Lebaran Usai, Dompet Nangis? Waspada Jebakan Pinjol yang Mengintai!

Hayuning Ratri Hapsari | inaya khoir
Lebaran Usai, Dompet Nangis? Waspada Jebakan Pinjol yang Mengintai!
Ilustrasi rekap keuangan pasca-lebaran (Pexels.com/Kaboompics)

Di tengah badai PHK massal dan lesunya geliat ekonomi, euforia perayaan Idulfitri tetap membawa kebahagiaan tersendiri. Meski pemerintah mengungkapkan bahwa daya beli masyarakat menurun sepanjang Ramadan dan Idulfitri 2025 ini, tetapi lonjakan pengeluaran yang signifikan selama Ramadan dan Lebaran tidak bisa diabaikan.

Tradisi mudik, pemberian hadiah atau THR, hingga kebutuhan khas hari raya seperti hidangan Lebaran dan baju baru, serta berbagai pengeluaran lain selama Lebaran sering kali memaksa masyarakat untuk merogoh saku lebih dalam dari hari biasanya dan bahkan melebihi anggaran yang telah disiapkan.

Situasi ini kemudian diperparah dengan kebutuhan pasca-Lebaran yang kadang kita lupa untuk menyisihkan alokasi dana untuk situasi ini karena terlalu fokus pada perayaan Lebaran, seperti perbaikan kendaraan, bayar cicilan bulanan, dan kebutuhan-kebutuhan harian lainnya.

Keadaan tersebut kemudian menciptakan celah bagi banyak orang untuk mencari alternatif pembiayaan cepat untuk memenuhi kebutuhan mendesak pasca-Lebaran.

Alhasil, tidak sedikit yang kemudian melirik pinjaman online (pinjol) sebagai alternatif solusi. Kemudahan akses, prosedur yang tidak ribet, dan kecepatan pencarian dana yang ditawarkan pinjaman online memang menjadi daya tarik terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dana cepat.

Selain kebutuhan pasca-Lebaran yang sering luput kita alokasikan, kondisi finansial yang tidak stabil pasca-Lebaran juga mendorong masyarakat untuk mencari solusi cepat melalui pinjol tanpa mengkhawatirkan dampak penyertaannya.

Jebakan utang jangka panjang, misalnya. Fenomena pinjaman online pasca-Lebaran ini makin mengkhawatirkan mengingat rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat kita.

Lebih jauh, lonjakan pinjaman online pasca-Lebaran tidak hanya disebabkan oleh faktor pemenuhan kebutuhan finansial semata, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika psikologis dan sosial masyarakat.

Euforia perayaan Idullfitri yang baru saja berlalu meninggalkan jejak ekspektasi untuk mempertahankan gaya hidup konsumtif meski keuangan sudah tidak lagi memungkinkan.

Kombinasi antara kebutuhan mendesak, tekanan sosial, dan kesadaran masyarakat akan risiko pinjaman online dapat menciptakan siklus yang membuat masyarakat rentan terjerat dalam lingkaran utang pinjaman online pasca-Lebaran.

Meningkatkan literasi keuangan masyarakat dapat menjadi salah satu cara mencegah banyaknya masyarakat terjebak pinjaman online pasca-Lebaran.

Pemerintah melalui perpanjangan tangan para pemengaruh dapat melakukan edukasi pengelolaan keuangan secara bijak pasca-Lebaran, perencanaan anggaran yang matang, dan pemahaman risiko pinjol yang perlu terus-menerus digaungkan oleh pemerintah.

Selain itu, pemerintah dan lembaga-lembaga atau otoritas terkait perlu meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap praktik pinjol ilegal, terutama pasca-Lebaran ini.

Pemerintah juga harus lebih gencar lagi menindak penyedia pinjaman online, terutama pinjaman online ilegal, yang sering kali menggunakan cara-cara penagihan yang tidak etis dan bahkan melanggar hukum.

Selain pemerintah yang perlu melaksanakan fungsi pengawasan dan penindakan dengan baik terhadap penyedia layanan pinjaman online, awareness masyarakat akan lingkaran pinjol tetap tidak kalah penting.

Masyarakat harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk pinjaman dan juga memahami risiko dan konsekuensi yang akan timbul akibat menggunakan pinjaman online.

Penting bagi masyarakat untuk selalu memverifikasi legalitas penyedia pinjaman online dan memahami dengan saksama syarat dan ketentuan pinjaman sebelum memutuskan untuk mengambil langkah tersebut.

Selain itu, yang perlu ditekankan dalam fenomena ini adalah pinjaman online bukanlah satu-satunya jalan keluar. Meskipun pinjaman online menawarkan solusi yang cepat dan mudah, ada lebih banyak alternatif lain yang lebih sehat dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pasca-Lebaran, seperti memaksimalkan aset yang sudah dimiliki, hingga mencari tambahan penghasilan melalui kerja sampingan atau side hustle

Memaksimalkan aset yang dimiliki dan menambah side hustle melalui kerja sampingan tidak hanya mengurangi masyarakat dari ketergantungan pada pinjaman, tetapi juga dapat memberikan sumber pemasukan tambahan yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak