Ada pemandangan yang lazim kita temui menjelang pukul enam sore di bulan Ramadan: meja makan yang penuh sesak. Mulai dari kolak yang masih mengepul, gorengan yang menggunung, hingga deretan es buah warna-warni yang menggoda iman. Di titik ini, perut kita yang kosong selama beberapa jam seolah memberikan mandat penuh kepada mata untuk "menjajah" apa saja yang terlihat enak di pasar takjil.
Namun, mari kita tengok apa yang terjadi satu jam setelah azan magrib berkumandang. Seringkali, separuh dari hidangan mewah itu berakhir di tempat sampah. Perut manusia punya kapasitas, tapi nafsu kita—terutama saat lapar—sering kali merasa tak punya batas. Inilah awal mula dari tragedi sosial yang kita sebut sebagai food waste atau sampah makanan.
Sangat ironis, bukan? Ramadan yang secara filosofis mengajarkan kita untuk merasakan penderitaan mereka yang kekurangan, justru menjadi periode di mana volume sampah makanan melonjak drastis. Data dari berbagai dinas kebersihan di kota-kota besar di Indonesia secara konsisten menunjukkan kenaikan volume sampah hingga 10-20% selama Ramadan. Dan tebak apa penyumbang terbesarnya? Sisa makanan dari meja-meja makan kita.
Fenomena "lapar mata" saat berbuka adalah bukti nyata bahwa kita seringkali gagal lulus dalam ujian pengendalian diri yang paling mendasar. Kita membeli makanan bukan karena butuh, tapi karena ingin memuaskan dendam setelah seharian menahan lapar. Kita menumpuk takjil seolah-olah besok dunia akan kiamat dan makanan akan musnah. Padahal, esensi puasa adalah taqlil al-tha’am atau menyedikitkan makan, bukan sekadar memindahkan jam makan siang ke jam tujuh malam dengan porsi yang dikali tiga.
Dampaknya tidak main-main. Sampah organik yang menumpuk di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) akan menghasilkan gas metana yang 21 kali lebih berbahaya bagi atmosfer dibandingkan karbon dioksida. Jadi, saat kita membuang sisa rendang atau nasi kuning ke tempat sampah, kita tidak hanya membuang uang, tetapi juga sedang berkontribusi merusak bumi. Secara spiritual pun, ini adalah tamparan keras. Bagaimana mungkin kita mengaku empati pada kaum dhuafa, sementara di saat yang sama kita membuang zat yang sangat mereka dambakan ke dalam kantong plastik hitam?
Budaya "Bukber" (Buka Bersama) juga punya andil besar dalam dosa ekologis ini. Di restoran atau hotel yang menyediakan paket all you can eat, banyak dari kita yang mengambil makanan secara kalap demi "balik modal". Hasilnya? Piring-piring kotor yang masih menyisakan nasi dan lauk pauk menjadi pemandangan miris di atas meja. Kita sering lupa bahwa di balik satu butir nasi yang kita buang, ada keringat petani dan sumber daya alam yang habis diperas.
Sudah saatnya kita mengubah gaya "berbuka" kita dari balas dendam menjadi beradab. Sederhananya, mulailah dengan prinsip "ambil secukupnya, habiskan sepenuhnya". Berhenti menjadikan meja makan sebagai panggung pamer kemakmuran. Jika ingin berbagi, salurkan makanan tersebut kepada yang membutuhkan sebelum ia menjadi sisa di piring kita.
Ramadan seharusnya menjadi momen bagi kita untuk mengerem, bukan malah tancap gas dalam hal konsumsi. Jika setelah sebulan berpuasa kita hanya berhasil memindahkan tumpukan lemak ke perut dan tumpukan sampah ke lingkungan, maka mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, kita ini sedang beribadah, atau hanya sedang memindahkan jadwal makan dengan bumbu keserakahan?
Mari jadikan piring yang bersih sebagai bentuk syukur yang paling nyata. Karena sejatinya, keberkahan Ramadan tidak ditemukan dalam banyaknya jenis hidangan di atas meja, melainkan dalam kebermanfaatan makanan tersebut bagi tubuh dan jiwa kita tanpa menyisakan duka bagi alam.