Hari ini, berutang tak lagi memerlukan wajah memelas atau tanda tangan berlembar-lembar. Cukup beberapa kali klik di ponsel, dana langsung cair. Fenomena inilah yang membuat pinjaman online (pinjol) dan paylater menjamur begitu cepat di Indonesia.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, dalam satu tahun jumlah akun aktif pinjol melonjak drastis dari sekitar 15 juta menjadi 30 juta akun. Angka itu belum termasuk pengguna paylater yang tersebar di berbagai platform belanja dan layanan digital.
Kemudahan ini sering kali dibungkus narasi “solusi keuangan”. Padahal, jika ditelaah lebih dalam dari sisi ekonomi, pinjol dan paylater justru menyimpan kerugian besar yang kerap luput dari perhatian penggunanya. Masalah utamanya bukan semata soal moral atau agama, melainkan tentang logika keuangan yang timpang.
Sekali Klik, Terikat Bertahun-tahun: Mengapa Pinjol dan Paylater Merugikan Secara Ekonomi
Kerugian pertama dan paling nyata adalah biaya administrasi. Misalnya, Anda mengajukan pinjol sebesar Rp 1 juta. Dana yang cair hampir pasti tidak utuh. Umumnya, ada potongan 5–10 persen di awal. Beberapa platform memang mengklaim hanya 1 persen, tetapi biasanya berlaku dengan syarat tertentu.
Artinya sederhana: Anda menerima uang lebih sedikit, tetapi tetap wajib mengembalikan nominal penuh. Jika Rp 1 juta dipotong 5 persen dan harus dilunasi dalam satu bulan, maka secara ekonomi Anda sudah menanggung “biaya” 5 persen untuk satu bulan. Jika dikonversi ke tahunan, angka ini setara dengan sekitar 60 persen per tahun. Itu bahkan sebelum bunga dihitung.
Bunga: Legal, tapi Tetap Mencekik
OJK memang terus menurunkan batas bunga pinjol. Per 1 Januari 2026, bunga maksimal ditetapkan sebesar 0,1 persen per hari. Sekilas terlihat kecil, tetapi jika dihitung setahun penuh, angkanya mencapai 36,5 persen per tahun. Itu sudah tergolong sangat tinggi dalam dunia keuangan formal.
Jika bunga ini digabung dengan biaya administrasi, total beban yang ditanggung peminjam bisa dengan mudah menembus 50 persen atau lebih. Dengan kata lain, menikmati Rp 10 juta hari ini bisa berarti kewajiban membayar kembali Rp 14–15 juta di masa depan. Ini bukan asumsi berlebihan, melainkan realitas matematis.
Kemudahan yang Menipu: Mengapa Paylater dan Pinjol Perlu Dikendalikan
Masalah berikutnya terletak pada tujuan penggunaan pinjol dan paylater. Mayoritas digunakan untuk kebutuhan konsumtif: membeli gawai, pakaian, liburan, atau memenuhi gaya hidup. Barang-barang ini tidak hanya “habis” secara fungsi, tetapi juga mengalami penyusutan nilai.
Bayangkan membeli ponsel dengan pinjol. Anda membayar total jauh lebih mahal dari harga tunai, sementara nilai ponsel tersebut terus turun seiring waktu. Pada akhirnya, Anda menanggung utang besar untuk barang yang nilainya semakin kecil. Ini adalah kombinasi paling tidak sehat dalam keuangan pribadi: utang berbunga tinggi untuk aset yang menyusut.
Paylater sering dipromosikan lebih ramah karena klaim “tanpa biaya admin” atau “cicilan ringan”. Namun esensinya tetap sama. Ia mendorong belanja dengan uang yang sebenarnya belum dimiliki. Dorongan psikologis inilah yang membuat orang membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena kemudahan.
Dari Klik ke Krisis: Bagaimana Pinjol Menggerus Masa Depan Finansial
Setiap kali seseorang mengklik “ajukan pinjaman”, ia sedang memindahkan beban ke masa depan. Uang yang dinikmati hari ini adalah kewajiban esok hari. Ketika pendapatan tidak tumbuh secepat utang, tekanan finansial pun muncul: stres, gali lubang tutup lubang, hingga kehilangan kontrol atas keuangan pribadi.
Mengurangi pinjol dan paylater bukan berarti anti teknologi atau anti kemudahan. Ini soal disiplin dan kesadaran. Menahan diri dari utang konsumtif justru memberi keuntungan nyata: ruang bernapas dalam keuangan, ketenangan mental, dan kebebasan menentukan masa depan tanpa dibayangi tagihan.
Pada akhirnya, setiap klik pinjol bukan sekadar transaksi, melainkan keputusan ekonomi. Dan keputusan itu, jika tidak disadari, adalah bentuk memasung diri sendiri dengan masalah yang akan datang.