Ada sebuah paradoks yang selalu terjadi setiap pukul lima sore di bulan Ramadan. Tubuh rasanya lemas, tulang-tulang seperti kehilangan engselnya, dan rebahan di bawah kipas angin terdengar seperti ide paling cemerlang sedunia.
Namun entah kekuatan magis apa yang merasuki, kaki ini justru melangkah ke teras, meraih kunci motor, dan menyalakan mesin.
Tujuan? Tidak ada. Benar-benar nol besar.
Saya menyebutnya “Ngabuburit Tanpa Tujuan”. Ini adalah aktivitas berkendara santai, biasanya dengan kecepatan tak lebih dari 20 km/jam, mengelilingi kompleks perumahan atau gang-gang sempit yang sebenarnya sudah saya hafal luar kepala setiap jengkalnya.
Tidak ada niat membeli takjil, tidak ada janji temu dengan teman, dan jelas tidak sedang mengejar diskon di swalayan. Saya hanya ingin mencari angin.
Bagi orang yang melihat dari luar, mungkin ini tampak seperti pemborosan bahan bakar. Tapi bagi kami yang menjalaninya, ini adalah bentuk revolusi yang bergerak.
Ada sensasi magis saat angin sore yang mulai mendingin menerpa wajah, yang biasanya sudah agak kusam karena dehidrasi. Angin itu seolah menyapu rasa lengket di pikiran dan memberi ilusi bahwa waktu berjalan lebih cepat saat kita bergerak.
Di atas jok motor, saya menjadi pengamat sosial dadakan. Saya melihat ibu-ibu panik karena gas elpijinya habis tepat saat hendak menggoreng bakwan.
Saya melihat anak-anak kecil berlarian dengan sarung melilit leher, berpura-pura menjadi pahlawan super sambil menunggu azan. Saya juga berpapasan dengan sesama “pengelana tanpa tujuan”: bapak-bapak yang membonceng anaknya yang masih balita, keduanya sama-sama menatap jalanan, menikmati sisa hari dalam kebisuan yang damai.
Mengapa kita melakukan ini? Setelah saya renungkan sambil melewati tikungan depan masjid untuk ketiga kalinya, saya sadar bahwa ngabuburit tanpa tujuan adalah cara kita “berdamai” dengan waktu.
Menunggu magrib sambil menatap selembar dinding di ruang tamu adalah penyiksaan. Detik jam terasa seperti langkah kura-kura yang sedang sakit kaki. Namun dengan naik motor, kita menciptakan distraksi visual. Kita melihat warna langit berubah dari biru pucat menjadi jingga keunguan. Kita melihat lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Di atas motor, kita tidak sedang menunggu, melainkan merayakan pergerakan.
Menariknya, aktivitas ini juga menjadi ruang bagi pikiran untuk berkelana lebih jauh dari rute motor. Di bawah helm yang sedikit longgar, saya sering justru menemukan jawaban atas masalah pekerjaan yang buntu sejak pagi, atau sekadar merencanakan menu sahur yang lebih sehat, meskipun ujung-ujungnya tetap mi instan lagi. Ada kejujuran yang muncul saat kita sendirian di jalan, hanya ditemani suara mesin yang halus dan aroma gorengan yang sesekali menusuk hidung.
Ngabuburit tanpa tujuan juga mengajarkan saya tentang “kehadiran”. Di hari-hari biasa, kita naik motor karena ingin cepat sampai. Kita terburu-buru, emosional terhadap kemacetan, dan sibuk dengan Google Maps.
Tapi saat ngabuburit, jalanan yang macet justru terasa seperti kawan. Kita tak keberatan berhenti lama di lampu merah, karena setiap detik yang terbuang adalah satu detik lebih dekat menuju sirene berbuka.
Ada rasa syukur yang tersimpan pelan saat akhirnya saya memutar arah kembali ke rumah, tepat sepuluh menit sebelum azan. Tubuh yang tadinya lemas kini terasa sedikit lebih “berisi” oleh oksigen dan pemandangan segar. Rumah yang sempat terasa sumpek karena aroma masakan yang menggiurkan kini seperti garis finis yang menyambut pahlawannya pulang dari ekspedisi keliling gang.
Ternyata, terkadang kita memang butuh pergi tanpa arah untuk benar-benar merasakan nikmatnya pulang. Kita perlu sedikit angin untuk mendinginkan kepala yang panas karena lapar. Kita perlu putaran roda motor untuk menyadari bahwa Ramadan bukan soal seberapa cepat sampai ke waktu berbuka, melainkan bagaimana menikmati setiap hembusan napas di sisa waktu yang ada.
Jadi, mau keliling kompleks berapa putaran lagi? Jangan lupa membawa STNK dan SIM, meskipun hanya berencana pergi sampai tukang tambal ban di ujung jalan, ya, Sob!