Kolom
Menanti Nyali DPR: Mampukah Wakil Rakyat Memangkas 'Dompet' Sendiri?
Sobat Yoursay, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 191/PUU-XXIII/2025 baru-baru ini mengguncang kenyamanan para pejabat negara terkait aturan uang pensiun. Dalam amar putusannya, MK menyatakan bahwa UU Nomor 12 Tahun 1980 sudah tidak relevan dan inkonstitusional bersyarat. Namun, yang menarik perhatian adalah "napas lega" yang diberikan MK, bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diberi tenggat waktu selama dua tahun untuk merombak aturan jadul tersebut.
Artinya, selama dua tahun ke depan, para pimpinan dan anggota lembaga tinggi negara masih bisa tidur nyenyak sambil tetap menerima hak pensiun yang dianggap nggak adil itu. MK seolah memberikan "masa transisi". Tapi buat kita yang melihat dari luar, masa transisi ini terasa seperti omon-omon belaka.
Tenggat waktu 730 hari ini menjadi sorotan tajam di tengah publik. Di satu sisi, masa transisi dianggap perlu untuk menyusun regulasi yang komprehensif. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa waktu dua tahun ini hanyalah cara halus untuk meredam kegaduhan sementara. Sobat Yoursay, apakah ini benar-benar peluang emas untuk reformasi birokrasi, atau justru strategi untuk menunda masalah agar publik perlahan melupakannya?
MK memerintahkan DPR untuk mengubah aturan yang mengatur "dompet" anggota DPR itu sendiri. Ini ironi yang cukup menggelitik, bukan? Kita meminta sekelompok orang untuk memangkas privilese mereka sendiri dalam waktu 730 hari.
Masalahnya, dalam politik, waktu dua tahun itu bisa jadi sangat lama atau sangat sebentar, tergantung kepentingannya. Kalau untuk urusan yang darurat bagi elit, UU bisa selesai dalam hitungan hari (kita sudah sering lihat contohnya, kan?). Tapi untuk urusan yang "merugikan" diri sendiri, waktu dua tahun bisa habis hanya untuk rapat koordinasi, pembentukan pansus, sampai studi banding ke luar negeri yang ujung-ujungnya nggak menghasilkan apa-apa.
Selama ini, kita sering terjebak pada realita yang dianggap normal, bahwa perubahan besar butuh waktu lama. Kita diajak maklum kalau proses legislasi itu berbelit-belit. Tapi, mari kita bongkar asumsi itu. Kenapa harus menunggu dua tahun untuk menyadari bahwa pensiun seumur hidup bagi orang yang menjabat cuma lima tahun itu mencederai rasa keadilan sosial?
Tenggat waktu ini memberikan kesan adanya strategi "colling down". Biarkan isu ini mendingin, biarkan publik lupa, dan biarkan narasi dialihkan ke isu-isu lain yang lebih bombastis. Kalau dalam dua tahun DPR nggak bergerak, barulah UU itu batal demi hukum secara permanen. Tapi, siapa yang bisa menjamin bahwa di ujung tahun kedua nanti nggak akan ada "akrobat hukum" baru untuk mempertahankan status quo?
Dampak dari ketidakpastian selama dua tahun ini sebenarnya merugikan kita sebagai pembayar pajak. Setiap bulan selama 24 bulan ke depan, APBN masih akan terus mengucurkan dana untuk skema pensiun yang sudah dicap "cacat" oleh MK.
Sobat Yoursay, dua tahun itu adalah waktu yang cukup bagi seorang mahasiswa untuk menyelesaikan setengah masa studinya, atau bagi seorang pengusaha kecil untuk bangkrut dan bangkit kembali. Harusnya, waktu itu lebih dari cukup bagi wakil rakyat untuk menulis ulang beberapa lembar aturan agar lebih adil bagi rakyatnya.
Tapi, apakah kamu optimis bahwa dalam dua tahun ke depan kita akan melihat skema pensiun yang lebih membumi? Ataukah kita akan kembali bertemu di sini, dua tahun lagi, untuk meratapi hal yang sama karena "prosesnya masih berjalan"?
Mari kita tunggu, apakah dua tahun ini adalah peluang emas untuk membuktikan bahwa DPR berpihak pada rakyat, atau justru "pintu belakang" untuk menyelamatkan privilese terakhir mereka?