Siapa di antara kalian yang tak mengenal Pramoedya Ananta Toer? Bagi kalian yang sering membaca karya-karya sastra tanah air, tentu sudah tak asing dengan nama yang satu ini. Pramoedya Anantra Toer merupakan salah seorang sastrawan yang paling produktif asal Indonesia. Beliau dilahirkan di Kabupaten Blora pada 6 Februari 1923 dan meninggal di Jakarta pada 30 April 2006. Sebagai seorang sastrawan yang paling produktif, beliau sudah banyak melahirkan banyak karya sastra yang di antaranya berupa novel; kumpulan cerita pendek; puisi; dan memoar.
Adapun sebagian besar karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer seringkali bertemakan sejarah, khususnya sejarah bangsa Indonesia, seperti sejarah bangsa Indonesia pada masa sebelum kolonialisme; pada masa berlangsungnya kolonialisme; dan pada masa setelah berakhirnya kolonialisme. Pada kesempatan kali ini, saya akan menguraikan berbagai aspek sejarah bangsa Indonesia yang terdapat pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, yang barangkali tidak kita dapatkan pada pelajaran di sekolah. Apabila kalian tertarik dengan pembahasan ini, kalian bisa baca artikel ini sampai selesai.
Seperti yang saya katakan tadi, sebagian besar atau hampir seluruh karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer bertemakan sejarah (khususnya sejarah bangsa Indonesia), mulai dari sejarah bangsa Indonesia pada masa sebelum kolonialisme; pada masa berlangsungnya kolonialisme; dan pada masa setelah berakhirnya kolonialisme. Dengan demikian, karya-karya sastra yang diciptakan oleh Pramoedya Ananta Toer sejatinya tidak hanya bersifat fiksi semata, tetapi terdapat juga aspek-aspek sejarah yang aktual di dalamnya. Sebagai contoh, pada novel Arok Dedes misalnya, betapa detailnya Pramoedya Ananta Toer dapat melukiskan kehidupan masyarakat Jawa yang pada saat itu sudah memiliki kebiasaan saling membunuh.
Selain itu, masih pada novel Arok Dedes, betapa cermatnya Pramoedya Ananta Toer dapat menguraikan taktik perang yang digagas oleh Ken Arok dalam menyerang Tunggul Ametung. Kedua detail sejarah itu, saya rasa, tidak mungkin dilakukan oleh sang penulis bila hanya mengandalkan imajinasinya semata. Akan tetapi, kedua detail sejarah itu sangat mungkin dilakukan apabila sang penulis mempunyai pemahaman konkret atas detail sejarah tersebut. Terlebih lagi, Pramoedya Ananta Toer juga sangat detail dalam menyusun latar tempat dan kejadian pada novel Arok Dedes, membuat saya semakin yakin bahwa sesungguhnya novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer merupakan kisah nyata yang dibalut dengan cerita fiksi.
Selain novel Arok Dedes, karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer lainnya yang memuat aspek sejarah antara lain ialah novel Bumi Manusia. Pada novel Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer dengan detailnya menggambarkan penderitaan rakyat pribumi di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Selain menggambarkan penderitaan rakyat pribumi di bawah kekuasaan kolonial Belanda, Pramoedya Ananta Toer juga menggambarkan kebusukan berbagai lembaga pengadilan di bawah kekuasaan kolonial Belanda, juga diskriminasi terhadap rakyat pribumi karena perbedaan kelas sosial. Menurut saya, apa yang digambarkan atau diceritakan oleh Pramoedya Ananta Toer tidak akan mungkin tergambarkan dengan jelas dan detail apabila sang penulis tidak memiliki pengetahuan akan berbagai peristiwa sejarah tersebut, juga tidak mungkin tergambarkan dengan jelas apabila sang penulis tidak memiliki rasa akan ketidakadilan yang menimpa sebagian besar golongannya.
Selain kedua novel di atas, karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer juga ada yang mengangkat kisah pada masa pascakolonial Belanda. Seperti pada novel Midah: Si Manis Bergigi Emas, misalnya, Pramoedya Ananta Toer dengan detailnya menggambarkan kehidupan masyarakat Jakarta yang pada saat itu masih hidup dengan pikiran sempit, masih bergantung pada orang lain. Selain itu, masih pada novel Midah: Si Manis Bergigi Emas, Pramoedya Ananta Toer juga dengan detailnya menggambarkan kondisi ekonomi rata-rata masyarakat Jakarta, serta menggambarkan kesewenang-wenangan dan kepengecutan berbagai aparat keamanan.
Menurut saya, apa yang digambarkan atau diceritakan oleh Pramoedya Ananta Toer pada novelnya Midah: Si Manis Bergigi Emas tidak akan mungkin tergambarkan begitu jelas dan detail apabila sang penulis tidak merasakan langsung kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Jakarta; tidak merasakan dan mengalami langsung kebudayaan masyarakat Jakarta; dan tidak memiliki rasa atau pengalaman yang tidak mengenakkan dari berbagai aparat keamanan.
Seperti yang sudah kita ketahui di atas, bahwa sebagian besar atau hampir seluruh karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer bertemakan dan bermuatan sejarah (khususnya sejarah bangsa Indonesia), maka sudah sepatutnya kita mempertimbangkan untuk membaca karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer sebagai bahan ajar kita untuk mengetahui sejarah. Selain itu, dengan membaca karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer, kita juga bisa membandingkan mengenai sejarah yang bersifat asli atau yang palsu. Serta lebih daripada itu, dengan membaca karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer, kita juga bisa lebih kritis terhadap bergabagi oknum yang telah menyembunyikan sejarah bangsa Indonesia.
Nah, itu tadi merupakan uraian saya mengenai berbagai aspek sejarah bangsa Indonesia yang terdapat pada karya-karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer. Adapun uraian ini merupakan uraian saya saya pribadi, berdasarkan pemahaman saya terhadap berbagai karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer. Sebelum saya tutup uraian ini, saya minta kepada kita semua untuk mendoakan mendiang Bapak Pramoedya Ananta Toer yang tepat pada 17 tahun yang lalu (30 April 2006) berpulang. Semoga atas dedikasi beliau dalam menciptakan karya-karya sastra yang bermuatan sejarah, membuat generasi bangsa Indonesia (kini dan seterusnya) mau dan mampu memahami sejarah bangsanya sendiri.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS