Kolom
Sekelumit Cerita Tentang Kesenian Trunthung, Musik Tradisi di Desa Warangan
Salah satu kesempatan yang tidak terukur bahagianya dalam kehidupan saya adalah melakoni Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Sebuah desa bersuhu dingin, dengan embun di setiap pagi dan sandyakala.
Berada di lereng Gunung Merbabu menjadikan desa ini mampu menduduki status spesial bagi saya. Desa yang menjadi tempat kali pertama Festival Lima Gunung (FLG) digelar ini memang sarat akan budaya. Berbagai macam ritus diadakan secara rutin: AUM panen, AUM tandur, Nyadran Kali, Saparan, dan berbagai ritus lain. Masyarakat di sana menganggap bahwa kesenian tidak akan mati di Desa Warangan.
Anggapan tersebut tentu tidak sembarangan adanya. Hal ini dikarenakan setiap kali ada ritus, apalagi Saparan, terdapat kesenian wajib yang akan dipertontonkan, yakni Tarian Soreng. Sebuah tarian khas yang menjadi primadona di desa tersebut. Terlepas dari tarian wajib, kesenian lain juga akan tersaji dengan begitu runtut: Tari Topeng Ireng, Janthilan, dan banyak lagi.
Salah satu yang menarik bagi saya adalah Kesenian Trunthung. Sebuah kesenian yang berpadu antara gamelan dan terbangan. Perpaduan dari ke duanya begitu ritmis, juga bunyi dari perpaduan keduanya tidak saling mendominasi. Hasilnya, keharmonian bunyi mampu tercipta dalam kesenian ini.
Perlakuan akan penggunaan terbangan juga menjadi berbeda dari kebanyakan instrumen terbang. Sebab, terbang ditabuh menggunakan stik bambu. Awalnya, Kesenian Trunthung berfungsi sebagai pengiring dari Tari Soreng. Karena status Tari Soreng yang menjadi tarian wajib ketika ritus dilakukan, kesenian inipun turut untuk dimainkan.
Kiranya musik Trunthung sudah menubuh terhadap masyarakatnya, sebelum menjadi bentuk kesenian mandiri. Sehingga, akses akan menjadikan kesenian mandiripun terbuka lebar.
Menurut Handoko, beralihnya atau bertambahnya fungsi dari kesenian ini digagas oleh Sutanto Mendut dan Eko Sunyoto pada tahun 2002. Hingga kini, kesenian ini masih terus hidup, bahkan mampu menembus generasi yang baru, yang melahirkan kemungkinan bahwa kesenian ini akan terus hidup.
Perlakuan
Kesenian Trunthung menjadi sebuah cawan peleburan antara gamelan dan terbangan, tidak saling mendominasi dan unggul, sehingga keharmonisan terjalin di dalamnya. Cara memainkan instrumen terbang (sekarang menjadi rebana kecil) juga berbeda dari kebanyakan, yakni dipukul menggunakan stik bambu.
Tentu, warna suara yang dihasilkan akan menjadi berbeda. Dalam memainkan rebana, terdapat minimal 8 orang. Pola tabuhannya cenderang uni sound, sehingga hentakan dari rebana terlampau keras.
Peristiwa atas perlakuan rebana tersebut kiranya menjadi sebuah peristiwa adaptasi terhadap masyarakatnya. Masyarakat Warangan cenderung berada dalam lingkaran kerakyatan, sehingga bunyi yang keras menjadi prioritas akan keseniannya. Selain itu, warna suara yang dibutuhkan dari rebana tentu menjadi perhitungan, mengingat rebana-rebana ini tidak bermain secara tunggal, ia mengisi dan menjadi ritme melodis dari gamelan.
Ketika rebana ini diperlakukan secara sama: ditabuh dengan tangan, kiranya warna suara yang dihasilkan akan sama dengan keberadaan bunyi Kendhang Ciblon, Kendhang Ketuplak, atau bahkan Bedhug. Atas perlakuan berbeda yang diberikan, rebana memberikan warna suara berbeda dari instrumen lain di dalam satu ansambelnya.
Secara implisit, peristiwa tersebut menjadi sebuah kejeniusan tersendiri. Hal ini dikarenakan adanya perhitungan warna suara dalam pemilihan satu ansambel. Perbedaan warna suara inilah yang kiranya akan melahirkan harmoni, selain sajian repertoar.
