Bukber Ramadan dan Fenomena Flexing, Mau Sampai Kapan?

Hayuning Ratri Hapsari | Naufal Mamduh
Bukber Ramadan dan Fenomena Flexing, Mau Sampai Kapan?
Ilustrasi buka bersama (Freepik/odua)

Salah satu fenomena yang hampir selalu muncul setiap bulan Ramadan adalah buka puasa bersama, atau yang lebih dikenal dengan istilah bukber. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun.

Bukber biasanya diselenggarakan oleh berbagai kelompok. Ada yang diadakan oleh keluarga besar, komunitas alumni sekolah atau kampus, rekan kerja, hingga kelompok pertemanan yang lama tidak bertemu. Bagi sebagian orang, bulan Ramadan bahkan bisa dipenuhi dengan beberapa agenda bukber sekaligus.

Tradisi ini pada dasarnya memiliki makna yang positif. Buka puasa bersama menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, mempertemukan kembali orang-orang yang lama tidak berjumpa, sekaligus memperkuat hubungan sosial yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing.

Di berbagai kota, restoran dan kafe bahkan menyediakan paket khusus Ramadan untuk menyambut tradisi tersebut. Media sosial pun dipenuhi dengan berbagai unggahan yang menampilkan suasana kebersamaan saat berbuka.

Namun di tengah tradisi yang hangat tersebut, muncul satu fenomena yang semakin terasa di era digital, yaitu budaya flexing.

Fenomena Bukber yang Semakin Ramai

Tradisi buka puasa bersama ternyata juga didukung oleh data perilaku masyarakat selama Ramadan.

Berdasarkan survei Jakpat pada Februari 2025, generasi Z menunjukkan kecenderungan yang cukup tinggi untuk melakukan buka puasa bersama dengan teman dekat.

Sebanyak 75 persen responden Gen Z memilih bukber dengan teman dekat, sementara 63 persen memilih bukber dengan keluarga yang tinggal terpisah.

Data ini menunjukkan bahwa bukber tidak hanya menjadi agenda keluarga, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial generasi muda.

Temuan tersebut juga selaras dengan riset dari TGM Research yang menunjukkan bahwa Muslim di Indonesia paling banyak menggunakan pengeluaran selama Ramadan untuk membeli makanan dan minuman, serta transportasi untuk mengunjungi teman dan kerabat.

Artinya, aktivitas sosial seperti bukber memang menjadi salah satu pola konsumsi yang meningkat selama bulan suci. Namun di tengah tradisi tersebut, muncul satu fenomena lain yang semakin terlihat, yaitu flexing.

Ketika Bukber Berubah Menjadi Ajang Pamer

Perkembangan media sosial telah mengubah cara orang berbagi pengalaman. Aktivitas yang sebelumnya bersifat pribadi kini sering kali dibagikan kepada publik melalui foto, video, atau cerita.

Hal ini juga terjadi pada acara buka puasa bersama. Banyak orang mengunggah momen bukber mereka ke media sosial, mulai dari lokasi restoran, menu makanan, hingga suasana pertemuan.

Pada satu sisi, hal ini wajar sebagai bentuk dokumentasi pengalaman. Namun dalam beberapa kasus, unggahan tersebut juga dapat berubah menjadi pertunjukan gaya hidup.

Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah flexing, yaitu perilaku memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup kepada publik, terutama melalui media sosial.

Secara teoritis, flexing berkaitan dengan konsep pencitraan diri dalam masyarakat modern. Dalam kajian komunikasi dan sosiologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan konsep self-presentation, yaitu upaya seseorang menampilkan citra tertentu tentang dirinya kepada orang lain.

Dalam konteks media sosial, pencitraan tersebut sering kali menonjolkan aspek yang dianggap bernilai tinggi secara sosial, seperti kemewahan, kesuksesan, atau gaya hidup tertentu.

Akibatnya, media sosial tidak lagi hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga dapat berubah menjadi panggung untuk menunjukkan status sosial.

Ketika fenomena ini terjadi dalam kegiatan seperti bukber, maka pertemuan yang semula bertujuan mempererat hubungan bisa perlahan bergeser menjadi ajang pencitraan.

Nasihat Prof. Nasaruddin Umar tentang Dunia Flexing

Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, pernah mengingatkan tentang fenomena dunia modern yang semakin dipenuhi dengan budaya pamer. Menurutnya, salah satu tantangan kehidupan saat ini adalah ketika seseorang terlalu mudah terpengaruh oleh cara hidup orang lain.

“Jangan kita ditentukan oleh orang lain, jangan meng-copy paste metode kehidupannya orang lain, sehingga jati diri sendiri itu tidak kita gunakan dan kita hilang, kita tersesat di dalam keramaian hiruk pikuk,” ujarnya dalam sebuah acara kultum Ramadan. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa seseorang perlu memiliki pendirian yang kuat agar tidak larut dalam tekanan sosial yang muncul dari lingkungan, termasuk dari media sosial.

Budaya flexing sering kali membuat seseorang merasa harus mengikuti standar kehidupan tertentu yang sebenarnya bukan miliknya.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa kehilangan arah hidupnya sendiri karena terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Ramadan sebagai Waktu Retrospeksi

Prof. Nasaruddin Umar juga menekankan bahwa bulan Ramadan seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri.

“Tidak ada cara lain kecuali melakukan retrospeksi, mengevaluasi kembali perjalanan hidup kita dengan cara mematangkan pendirian kita sendiri,” jelasnya.

Retrospeksi ini penting agar seseorang tidak mudah terbawa arus budaya pamer yang semakin kuat di era digital. Ramadan menjadi kesempatan untuk kembali memahami tujuan hidup, memperbaiki niat, serta menguatkan nilai-nilai spiritual yang mungkin sempat terabaikan.

Dalam konteks bukber, refleksi ini dapat menjadi pengingat bahwa tujuan utama pertemuan bukanlah untuk menunjukkan sesuatu kepada orang lain, melainkan untuk mempererat silaturahmi.

Menjaga Makna Bukber di Tengah Dunia yang Serba Pamer

Pada akhirnya, tradisi bukber tetap memiliki makna yang sangat baik jika dijalankan dengan niat yang tepat. Pertemuan sederhana dengan teman lama, percakapan hangat setelah berbuka, atau kebersamaan dengan keluarga memiliki nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar unggahan di media sosial.

Di tengah dunia yang semakin ramai dengan budaya flexing, Ramadan justru mengajarkan kesederhanaan dan keikhlasan.

Bukber seharusnya tidak menjadi ajang pembuktian gaya hidup, tetapi menjadi ruang untuk kembali mempererat hubungan dan memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, kebersamaan yang paling bermakna tidak selalu perlu dipamerkan kepada siapa pun.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak