Kolom
Narasi 'Not That Bad' Prabowo: Standar Kemajuan atau Jebakan Rasa Puas?
Sobat Yoursay, sudahkah kamu menyimak video dialog antara Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh dan jurnalis di Hambalang baru-baru ini? Dalam suasana yang hangat itu, ada satu momen Pak Presiden melontarkan sebuah pembelaan untuk tanah air kita yang tercinta.
Pak Prabowo dengan nada yang cukup tegas namun tetap tenang menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya tidak dalam kondisi yang buruk-buruk amat. Beliau membandingkan situasi di dalam negeri dengan kekacauan yang terjadi di negara-negara maju, bahkan Amerika Serikat sekalipun.
Dalam video tersebut, beliau mengatakan, "Anda datang ke banyak negara, di kereta api Anda dirampok, Anda dipukul hanya karena ras Anda. Anda kecewa sama polisi-polisi kita, kau lihat polisi-polisi di Amerika... Black Lives Matter, orang nggak bersalah tembak. Our country is not doing that bad."
Tentu saja, sebagai warga negara yang mencintai merah putih, kita pasti merasa bangga mendengar narasi bahwa negara kita lebih aman dibanding negeri Paman Sam. Tapi, tunggu dulu, Sobat Yoursay. Apakah membandingkan "buruknya" negara lain otomatis membuat kondisi kita menjadi "baik"?
Inilah yang kemudian memicu gelombang kritik dari netizen yang merasa ada sesuatu yang kurang tepat dari logika perbandingan tersebut. Banyak yang berkomentar bahwa tidak ada yang bilang Indonesia itu jelek sebagai sebuah negara atau tanah air. Yang dikritik selama ini bukanlah Indonesia secara fisik, melainkan sistem, rezim, dan program-programnya yang dirasa masih jauh dari kata sempurna.
Ketika kita mengeluhkan layanan publik atau kebijakan yang tidak pro-rakyat, itu bukan berarti kita benci pada Indonesia. Sebaliknya, itu adalah wujud cinta karena kita ingin Indonesia menjadi lebih baik. Jika kita terus-menerus menggunakan tameng "di sana lebih parah", kita justru berisiko terjebak dalam rasa puas diri. Seolah-olah, selama kita belum separah Amerika, maka kita tidak perlu berbenah secara revolusioner. Padahal, standar kebaikan kita harusnya bukan diukur dari kegagalan orang lain, melainkan dari potensi dan janji konstitusi kita sendiri.
Sobat Yoursay, poin menarik lainnya dari ucapan Pak Prabowo adalah mengenai institusi kepolisian. Beliau menyebutkan bahwa jumlah polisi di Indonesia mencapai ratusan ribu dan banyak dari mereka yang sudah bekerja keras serta berkinerja baik. Namun, beliau juga tidak memungkiri adanya anggota yang nakal.
"Polisi kita 400 ribu loh, banyak yang kerja keras, banyak kerja baik. Ada oknum-oknum nggak beres, di semua birokrasi kita banyak yang nggak beres. Ini we want to try."
Pengakuan soal adanya "oknum" ini memang sebuah kejujuran yang patut diapresiasi. Namun, Sobat Yoursay, di sinilah letak kegelisahan publik yang sering muncul di kolom komentar. Muncul anggapan sinis di masyarakat bahwa rasio "polisi baik" dibandingkan "oknum" ini sudah tidak seimbang lagi.
Ketika masyarakat meneriakkan kritik terhadap kepolisian, itu bukan berarti mereka tidak tahu ada ratusan ribu polisi yang bertugas. Masalahnya adalah sistem pengawasan yang lemah membuat "oknum" ini seolah-olah memiliki panggung yang lebih luas daripada mereka yang bekerja jujur.
Pak Presiden memang benar bahwa di semua birokrasi pasti ada orang yang tidak beres. Namun, tugas pemerintah bukan cuma mengakui keberadaan "oknum" tersebut, melainkan memastikan bahwa sistem yang ada tidak memberikan ruang bagi mereka untuk terus "nggak beres". Selama sistemnya masih memungkinkan terjadinya penyimpangan, maka oknum akan terus lahir kembali meskipun seribu polisi berkinerja baik mencoba menutupinya.
Sobat Yoursay, siapa sebenarnya yang lebih mencintai negara? Apakah mereka yang selalu memuji bahwa semuanya baik-baik saja, atau mereka yang berani berteriak lantang menunjukkan letak luka di sistem kita agar bisa segera diobati?
Mungkin, jawaban terbaiknya adalah kita butuh keduanya, tapi dalam porsi yang jujur. Kita butuh rasa optimisme Pak Prabowo, tapi kita juga sangat butuh ketajaman kritik masyarakat sipil untuk memastikan bahwa kata "not that bad" benar-benar berubah menjadi "truly great" di masa depan.
Jadi, menurut kamu, Sobat Yoursay, apakah membandingkan masalah sosial kita dengan negara lain adalah langkah yang bijak untuk menenangkan publik, atau justru itu malah bikin kita makin malas untuk berbenah secara serius?