bukti yang berhubungan dengan senjata api dan peluru. Ilmu ini menginvestigasi kasus yang melibatkan senjata api dan dapat menentukan jenis senjata apa yang digunakan, jarak tembakan, kecepatan tembakan, sudut tembakan dan menentukan pelaku penembakan.

8. Antropologi Forensik

Antropologi forensik memeriksa mayat atau tulang belulang untuk membantu mengidentifikasi dan menentukan penyebab kematian. Ahli antropologi dapat menentukan usia, jenis kelamin, dan suku melihat dari tulang belulang tersebut.

Ilmu-ilmu forensik ini sangat diperlukan untuk membantu pemecahan suatu kasus, tidak terbatas pada pembunuhan saja. Dalam kasus-kasus lain juga sangat diperlukan untuk mempercepat pemberian keadilan bagi korban.

(Radhityana/Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Univ. Airlangga)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak