Rupiah Melemah, Kepercayaan Ikut Diuji

Lintang Siltya Utami | Khoirul Umar
Rupiah Melemah, Kepercayaan Ikut Diuji
Ilustrasi uang rupiah. (Pixabay/Iqbal Nuril Anwar)

Bagi masyarakat kecil, rupiah yang melemah bukan sekadar berita ekonomi yang lewat begitu saja. Ia bukan angka abstrak yang hanya dipahami oleh analis atau pejabat. Rupiah yang tertekan adalah perasaan tidak tenang ketika berbelanja, kecemasan saat menghitung sisa uang di dompet, dan kegelisahan ketika menyadari bahwa hidup terasa semakin mahal, sementara penghasilan tetap di tempat.

Setiap kali nilai tukar rupiah melemah, masyarakat seolah dipaksa menyesuaikan diri lebih cepat daripada negara menyesuaikan kebijakan. Harga naik pelan-pelan, tapi pasti. Dari pasar tradisional hingga warung kecil di sudut kampung, keluhan yang terdengar hampir sama: barang dari pemasok naik, ongkos produksi meningkat, dan pilihan untuk bertahan semakin sempit. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak lagi bertanya mengapa rupiah melemah, melainkan sampai kapan mereka harus menanggung dampaknya.

Rupiah yang melemah adalah luka yang perlahan. Tidak langsung terasa besar, tetapi terus menggerogoti. Hari ini harga minyak goreng naik sedikit, besok biaya transportasi bertambah, lusa harga kebutuhan pokok menyusul. Akhir bulan datang lebih cepat, sementara gaji terasa semakin pendek. Dari sinilah kepercayaan mulai diuji—bukan kepercayaan pada pasar global, tetapi kepercayaan pada negara.

Masyarakat sering mendengar penjelasan bahwa pelemahan rupiah disebabkan faktor global. Dolar menguat, konflik internasional, atau ketidakpastian ekonomi dunia. Penjelasan itu mungkin benar, tetapi terasa dingin bagi mereka yang hidupnya bergantung pada upah harian. Bagi masyarakat, alasan global tidak otomatis meringankan beban lokal. Yang mereka rasakan hanyalah satu hal: hidup semakin berat, dan bantuan terasa semakin jauh.

Di titik ini, kepercayaan menjadi taruhan. Masyarakat ingin percaya bahwa pemerintah memahami kegelisahan mereka. Namun, ketika yang terdengar lebih banyak adalah narasi optimisme tanpa dampak nyata, kepercayaan itu perlahan terkikis. Kata-kata “ekonomi masih terkendali” terdengar hampa ketika harga beras naik dan listrik tetap harus dibayar. Optimisme yang tidak menyentuh kenyataan justru melahirkan jarak emosional.

Pelemahan rupiah juga memukul martabat masyarakat kecil. Banyak dari mereka merasa tidak memiliki suara dalam urusan besar seperti ekonomi nasional, tetapi selalu diminta untuk bersabar ketika keadaan memburuk. Kesabaran, sayangnya, tidak bisa menggantikan kebutuhan makan atau biaya sekolah anak. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat merasa menjadi pihak yang paling rajin diminta mengerti, namun paling jarang diajak bicara.

Pelaku usaha kecil berada dalam tekanan yang sama beratnya. Ketika rupiah melemah, bahan baku yang bergantung pada impor melonjak harganya. Usaha rumahan, pedagang kecil, hingga UMKM dipaksa memilih antara menaikkan harga atau menekan keuntungan. Keduanya sama-sama menyakitkan. Menaikkan harga berarti berisiko kehilangan pelanggan, sementara menahan harga berarti menanggung kerugian perlahan. Di tengah dilema ini, kepercayaan terhadap keberpihakan kebijakan negara kembali dipertanyakan.

Yang paling menyakitkan bagi masyarakat bukan sekadar naiknya harga, melainkan rasa tidak pasti. Ketika rupiah terus melemah, masa depan terasa kabur. Muncul ketakutan akan pemutusan kerja, kekhawatiran biaya pendidikan, hingga kecemasan tentang kesehatan. Ketidakpastian ini menciptakan tekanan psikologis yang jarang dibicarakan, tetapi nyata dirasakan.

Masyarakat sebenarnya tidak menuntut keajaiban. Mereka sadar bahwa ekonomi tidak selalu stabil. Namun, yang diharapkan adalah kejujuran dan keberpihakan. Ketika negara hadir dengan kebijakan yang jelas, perlindungan yang terasa, dan komunikasi yang jujur, masyarakat cenderung bertahan dan percaya. Sebaliknya, ketika kebijakan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, kepercayaan runtuh lebih cepat daripada nilai tukar.

Rupiah yang melemah seharusnya menjadi alarm, bukan hanya bagi pasar, tetapi bagi pemerintah. Alarm bahwa kepercayaan publik tidak bisa terus diuji tanpa batas. Sebab, ketika masyarakat kehilangan kepercayaan, dampaknya jauh lebih berbahaya daripada sekadar pelemahan mata uang. Ia bisa berubah menjadi apatisme, kemarahan, dan ketidakpedulian terhadap negara.

Bagi masyarakat, rupiah bukan simbol makroekonomi, melainkan simbol kepastian hidup. Ketika rupiah melemah, mereka bertanya-tanya apakah negara masih sanggup menjaga mereka. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya menentukan arah kepercayaan. Dan tanpa kepercayaan, stabilitas apa pun akan selalu rapuh.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak