Kolom
Jam 3 Pagi di Layar Prabowo: Melawan Budaya ABS dengan Podcast Kritis
Pernahkah Sobat Yoursay merasa ada di sebuah lingkaran pertemanan yang isinya cuma tukang puji? Mau kamu pakai baju yang warnanya nggak nyambung sekalipun, mereka tetap bilang, "Wah, keren banget!" Rasanya pasti melayang, tapi di dalam hati kecil, kamu tahu ada yang nggak beres. Nah, fenomena inilah yang dalam dunia birokrasi kita disebut sebagai budaya "Asal Bapak Senang" atau ABS. Budaya yang ternyata sangat dibenci, tapi sekaligus menjadi tantangan terbesar bagi Presiden Prabowo Subianto.
Dalam video wawancara eksklusif Presiden Prabowo bersama para pakar dan jurnalis, ada satu pengakuan yang cukup unik dan terasa sangat personal dari Pak Presiden. Beliau bercerita bahwa rutinitas jam 3 paginya bukan cuma soal administrasi negara, tapi juga soal memantau apa yang sebenarnya terjadi di "dunia nyata" lewat layar ponsel. Prabowo menyatakan dengan nada bicara yang cukup santai namun serius:
"Saya bangun jam 3 pagi, saya lihat YouTube, saya lihat podcast-podcast kritis. Saya tidak mau hanya dengar laporan yang baik-baik saja, saya tidak mau kena budaya Asal Bapak Senang (ABS)."
Mendengar ini, rasanya kita ingin memberikan jempol, ya? Sobat Yoursay, bayangkan seorang Presiden yang mau meluangkan waktu subuhnya untuk mendengarkan kritik pedas dari para podcaster atau aktivis digital. Ini adalah langkah yang sangat progresif untuk ukuran pemimpin yang sering kali dipagari oleh barikade ajudan dan protokol yang super ketat. Seolah-olah, Prabowo ingin menegaskan bahwa ia adalah seorang outsider (orang luar) yang sedang berada di dalam (inside) sistem, berusaha mendobrak pintu informasi yang selama ini disaring ketat oleh para pembisik.
Namun, bisakah seorang Presiden benar-benar lepas dari jeratan ABS hanya dengan menonton YouTube? Sobat Yoursay, ABS di Indonesia itu sudah menjadi budaya yang lahir dari sistem birokrasi kita yang masih sangat feodal dan transaksional. Di saat Pak Presiden sibuk menonton kritik di YouTube pada jam 3 pagi, di jam-jam kerja, beliau tetap harus berhadapan dengan wajah-wajah lama yang pragmatis di kabinetnya.
Kita tahu, kabinet yang gemuk sering kali diisi bukan cuma berdasarkan kompetensi, tapi juga bagi-bagi "kue" kekuasaan. Lalu, apakah para menteri atau pejabat yang berasal dari latar belakang politik kepentingan itu berani memberikan laporan yang pahit kepada Presiden? Rasanya tidak mungkin kan?
Keberanian Pak Presiden menonton kritik ini patut kita pertanyakan, apakah ini sebuah transformasi kepemimpinan yang nyata, atau jangan-jangan hanya sekadar gimik komunikasi politik yang sangat cerdas?
Di era digital, narasi "Presiden yang merakyat dan mau mendengar kritik" adalah jualan yang sangat laku. Namun, kedaulatan informasi seorang pemimpin tidak boleh hanya bersandar pada algoritma media sosial. Sebab, algoritma YouTube pun punya biasnya sendiri.
Sobat Yoursay, dampak yang paling kita khawatirkan adalah jika kebiasaan menonton kritik ini tidak dibarengi dengan reformasi sistem birokrasi secara total. Kalau Presiden cuma "tahu" masalahnya lewat media sosial tapi tidak punya keberanian untuk memecat pejabat yang memberikan laporan palsu, maka budaya ABS akan tetap abadi.
Menonton kritik itu mudah, tapi mengubah kritik menjadi instruksi yang dijalankan oleh ribuan ASN di seluruh pelosok negeri adalah urusan lain yang jauh lebih berdarah-darah. Kita tidak butuh Presiden yang sekadar menjadi penonton setia kanal YouTube kritis, kita butuh Presiden yang mampu membuat para pejabat di bawahnya gemetar jika memberikan laporan yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Sobat Yoursay, apakah kamu merasa kebijakan-kebijakan yang lahir belakangan ini sudah mencerminkan suara-suara kritis yang katanya didengarkan oleh Pak Presiden pada jam 3 pagi itu? Ataukah kamu merasa suara kita tetap saja hanya menjadi angin lalu yang lewat di scroll layar ponsel beliau tanpa pernah menyentuh meja rapat kabinet?
Jika Prabowo benar-benar ingin menang melawan budaya ABS, beliau tidak bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri sebagai pemantau YouTube. Beliau butuh sistem hukum dan birokrasi yang memberikan penghargaan pada kejujuran dan hukuman berat pada kemunafikan. Tanpa itu, pengakuan "menonton podcast kritis" hanyalah sebuah cerita pengantar tidur yang manis, sementara negara ini tetap dijalankan dengan cara-cara lama yang sudah kita benci sejak lama.
Jadi, menurut kamu, Sobat Yoursay, apakah Pak Prabowo akan berhasil mendobrak tembok ABS itu, atau justru beliau yang pelan-pelan akan dijinakkan oleh kenyamanan laporan-laporan manis dari orang-orang di sekelilingnya?