Kolom
Stop Normalisasi Lebaran Flat: Ini Hari Raya, Bukan Hari Senin
Belakangan ini, ada satu tren yang agak bikin dahi berkerut: normalisasi “Lebaran gak silaturahmi, gak mudik, gak ngasih THR bocil, dsb”. Dengan dalih Idulfitri terlalu diglorifikasi, terlalu ramai, terlalu heboh, jadi lebih baik dijalani dengan santai saja, bahkan cenderung datar.
Kedengarannya sih bijak. Tapi kalau dipikir lagi, kok ada yang janggal?
Padahal memberi, bersilaturahmi,dan pulang kampung adalah hak. Kita gak diwajibkan, tapi juga tidak ada yang melarang. Ini juga bisa dibilang sebagai budaya tahunan. Lucunya, yang sering menggaungkan ini justru dari kalangan Muslim sendiri. Padahal, Idulfitri itu hari besar. Hari raya. Momen yang, secara makna dan tradisi, memang dirayakan.
Jadi kalau tiba-tiba ingin menjinakkan suasananya jadi biasa saja, rasanya seperti menurunkan volume kebahagiaan di hari yang seharusnya paling lantang.
Coba kita tengok ke luar. Di negara-negara dengan mayoritas Kristen, perayaan Natal justru sedang diusahakan kembali meriah. Banyak orang berlomba-lomba menghidupkan lagi suasana masa kecil.
Mulai dari pasang dekorasi, pakai outfit tematik, bikin tradisi baru supaya vibes-nya terasa. Istilahnya: bring back the magic. Mereka sadar, rasa meriah itu tidak datang sendiri, tapi harus diupayakan.
Nah, kita? Sudah punya tradisi yang hidup, suasana yang hangat, bahkan kultur berkumpul yang kuat, eh malah mau direduksi jadi “biasa aja”.
Pertanyaannya sederhananya kenapa?
Kalau alasannya capek, itu valid. Kalau alasannya ingin lebih tenang, juga tidak salah. Tapi kalau sampai menganggap merayakan itu berlebihan, mungkin kita perlu mendefinisikan ulang apa itu hari raya.
Hari raya itu, ya hari untuk merayakan.
Merayakan apa? Banyak. Merayakan selesai berpuasa sebulan penuh, merayakan kemenangan melawan diri sendiri, merayakan kesempatan berkumpul dengan keluarga yang mungkin hanya terjadi setahun sekali. Itu bukan hal kecil.
Makanya, wajar kalau orang ingin tampil lebih rapi, bahkan sedikit “niat” dalam berpakaian. Wajar kalau meja makan penuh makanan enak. Wajar kalau rumah ramai oleh suara obrolan, tawa, dan mungkin sedikit drama keluarga yang entah kenapa selalu ada tiap tahun.
Dan ya, wajar juga kalau ada tradisi berbagi rezeki dalam bentuk uang saku atau sekadar traktiran kecil. Itu bagian dari kegembiraan, bukan pemborosan semata.
Ada juga yang bilang, “Aku males kumpul-kumpul.”
Boleh. Capek sosial itu nyata. Tapi jangan sampai rasa malas itu pelan-pelan berubah jadi pembenaran untuk menjauh dari silaturahmi. Padahal, dalam konteks Idulfitri, silaturahmi bukan sekadar tradisi, ia punya nilai yang lebih dalam. Bahkan dianjurkan.
Dan kalau dipikir-pikir, ini cuma setahun sekali.
Setahun sekali kita “dipaksa” berhenti dari rutinitas, duduk bareng keluarga, saling menyapa, mungkin saling memaafkan. Setahun sekali kita punya alasan kuat untuk pulang, untuk hadir, untuk tidak sekadar sibuk dengan dunia masing-masing.
Kalau momen seperti ini juga ingin disederhanakan jadi biasa aja, lalu kapan lagi kita memberi ruang untuk hal-hal yang sifatnya emosional dan manusiawi?
Merayakan Idulfitri dengan penuh suka cita bukan berarti kita harus berlebihan. Bukan berarti harus memaksakan diri, apalagi sampai membandingkan dengan orang lain. Tapi juga bukan berarti kita menahan diri untuk bahagia.
Kalau mau dandan cantik, silakan. Mau masak banyak, boleh. Mau kumpul rame-rame, ayo. Mau bagi-bagi rezeki, bagus. Bahkan kalau setelah itu capek dan tidur siang, itu juga bagian dari perayaan yang sah.
Intinya sederhana: jangan sampai kebahagiaan kita dirampas oleh opini yang bilang “ngapain sih seramai itu”. Niatnya bijak, ujungnya hambar.
Karena pada akhirnya, Idulfitri bukan cuma soal kembali suci secara spiritual, tapi juga tentang merayakan hidup dengan orang-orang yang kita punya, dalam waktu yang terbatas.
Idulfitri bukan hari biasa, jangan pelan-pelan kita hilangkan meriahnya. Jadi kalau hari raya terasa meriah, ramai, bahkan sedikit melelahkan, mungkin itu tandanya kita benar-benar sedang hidup di dalamnya, bukan sekadar melewatinya.