Meskipun dalam lingkar frekuensi yang sama, rebana melahirkan warna bunyi yang berbeda. Bisa dibayangkan jika warna bunyi dari rebana sama dengan Kendhang Ciblon atau Kendhang Ketuplak, tentu karakter dari bunyi rebana akan bertabrakan dengan kedua Kendhang.
Hal ini tidak akan dijumpai dalam Musik Trunthung. Sebab, rebana memiliki warna suara yang berbeda dari instrumen lain. Berawal dari perlakuan atau sebaliknya, tetapi secara subyektif perlakuan ini menjadi kejeniusan tersendiri.
Ikatan
Di Jawa, banyak terjadi peristiwa ikatan antara kepercayaan dan sebuah kesenian. Misalnya, setiap Bulan Suro di sebuah desa harus nanggap wayang kulit, jikalau tidak, akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Kemudian, di malam Jumat Kliwon gamelan di pendopo suatu desa harus ditabuh, jikalau tidak, akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Sama halnya dengan Tari Soreng di Desa Warangan. Setiap kali ada ritus Saparan, tarian Soreng harus dilakukan, jika tidak, akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.
Mitos-mitos tersebut tentu sering ditemui di berbagai daerah. Mitos tersebut akhirnya menjadi keyakinan masyarakatnya. Atas keyakinan tersebut, akhirnya kesenian tertaut dinunaikan. Penunaian akan keyakinan yang dianut menjelma menjadi sebuah ikatan.
Misalnya, Saparan identic dengan Tari Soreng, Suran identic dengan Wayang Kulit. Pun begitu, terdapat nilai yang dapat dicerap atas peristiwa tersebut: akan tetap lestarinya kesenian yang dinunaikan.
Pada peristiwa saparan, Tari Soreng kiranya akan lestari; benar adanya jika kesenian di sana tidak akan mati, khususnya Tari Soreng. Hal inipun menjadikan Kesenian Trunthung lestari pula, mengingat iringan dari Tari Soreng adalah musik Trunthung.
Selain itu, terdapat pengecualian terhadap Desa Warangan. Pasalnya, setiap kali ritus Saparan digelar, masyarakat Warangan akan menampilkan kesenian-kesenian yang ada di sana. Memang, pada saat ritus yang dimainkan adalah Tari Soreng. Namun, seusai ritus dilakukan, terdapat arena pertunjukan untuk kesenian lain, termasuk Musik Trunthung itu sendiri. Pada saat saya mengunjungi Desa Warangan, ritus Saparan menjadi sebuah pesta bagi desa tersebut.
Adanya nilai yang hidup di Desa Warangan, menjadikan desa ini masyur akan adat, tradisi, dan kebudayaannya. Dengan status yang disematkan oleh kebanyakan orang tersebut, kesadaran untuk menjaga nilai-nilai yang sudah adapun menjadi kesadaran kolektif masyarakatnya. Dengan begitu, kesenian akan terjaga kelestariannya, termasuk Kesenian Trunthung. Musik lahir mengiringi kebutuhan masyarakatnya, dengan begitu musik ini akan senantiasa dibutuhkan dan akhirnya lestari.
Kehidupan masyarakat Desa Warangan yang tersemati ihwal keseniannya, memperlakukan nilai itu. Nilai atas kehidupan yang kompleks, tidak terpisah dan terpilah menjadi kotak-kotak kecil. Kekomplekan inilah yang kemudian menjadi sebuah rajutan atas kotak-kotak kecil itu. Adanya rajutan tersebut menjelma menjadi sebuah penjagaan atas karunia yang diberikan kepada Desa Warangan.
Kiwari, musik Trunthung meluas dengan sayapnya. Ia menembus gedung, menembus desa, dan menembus batas-batas ketradisionalan. Kelesetarian dari Musik Trunthung tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Desa Warangan saja, melainkan berubah menjadi tanggungjawab bersama. Sebab, musik ini telah dimiliki oleh banyak tempat.
Dari pola kehidupan kesenian masyarakat warangan, kita dapat belajar bahwa ikatan tidaklah menjadi beban, melainkan menjadi sebuah koridor. Kesadaran akan nilai ikatan menjadi sebuah metode dalam melestarikan sebuah kesenian. Semoga nilai ini menyebar, kemudian kesenian menjadi lestari/