Kolom
Tren Sewa iPhone Jelang Lebaran: Antara Kebutuhan Digital dan Gengsi Sosial
Selalu ada fenomena menarik yang muncul di tengah masyarakat saat menjelang Lebaran. Selain soal mudik, jalan macet, antre BBM, dan harga daging sapi yang kian meroket, belakangan ini muncul satu tren yang cukup mencuri perhatian: minat sewa iPhone yang meningkat tajam.
Sekilas, tren ini tampak wajar. Momen Lebaran memang identik dengan kebersamaan, silaturahmi, dan tentu saja mengabadikan kenangan. Namun, kalau dicermati lebih dalam, rasanya ada hal lain yang patut dipertanyakan: ini soal kebutuhan atau sekadar gengsi?
Pada mulanya, alasan menyewa iPhone terdengar masuk akal. Tidak semua orang mampu membeli ponsel dengan harga belasan hingga puluhan juta rupiah, tetapi tetap ingin mendapatkan kualitas kamera terbaik untuk mengabadikan momen spesial. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, dokumentasi bukan sekadar kenangan pribadi, melainkan juga konsumsi publik. Foto keluarga, video kebersamaan, hingga unggahan saat mudik seolah menjadi “ritual digital” yang tidak terpisahkan dari momen Lebaran.
Namun, di balik itu semua, saya melihat ada kecenderungan lain yang lebih dominan, yaitu keinginan untuk terlihat keren. Lebaran bukan hanya soal pulang kampung, melainkan juga semacam panggung sosial yang tidak tertulis. Ada dorongan halus untuk menunjukkan bahwa kita berhasil di perantauan; bahwa kita pulang membawa sesuatu, entah itu pakaian baru, kendaraan, atau bahkan sekadar citra diri yang tampak lebih mapan.
Di titik inilah, iPhone menjadi simbol. Bukan lagi sekadar alat komunikasi atau perangkat dokumentasi, tetapi penanda status. Maka, menyewanya pun menjadi jalan pintas untuk ikut tampil tanpa harus benar-benar memiliki. Masalahnya, ketika motivasinya lebih condong ke gengsi daripada kebutuhan, keputusan ini jadi terasa janggal.
Saya sering bertanya dalam hati: untuk apa sebenarnya menyewa iPhone saat pulang kampung? Jika tujuannya benar-benar untuk kebutuhan profesional—misalnya membuat konten, live streaming, atau dokumentasi acara penting—itu masih bisa ditoleransi. Tetapi jika hanya untuk dibawa pulang kampung agar terlihat lebih "wah" di hadapan keluarga, teman, atau tetangga, rasanya perlu direnungkan kembali.
Ada semacam ironi di sini. Kita ingin terlihat berhasil, tetapi cara yang ditempuh justru bersifat semu. Kita ingin diakui, tetapi pengakuan itu dibangun di atas sesuatu yang bukan milik kita sendiri. Pada akhirnya, yang kita kejar bukan lagi fungsi, melainkan persepsi.
Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana tekanan sosial bekerja secara halus. Tanpa disadari, kita sering membandingkan diri dengan orang lain. Melihat teman memamerkan gawai terbaru, melihat kerabat tampil lebih berkelas, lalu muncul dorongan untuk menyesuaikan diri meskipun harus sedikit memaksakan keadaan.
Padahal, sejatinya Lebaran bukan soal itu. Esensi dari pulang kampung adalah kembali ke akar, menemui keluarga, menyambung hubungan, dan merayakan kebersamaan secara sederhana. Tidak ada yang salah dengan ingin tampil baik, tetapi menjadi masalah ketika penampilan sesaat itu lebih penting daripada kondisi kenyataan.
Menurut saya, tren sewa iPhone ini bisa menjadi cermin kecil tentang cara kita memaknai kesuksesan. Apakah sukses itu harus selalu terlihat? Apakah kebahagiaan harus selalu dibuktikan dengan barang yang kita bawa? Atau justru, kita sedang terjebak dalam standar yang kita ciptakan sendiri?
Tidak ada yang melarang seseorang untuk menyewa iPhone. Itu pilihan. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah alasan di baliknya. Jika memang kebutuhan, silakan. Tetapi jika hanya demi gengsi, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar perlu?
Karena sejatinya, pulang kampung tidak pernah membutuhkan kamera terbaik untuk menjadi bermakna. Kebersamaan tidak bergantung pada jenis ponsel yang kita genggam. Dan harga diri tidak pernah ditentukan oleh apakah iPhone itu milik sendiri atau sekadar hasil sewa.
Pada hakikatnya, Lebaran bukan tentang terlihat hebat, tetapi tentang menjadi apa adanya.