facebook

Budaya Literasi sebagai Fondasi Toleransi

al mahfud
Budaya Literasi sebagai Fondasi Toleransi
Ilustrasi pembelajaran tatap muka di masa pandemi (Pixabay) / Alexandra_Koch

Kita tahu literasi adalah kunci membangun masyarakat "melek" aksara. Lebih jauh, literasi adalah dasar menumbuhkan masyarakat kritis, cerdas, dan berwawasan luas. Dengan tingkat literasi yang tinggi, seseorang tidak hanya punya wawasan luas, tapi juga punya sikap kritis dan kekayaan perspektif. 

Masyarakat yang punya budaya literasi kuat adalah masyarakat yang selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi, punya spirit dan gairah untuk terus belajar dari berbagai sumber, mencari, mengkaji, menganalisis, dan seterusnya. 

Dari sanalah literasi membuahkan keluasan wawasan, ketajaman analisis, kritis, dan kekayaan perspektif. Kita sadar bahwa sikap kritis dan kekayaan perspektif adalah modal untuk menciptakan kehidupan sosial yang toleran dan saling menghargai. 

Kesadaran bertoleransi menjadi hal paling mendasar jika kita berbicara tentang bagaimana membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai. Apalagi, bagi bangsa majemuk yang kaya perbedaan seperti Indonesia

Sumber terbangunnya sikap toleran bisa dari berbagai hal. Kita mungkin bisa berpendapat bangsa Indonesia sejak dahulu, dari akarnya sudah merupakan bangsa yang toleran dan mudah menerima perbedaan. 

Buktinya, di antaranya, masyarakat Nusantara adalah masyarakat pecinta damai yang mengutamakan keselarasan hidup dan cenderung “welcome” pada bangsa pendatang. Jadi, kita bisa mengatakan bahwa secara karakter, masyarakat Indonesia cenderung toleran. 

Akan tetapi, itu tidak boleh membuat kita mengendorkan upaya-upaya untuk terus merawat dan menguatkan toleransi di tengah kehidupan masyarakat. Terlebih, di tengah era keterbukaan informasi sekarang, semakin banyak “gempuran” yang datang membawa virus-virus intoleransi yang mengancam karakter dan jati diri bangsa kita yang toleran. 

Misalnya, kedatangan paham radikal terorisme atau paham ekstremisme agama yang merambah berbagai lini kehidupan masyarakat, sehingga memunculkan orang-orang intoleran, gemar melakukan kekerasan, hingga melakukan aksi teror. 

Melihat bahaya tersebut, jelas penting untuk terus menguatkan dan membangun toleransi di tengah masyarakat. Upaya membangun dan menguatkan toleransi ini seiring sejalan dengan penguatan literasi di masyarakat. 

Literasi adalah dasar membangun masyarakat cerdas dan berwawasan luas. Berbekal kecerdasan dan keluasan pengetahuan, literasi pada gilirannya akan mengasah kedewasaan dan kebijaksanaan. Makin luas ilmu seseorang, semakin ia memiliki kekayaan perspektif atau sudut pandang dan semakin terbiasa memandang perbedaan, sehingga tidak gampang menyalahkan dan menghakimi pandangan lain yang berbeda. 

Lebih dalam lagi, keluasan pengetahuan dan kekayaan perspektif tersebut bila terus diasah akan membuahkan ketajaman emosi, tumbuhnya rasa empati, dan tumbuhnya kerendahan hati. Jika seseorang telah sampai di tingkatan empati dan rendah hati ini, ia akan dengan sendirinya menjadi toleran. 

Kita pun bisa menyimpulkan bahwa literasi adalah fondasi terbangunnya toleransi. Semakin kuat budaya literasi di masyarakat, semakin besar rasa toleran di antara sesama. Seperti kata Gus Dur, “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransinya”.

Maka, semakin jelas bahwa upaya-upaya menguatkan literasi selalu penting dilakukan dalam rangka memberantas virus-virus intoleransi. Pengaruh-pengaruh paham intoleran, radikal, dan ekstremisme yang mengancam keharmonisan, hanya bisa dilawan ketika masyarakat sudah memiliki “imunitas” atau daya tahan berupa sikap toleran. Dan imunitas tersebut pertama-tama dibangun dengan penguatan literasi. 

Penguatan literasi adalah kerja yang tidak instan. Tak bisa dilihat hasilnya hanya dalam satu dua tahun. Ia harus benar-benar dibangun secara konsisten, dilakukan seluruh elemen masyarakat, berkelanjutan, sehingga menjadi kebiasaan (budaya) di masyarakat. Orang tua melalui pendidikan dalam keluarga, guru di sekolah, tokoh agama, para pemimpin, tokoh masyarakat, semua harus bergerak membangun budaya literasi di lingkungan masing-masing. 

Bentuk kontret dari penguatan literasi adalah dengan membangun kebiasaan membaca buku, surat kabar, majalah, hingga sumber-sumber bacaan lainnya. Selain itu, penguatan literasi juga bisa dibentuk dengan membiasakan untuk berdiskusi, bertukar pikiran, belajar menganalisis, hingga menulis atau menuangkan gagasan atau pemikiran. 

Dunia baru saja memeringati Hari Toleransi Internasional pada 16 November 2021 kemarin. Toleransi adalah hal yang harus terus dirawat dan ditumbuhkan dalam kehidupan bersama. Salah satu fondasi untuk menumbuhkan sikap toleran adalah dengan menguatkan budaya literasi di masyarakat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak