Salah satu hal yang mampu mendatangkan kebahagiaan adalah keberhasilan atau kesuksesan. Orang yang berhasil melakukan sesuatu pasti akan merasa bahagia. Orang yang sukses tentu juga akan merasa senang dengan sendirinya. Kebahagiaan merupakan puncak tertinggi dari kehidupan. Semua yang hidup pastilah menginginkan kebahagiaan.
Seseorang yang sedang bahagia akan cenderung melakukan hal yang lebih membahagiakan untuknya. Dia akan mencari atau menciptakan kebahagiaan lain sebagai menifestasi dari kebahagiaan sebelumnya.
Misalnya ada orang yang hidup di perkotaan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi menantang angkasa. Biasanya dia akan menikmati hari liburnya di tempat yang berbalik dengannya 180 derajat. Ia akan berkunjung ke pedesaan, atau tempat yang menyediakan panorama alam yang lebih menjanjikan seperti pantai, bukit, dan bahkan pegunungan. Sebaliknya orang yang hidup di lingkungan penuh pepohonan atau hamparan lautan, akan menghabiskan liburan di tempat yang memiliki aksen lebih mewah dan megah. Manusia ingin membebaskan dirinya dari dunia yang sebelumnya.
Secara individual memang tidak ada satupun manusia yang mau diatur-atur. Manusia ingin menjadi manusia, bukan manusia yang dimanusiakan. Manusia yang sepenuhnya manusia, manusia yang bebas tanpa diatur, dikungkung, diikat apalagi diperbudak. Ketika seseorang hidup di lingkungan penuh aturan yang ia rasa sangat mengekang, ia akan cenderung memberontak, melakukan perlawanan. Hal ini dikarenakan adanya fitrah kebebasan dalam diri manusia.
Kebebasan itu sendiri harus mencakup dua unsur pembentuk manusia, jasmani dan ruhani. Badan yang bebas berkeliaran namun hatinya tetap terpenjara dengan keadaan tidak bisa disebut bebas. Ia masih dihantui oleh kecemasan. Begitu juga dengan pikiran yang rileks namun orang tersebut mendapat kekangan, terbelenggu. Keduanya bukanlah kebebasan.
Maka demi memberikan ruang bebas bagi diri kita sendiri, kita perlu memberikan penghargaan kepadanya. Penghargaan yang membuatnya benar-benar berharga, terpenuhi kebutuhannya. Hal yang seperti itu biasa disebut dengan self reward.
Self reward dilakukan sebagai mentuk self love, mencintai diri sendiri. Self reward haruslah ada pada diri setiap orang. Namun masalahnya banyak orang yang lupa akan cinta pada diri sendiri. Orang lebih ingat untuk mencintai orang lain daripada mencintai diri sendiri.
Self reward berarti memberikan penghargaan berupa kebebasan pada diri. Menuruti apa pun yang ia mau. Butuh liburan ke pantai, misalnya, atau camping, jalan-jalan, atau sekedar tidur siang. Semuanya adalah bentuk self reward.
Namun jangan terpaku pada itu semua. Self reward tidak dilakukan hanya dengan rekreasi. Kadang ego kita berkata untuk segera menghabiskan waktu liburan dengan bermain-main, tapi jauh di dalam relung hati ada bersit komentar, “Tidak bukan itu yang aku mau”
Ketika kita mengalami hal seperti itu, maka pilihlah yang kedua. Jangan berpihak pada keinginan yang pertama. Karena justru yang demikian itu bukan self reward, ia malah tidak bebas.
Bebaskan dirimu untuk melakukan apa pun yang ia mau.
Dulu ada seorang teman yang mengajak saya untuk berlibur di suatu pantai, lantaran kita telah menyelesaikan tugas kepanitiaan suatu acara dengan sukses. Bahasaya sih untuk healing. Untuk self reward sebagai bentuk self love.
Saya tidak mengiyakan ajakannya. Meskipun saya menyukai pantai namun itu bukan momentum yang tepat untuk self reward. Saya memilih hal lain untuk self reward dan self love, yaitu tidak mengiyakannya. Saya bebaskan diri untuk memilih melakukan apa yang ia inginkan, tidak membiarkan ego mengalahkan suara hati hanya karena iming-iming kepuasan. Justru kalau saya liburan, saya akan menyesal.
Jadi inti dari self reward adalah: lakukan apa pun yang ingin engkau lakukan atau apa pun yang engkau cintai. Bebaskan dirimu!
Saya misalnya. Setelah membaca buku karya A. Fuadi berjudul “BUYA HAMKA”, saya sangat termotivasi untuk mulai menuangkan pikiran dengan menulis. Bagi saya menulis adalah ajang untuk memastikan tersimpannya data yang telah saya dapatkan sebelumnya dari hasil membaca. Saya tuliskan kembali apa yang saya baca dengan bentuk yang lebih kompleks. Dengan sedikit modifikasi dan diksi. Berbekal niat, tekat dan semangat yang kuat, tulisan pertama saya dianggap bagus dan berhasil di-publish di salah satu platform online.
Sebagai pemula, tentu saya sangat senang dengan hal itu. Walaupun hanya satu, namun itu membuat semangat saya semakin menggelora. Saya terus menulis dan menulis. Menjajal skill untuk menemukan jati diri. Meski saya bukan seorang mahasiswa jurusan bahasa dan sastra, saya mencintai dunia tulis menulis. Sejak akhir Juni hingga saat ini, sudah ada empat tulisan saya yang telah di-publish.
Lantas apa yang saya lakukan sebagai bentuk self reward?
Saya tidak pergi ke suatu tempat wisata, tidak juga merogoh kocek lebih dalam untuk mencicipi makanan mahal. Saya buka kembali laptop dan kembali menulis.
Mungkin sebagian orang berpikir “nulis lagi nulis lagi, emang gak bosen?”
Memang benar saya habiskan waktu luang dengan menulis, walau tulisan yang sebelumnya belum di-publish. Tapi apakah saya tidak bosan? Apakah saya tidak merasa jenuh dengan terus menulis? Tentu tidak, karena justru itulah bentuk self reward saya. Membiarkan raga dan jiwa ini bebas untuk terus menulis. Saya bebaskan diri untuk menuruti keinginan hati.
Badan saya kadang sudah lelah. Mata saya kadang sudah tak kuat menahan payah. Namun hati saya terus berkata, “Ayo, menulislah!”
Sebagaimana penyakit bisa datang dari pikiran, hati akan menjadi obat yang menyembuhkan. Itulah kekuatan hati. Hati itu sebagai amunisi. Hati itu pion penting dari unsur pembentuk diri sejati. Disaat seluruh anggota badan dan bahkan akal sudah tak mau bertindak lebih jauh lagi, hatilah satu-satunya yang mempu membangkitkan kita kembali untuk berdiri.
Satu hal lagi yang perlu dipahami bahwa self reward tidak hanya dilakukan setelah melakukan atau menyelesaikan suatu hal. Ia juga bisa dilakukan di tengah proses itu berlangsung.
Ketika menulis ini pun saya melakukan beberapa kali self reward. Sejenak saya hentikan aktivitas ini, guna memberikan ruang bagi pikiran yang hampir lelah mengolah kosa kata, berusaha menyusunnya menjadi kalimat yang indah bagi siapa pun yang membaca.
Sesekali saya beranjak meninggalkan laptop dengan mode sleep, keluar kamar dan mengirup udara segar yang tak lagi berasal dari kipas angin dengan pewangi ruangan yang menggantung. Saya yang tinggal di pesisir meluangkan waktu untuk memandangi laut yang berhasil memantulkan pesona langit dengan sempurna. Desiran ombak dan cericit burung di teras rumah menjadi terapi yang sangat berharga.
Maka, ingatlah untuk selalu mencintai diri sendiri. Jangan biarkan ego menguasaimu. Biarkan dirimu bebas melakukan apa yang ia inginkan, jangan paksakan. Lakukanlah self reward sesering mungkin, agar reward yang lain juga datang menghampirimu. Bebaskan dirimu untuk memilih. Jangan terpengaruh pada apa pun.