facebook

Riwayat Lagu Anak

Supriyadi Bas
Riwayat Lagu Anak
Ilustrasi Anak (pixabay.com)

Berawal dari pengalaman emperik mengenai ihwal lagu anak, barangkali menjadi ihwal bersama yang tak kunjung habis diperbincangkan. Menyaksikan anak-anak tumbuh menjadi makhluk individual dengan telepon pintar di genggamannya menumbuhkan rasa prihatin yang mendalam. Suatu waktu, di seberang rumah terdapat seorang anak perempuan. Usianya berkira 9 tahun. Ia memegang es krim di tangan kirinya. Sedang, tangan kanan memegang telepon pintar keluaran terbaru. Dengan riangnya, ia berteriak menyanyikan lagu Denny Caknan yang bertajuk Los Dol. 

Peristiwa serupa juga terjadi di lain waktu. Ketika itu, terdapat kereta kelinci yang setiap hari lewat di depan rumah. Dengan membayar Rp 3.000, kereta ini akan mengajak penumpang keliling desa. Dalam kereta tersebut, akan dimainkan lagu-lagu penghibur untuk para penumpang. Lagu yang dimainkan sepanjang perjalanan kereta kelinci ini adalah dangdut. Seusai kereta kelinci ini berkeliling, anak-anak yang turun dari kereta dengan bahagianya menyanyikan lagu yang baru saja didengarnya.

Peristiwa earworm begitu menyala dalam aktivitas tersebut. Tentu bukan salah atas lagu yang dimainkan ataupun lagu yang didengarkan. Namun, patut untuk direnungkan ihwal generasi negeri ini yang agaknya tercekokki oleh lagu-lagu bukan pantarannya. Seringkali terjadi anak-anak menyuarakan romantika cinta, patah hati yang disandung, yang bahkan mereka belum pernah menemui perasaan itu. Barangkali, hal ini tidak boleh diabaikan. 

Dipaksa Dewasa

Jejak mengenai lagu anak yang sudah ada, kiranya mampu dijadikan “kereta kelinci” untuk bernostalgia ke masa silam. Lirik yang mudah diingat, perjalanan musikal yang mudah terngiang, dan yang krusial tema lagu yang menandakan kesederhanaan berpikir. Dalam peristiwa kereta kelinci, pemilihan lagu untuk porsi berpikir anak tentu patut dipertimbangkan. Pemberian lagu yang tidak sesuai dengan porsi berpikir, barangkali akan memaksakan kedewasaan berpikirnya.

Di waktu sekarang, barangkali akan menjadi sebuah keriangan menyaksikan anak-anak mengumandangkan nyanyian “Abang Tukang Bakso”. Anak-anak yang memang suka jajan, anak-anak yang akan segera bergegas ketika mendengar bunyi piring yang mendenting, serta anak-anak yang akan merengek ketika tidak dituruti pintanya benar-benar melatari kumandang lagu ini. Selain itu, lagu ini agaknya mewakili anak-anak dalam menuangkan perasaannya ketika ada tukang bakso yang lewat. Sederhana, keseharian, dan keriangan begitu terasa.

Ataupun menyuarakan lagu “Balonku ada Lima”. Ketika lirik “meletus balon hijau, deeeeeer!”, kita akan menyaksikan hentakan kebahagiaan yang dirasa oleh anak-anak. Respon pura-pura kaget dari orang tua ketika sang anak mengucap “deeeeer!” menjadi sebuah interaksi yang kiwari tidak lagi tampak.

Belum lagi ketika anak-anak menyanyikan lagu-lagu daerah yang sarat akan pengajaran moral. Misalnya lagu “Kuwi Opo Kuwi” yang popular di Jawa Tengah. Dalam lagu ini, upaya mendidik untuk tidak korupsi begitu gamblang dicurahkan. Ataupun lagu uyang bertajuk “Gugur Gunung” yang begitu menekankan tentang sikap gotong-royong. 

Agaknya, lagu anak-anak tidak boleh diabaikan. Sebab, lagu menjadi salah satu indikator pembentuk karakter sang anak. Keironian begitu tampak saat ini. Ketika anak-anak menyanyikan lagu-lagu ikatan cinta. Ataupun lagu-lagu pop daerah seperti “angel”, “satru”, ataupun lagu lainnya. Tentu, keriangan juga akan tampak dalam mimic wajahnya. Namun, tentu dampak gema lagu-lagu tersebut patut diperhatikan.

Seringkali kita menyaksikan anak-anak yang dengan bangga unjuk gigi dengan unggahannya di media sosial yang kiranya kurang beretika. Kemudian, ucapan yang seringkali tidak seyogyanya sebagai anak kecil. Bahkan dalam berbagai penelitian, dampak lagu dewasa ini memengaruhi di lini psikis juga fisik dari si anak. Kiranya, lagu yang belum porsinya diberikan akan memaksa penerima untuk mengunyahnya. Meskipun, hal tersebut diterima dengan tidak sadar. 

Upaya

Peristiwa tertaut kiranya juga dialami oleh kebanyakan anak-anak. Selain itu, peristiwa tersebut juga memberikan tanda bahwa lagu anak kian usang. Alih-alih diaktualkan, peristiwa mutakhir malah mempertegas ihwal usangnya lagu anak. Kiranya upaya-upaya penciptaan lagu anak sudah dilakukan oleh berbagai unsur, namun hal ini tentu tidak akan memperbaiki jika tidak ada pendampingan dari orang terdekat.

Agaknya, tugas untuk mengembalikan lagu-lagu ini adalah tugas bersama. Barangkali, peristiwa tentang tulisan yang ada di TV menjadi sebuah nilai yang patut untuk dinunaikan. Di layar TV, akan disaksikan tulisan R-BO, A-BO, D, ataupun SU. Tulisan ini menunjukan batasan umur pemirsa. Agaknya, pengkhidmatan ihwal aturan ini patut dinunaikan dalam lagu-lagu, khususnya lagu anak.

Bagi pendamping anak, terminal ihwal umur tentu perlu dibatasi dengan sendirinya oleh orang tua. Sehingga, ketika memberikan lagu terhadap anak dapat terkendalikan. Selain itu, ketika ada materi lagu yang kiranya dewasa, pendamping anak dapat mengarahkannya. Agaknya, pendampingan patut untuk dilakukan. Syahdan, dalam kasus kereta kelinci misalnya. Sudah seharusnya operator lagu dalam kereta kelinci sadar mengenai porsi lagu. Pemerjuangan terhadap generasi kiranya dapat dituangkan dalam hal-hal sederhana di sekitar. Mari kita lakukan bersama!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak