Kerja Tanpa Upah, Risiko Tanpa Perlindungan: Realitas Ibu Rumah Tangga

Bimo Aria Fundrika | Ernik Budi R.
Kerja Tanpa Upah, Risiko Tanpa Perlindungan: Realitas Ibu Rumah Tangga
Ilustrasi mencuci piring (Pexels)

Peristiwa seorang ibu rumah tangga berusia 55 tahun yang terjatuh ke dalam sumur sedalam 15 meter di Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, sepintas memang terlihat sebagai kecelakaan biasa.

Ia terpeleset saat hendak mengambil air pada waktu subuh, lalu berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan dalam kondisi selamat. Selesai. Berita ditutup dengan rasa syukur. Namun benarkah sesederhana itu?

Bagi penulis ada beberapa hal yang perlu dibahas tentang peristiwa ini. Salah satunya adalah peristiwa ini memperlihatkan satu hal penting yakni, menjadi ibu rumah tangga pun memiliki risiko keselamatan yang nyata. Hanya saja, karena aktivitas tersebut berlangsung di ruang domestik dan dianggap rutinitas harian, bahayanya sering kali tak pernah benar-benar diperhitungkan.

Ruang Domestik Bukan Ruang Bebas Risiko

Banyak orang menganggap rumah sebagai tempat paling aman. Padahal, berbagai potensi bahaya justru tersembunyi di dalamnya lantai licin, kompor, tabung gas, tangga curam, instalasi listrik, hingga sumur terbuka seperti dalam kasus ini.

Sumur sedalam 15 meter dengan pembatas rendah jelas bukan fasilitas yang aman, terlebih digunakan pada waktu subuh dengan pencahayaan minim. Aktivitas mengambil air mungkin terdengar sederhana, tetapi ketika dilakukan di kondisi lantai basah dan tanpa pengaman memadai, risikonya setara dengan bekerja di lingkungan berbahaya.

Masalahnya, kerja ibu rumah tangga jarang dipandang sebagai “pekerjaan berisiko”. Tidak ada standar keselamatan kerja domestik yang dibahas secara serius. Tidak ada pelatihan rutin. Tidak ada audit keamanan rumah tangga. Semua dianggap bagian dari keseharian.

IRT Sebagai Kerja yang Tidak Diupah, Tapi Penuh Tanggung Jawab

Ibu rumah tangga menjalankan banyak peran sekaligus yakni sebagai penyedia makanan, pengelola kebersihan rumah, pengatur kebutuhan keluarga, hingga pengasuh anak. Aktivitas itu berlangsung setiap hari, tanpa jeda, dan sering kali dimulai sejak subuh.

Namun karena tidak menghasilkan upah langsung, pekerjaan ini kerap dipandang “tidak bekerja”. Padahal secara fisik dan mental, tuntutannya besar. Mengangkat galon, menimba air, memasak dengan api, mencuci di lantai basah—semuanya memiliki risiko cedera.

Kasus di Jepara menunjukkan bahwa bahkan aktivitas mengambil air pun bisa berujung pada ancaman nyawa. Bayangkan jika kedalaman air di sumur lebih tinggi atau korban tidak segera ditemukan. Situasinya bisa sangat berbeda.

Keselamatan yang Kerap Diabaikan

Salah satu persoalan utama adalah minimnya perhatian terhadap standar keamanan fasilitas rumah tangga. Banyak sumur tidak memiliki penutup permanen atau pagar pengaman yang layak. Lantai kamar mandi sering kali tanpa alas anti-slip. Penerangan di area tertentu kurang memadai.

Padahal, investasi kecil pada aspek keselamatan bisa mencegah risiko besar. Peninggian bibir sumur, pemasangan penutup kokoh, penerangan yang cukup, atau alas anti-slip adalah langkah sederhana namun krusial. Sayangnya, keselamatan di ruang domestik sering dianggap tanggung jawab pribadi semata, bukan isu publik yang layak mendapat perhatian kebijakan atau edukasi massal.

Saatnya Mengakui Risiko Itu Nyata

Peristiwa ini semestinya menjadi pengingat bahwa ibu rumah tangga juga menghadapi risiko kerja, meski tidak tercatat dalam statistik kecelakaan kerja formal. Mengakui adanya risiko adalah langkah pertama untuk mencegah kejadian serupa.

Kita perlu mengubah cara pandang: rumah bukan otomatis ruang aman, dan aktivitas domestik bukan tanpa bahaya. Edukasi tentang keselamatan rumah tangga perlu digencarkan, baik oleh pemerintah daerah, tenaga kesehatan, maupun komunitas masyarakat.

Karena ketika seorang ibu rumah tangga mengalami kecelakaan, dampaknya tidak hanya pada dirinya, tetapi juga pada seluruh anggota keluarga yang bergantung padanya. Kali ini, korban selamat. Namun pesan yang harus kita tangkap jauh lebih besar yaitu pekerjaan di rumah pun memiliki risiko. Dan sudah saatnya risiko itu diakui, dibicarakan, dan dicegah bersama.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak