Sobat Yoursay, hampir semua dari kita pernah punya mimpi besar. Ingin hidup lebih layak dari orang tua, ingin punya pekerjaan yang membuat bangga, ingin melihat Indonesia berdiri sejajar dengan negara-negara maju.
Dulu, mimpi itu terasa begitu dekat saat kita masih di bangku sekolah. Namun lambat laun, mimpi-mimpi tersebut seolah menyusut. Hal ini bukan disebabkan oleh hilangnya ambisi, melainkan karena lambatnya gerak realitas di tanah air yang tidak mampu mengimbangi langkah mimpi tersebut.
Indonesia bukan negeri tanpa potensi. Sumber daya alam melimpah, bonus demografi digadang-gadang sebagai peluang emas, dan anak mudanya dikenal kreatif serta adaptif.
Setiap tahun, ribuan ide lahir dari anak muda: startup, karya seni, gerakan sosial, hingga inovasi teknologi. Namun, Sobat Yoursay, berapa banyak dari mimpi itu yang benar-benar menemukan jalannya? Berapa banyak yang akhirnya tersendat karena birokrasi, keterbatasan akses, atau sistem yang tak kunjung ramah?
Ungkapan "sabar, nikmati prosesnya" kini terdengar lebih seperti pelipur lara daripada nasihat bijak. Meski proses itu perlu, kesabaran ada batasnya ketika kebutuhan hidup mendesak namun kemajuan justru jalan di tempat.
Generasi muda terus didorong untuk bercita-cita tinggi, namun dukungan yang diberikan tampak setengah jalan. Gelar pendidikan tinggi tidak menjamin ketersediaan lapangan kerja, tuntutan inovasi terbentur birokrasi yang kaku, dan kreativitas sering kali mati karena minimnya modal serta perlindungan hukum.
Sobat Yoursay, banyak dari kita pasti pernah mengalami betapa sulitnya mengurus hal-hal yang seharusnya simpel namun justru berakhir rumit.
Sering kali peluang emas hilang begitu saja karena terhambat urusan birokrasi, sistem yang tidak mendukung, atau penundaan yang tidak pasti. Rasanya, Indonesia terus-menerus terjebak dalam tahap persiapan tanpa pernah benar-benar melakukan terobosan besar.
Di sisi lain, dunia di luar sana bergerak cepat. Teknologi berubah dalam hitungan bulan, bahkan minggu. Negara lain berlomba-lomba mempermudah riset, mempercepat layanan publik, dan menarik talenta muda.
Sementara kita masih sibuk memperdebatkan hal-hal dasar, seperti sistem pendidikan yang relevan, upah layak, atau transportasi publik yang manusiawi. Akibatnya, mimpi besar sering kali kalah oleh realitas sehari-hari yang melelahkan.
Kelambanan ini tidak hanya terbatas pada masalah birokrasi, tetapi telah mengakar menjadi sebuah budaya. Kita terbiasa dengan standar “yang penting jalan”, bukan “yang penting maju”. Asal tidak bermasalah, asal aman, asal tidak ribut.
Dalam budaya seperti ini, orang yang ingin melompat jauh sering dianggap terlalu ambisius, terlalu idealis, bahkan tidak realistis. Padahal, tanpa orang-orang yang berani berlari lebih kencang, negeri ini akan terus berjalan di tempat.
Sobat Yoursay, ironi lainnya adalah beban mimpi besar itu sering diletakkan di pundak individu, bukan sistem. Anak muda diminta tangguh, adaptif, tahan banting, seolah kegagalan selalu kesalahan personal.
Jarang sekali ada yang mempertanyakan, apakah sistemnya sudah adil? Apakah jalurnya sudah terbuka? Apakah semua orang benar-benar punya kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkannya?
Ketika mimpi tak kunjung tercapai, sebagian memilih bertahan dengan menurunkan ekspektasi. “Yang penting kerja.” “Yang penting cukup.” “Yang penting tidak menyusahkan orang lain.” Tidak ada yang salah dengan pilihan itu.
Tapi Sobat Yoursay, coba pikirkan konsekuensinya jika terlalu banyak cita-cita yang harus dipangkas hanya agar selaras dengan lambatnya realitas. Kita mungkin akan mendapati sebuah negara yang tampak stabil dan tenang, tetapi sebenarnya telah kehilangan energi untuk melakukan lompatan besar menuju kemajuan.
Cepat bukan berarti serampangan, dan pelan pun tidak selalu salah jika itu demi kehati-hatian. Namun, menjadi pelan tanpa arah hanya akan menjauhkan kita dari mimpi. Ironisnya, saat anak muda berlari mengejar waktu, sistem di negeri ini justru seolah tidak terburu-buru. Kelelahan yang muncul pun akhirnya berubah menjadi keputusasaan kolektif.
Kita bisa melihat dampaknya sekarang, banyak orang hebat memilih pergi, dan mereka yang bertahan lebih memilih hidup "aman" daripada bermimpi tinggi. Ini bukan salah mereka, dan ini bukan bukti bahwa mentalitas kita tempe. Ini adalah sinyal kuat bahwa rumah kita sendiri belum cukup ramah untuk menampung mimpi-mimpi besar anak-anaknya.
Sobat Yoursay, barangkali, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi mengenai alasan di balik keluhan generasi muda, melainkan mengapa sebuah mimpi harus terus-menerus ditunda. Mengapa keberanian untuk melangkah tidak pernah sejalan dengan kemudahan akses?
Sangat disayangkan ketika potensi yang begitu besar dipaksa untuk selalu berkompromi dengan birokrasi dan sistem yang bergerak sangat lamban.
Negeri ini tidak kekurangan orang bermimpi, kita hanya kurang keberanian untuk bergerak lebih cepat dan menyediakan ruang bagi mereka. Sudah saatnya kita merapikan jalur agar setiap ambisi besar tidak hanya berhenti di kepala, tapi punya tempat yang nyata untuk tumbuh dan berdampak.
Sobat Yoursay, kita semua berada di persimpangan yang sama. Tetap bermimpi besar di negeri yang pelan-pelan, atau bersama-sama mendorong negeri ini agar langkahnya sepadan dengan mimpinya. Pertanyaannya, kita mau terus menunggu, atau mulai berani menuntut perubahan ritme?