Film Rumah Tanpa Cahaya: Drama Keluarga yang Sederhana dan Menyayat Hati

Bimo Aria Fundrika | Ryan Farizzal
Film Rumah Tanpa Cahaya: Drama Keluarga yang Sederhana dan Menyayat Hati
Potret John Herdman. (pssi.org)

Film Indonesia tahun 2026 yang berjudul Rumah Tanpa Cahaya langsung menyita perhatian sejak trailer pertamanya dirilis. Disutradarai oleh Ody Harahap dan diproduksi oleh Citra Sinema bersama SinemArt, film drama keluarga ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 12 Februari 2026.

Baru sehari setelah rilis, penonton sudah ramai membagikan kesan haru di media sosial. Dengan durasi 102 menit dan rating R13, Rumah Tanpa Cahaya bukan sekadar hiburan akhir pekan, melainkan pengingat yang menusuk tentang arti sebuah keluarga—khususnya sosok ibu yang sering kita anggap biasa saja hingga ia tak lagi ada.

Kepergian yang Mengubah Segalanya

Salah satu adegan di film Rumah Tanpa Cahaya (Instagram/rumahtanpacahaya_movie)
Salah satu adegan di film Rumah Tanpa Cahaya (Instagram/rumahtanpacahaya_movie)

Cerita berpusat pada keluarga Qomar (Donny Damara), seorang ayah yang bekerja keras mengelola warung empal gentong bersama istrinya, Nurul (Ira Wibowo). Nurul adalah cahaya sejati rumah tangga itu. Ia bukan hanya ibu yang penuh kasih bagi dua putranya—Samsul (Ridwan A. Ghany) dan Azizi (Lavicky Nicholas)—tapi juga tulang punggung yang mengurus segalanya: dari masakan hangat di meja makan hingga doa malam yang tak pernah putus.

Warung mereka selalu ramai, bukan karena menu istimewa semata, melainkan karena kehangatan yang Nurul tanamkan. Akan tetapi, segalanya berubah drastis setelah Nurul meninggal dunia secara mendadak. Rumah yang dulu penuh tawa kini sunyi.

Qomar tenggelam dalam kesepian, sementara Samsul dan Azizi mulai saling menjauh, terjebak dalam konflik yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tanpa resep rahasia ibu mereka, warung pun terancam gulung tikar. Film ini mengikuti perjalanan mereka yang penuh perjuangan untuk bertahan, berdamai dengan duka, dan mencoba menemukan kembali cahaya yang hilang.

Apa yang membuat Rumah Tanpa Cahaya begitu kuat adalah kesederhanaannya yang luar biasa. Skenario yang ditulis oleh tim solid—termasuk Deddy Mizwar sebagai salah satu penulis utama—tak pernah memaksakan drama berlebihan.

Konfliknya ringan, dialognya membumi seperti obrolan keluarga Indonesia sehari-hari, dan ritme cerita sengaja dibuat pelan. Adegan-adegan hening justru jadi senjata utama. Kita melihat Qomar duduk sendirian di teras rumah, atau Azizi yang diam-diam menangis di kamar, tanpa musik latar yang bombastis.

Emosi itu datang pelan tapi pasti, seperti air yang meresap ke dalam tanah. Pada press screening di XXI Epicentrum Jakarta, banyak penonton yang tak kuasa menahan air mata, termasuk aku sendiri. Film ini berhasil membuat kita merenung: berapa banyak perhatian kecil dari ibu yang kita abaikan selama ini?

Review Film Rumah Tanpa Cahaya

Salah satu adegan di film Rumah Tanpa Cahaya (Instagram/rumahtanpacahaya_movie)
Salah satu adegan di film Rumah Tanpa Cahaya (Instagram/rumahtanpacahaya_movie)

Akting para pemain menjadi pilar utama kesuksesan film ini. Ira Wibowo sebagai Nurul adalah jiwa dari cerita. Meski kehadirannya di layar tak terlalu lama, ia berhasil menciptakan kesan yang begitu mendalam. Nurul digambarkan sebagai ibu tangguh yang diam-diam kuat, penuh pengorbanan tanpa pernah mengeluh. Ira memerankannya dengan natural, tanpa melodrama berlebih, sehingga kita benar-benar merasakan kekosongan yang ditinggalkannya.

Donny Damara sebagai Qomar juga luar biasa. Ia tak perlu teriak-teriak untuk menyampaikan kesedihan. Ekspresi wajahnya yang tertahan, gerak-geriknya yang lambat, semuanya terasa autentik sebagai seorang ayah yang tiba-tiba kehilangan pasangan hidup sekaligus mitra terbaiknya. Lavicky Nicholas dalam debut filmnya sebagai Azizi memberikan penampilan yang personal dan menyentuh.

Karakternya yang sedang belajar ikhlas terasa begitu nyata, terutama karena Lavicky sendiri mengaku cerita ini dekat dengan ketakutannya kehilangan ibu. Ridwan A. Ghany sebagai Samsul juga solid, membawa nuansa konflik remaja yang sedang mencari jati diri. Pendukung seperti Dea Annisa, Ence Bagus, dan Galabby Thahira turut memperkaya dengan sentuhan komedi ringan yang pas, meredakan ketegangan tanpa mengganggu nuansa dramatis.

Secara teknis, Ody Harahap memilih pendekatan yang sederhana dan fungsional. Sinematografi tak mencolok, lebih fokus pada close-up wajah dan interior rumah yang semakin terasa sempit seiring konflik bertambah. Ini pilihan cerdas, karena membuatku dan penonton yang lain benar-benar masuk ke dalam rumah itu.

Penggunaan lagu Doa untuk Ibu dari Ungu memang sedikit manipulatif, tapi efektif sekali untuk membangun nostalgia. Editing juga rapi, meski durasi 102 menit terasa sedikit panjang di bagian tengah ketika konflik mulai berulang. Beberapa subplot, seperti karakter Aura yang diperankan Dea Annisa, terasa agak menyimpang dan kurang dieksplorasi dalam, sehingga membuat fokus cerita sedikit terganggu.

Jadi bisa kusimpulkan, Rumah Tanpa Cahaya adalah film yang jujur dan humanis. Ia tak berpretensi jadi karya sinema revolusioner, tapi berhasil menyentuh hati jutaan keluarga Indonesia yang pernah merasakan kehilangan serupa.

Tema utamanya tentang pentingnya menghargai orang tua sebelum terlambat, tentang bagaimana cinta ibu tetap hidup meski raganya telah pergi, dan tentang proses penyembuhan yang tak selalu indah tapi selalu mungkin. Di tengah maraknya film horor dan komedi slapstick, film seperti ini adalah napas segar yang sangat dibutuhkan.

Bagi yang sedang mencari tontonan bersama keluarga, Rumah Tanpa Cahaya adalah pilihan tepat. Ajak orang tua, saudara, atau pasanganmu ya Sobat Yoursay. Kantongin tisu deh di saku, karena air matamu bakal keluar tak terhindarkan.

Tapi lebih dari itu, film ini akan membuatmu pulang dengan hati yang lebih hangat dan tekad untuk lebih sering bilang terima kasih pada ibu. Rating dariku: 7,5/10. Bukan film sempurna sih, tapi sangat layak ditonton—terutama di bulan Februari ini, saat kita semua butuh pengingat untuk merangkul orang-orang tercinta sebelum cahaya itu benar-benar padam.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak