Kolom

Selamat Datang di Era Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup untuk Bertahan Hidup

Selamat Datang di Era Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup untuk Bertahan Hidup
Ilustrasi pekerja sedang berjuang atas haknya (pexels/Tima Miroshnichenko)

Beberapa hari yang lalu, saya duduk semeja dengan seorang teman lama di sebuah kedai kopi pinggiran di Kediri. Di depan laptopnya yang sudah mulai lemot, dia sibuk mengedit desain pesanan klien sambil sesekali mengecek notifikasi dari aplikasi ojek daringnya.

Wajahnya kuyu, kantong matanya tebal, dan kopi hitamnya sudah dingin sejak sejam yang lalu. Saat saya tanya kabarnya, dia hanya tertawa getir sambil bilang, "Gaji kantorku cuma numpang lewat buat bayar cicilan dan kos. Kalau nggak ada side hustle begini, mungkin minggu depan aku udah puasa sebelum waktunya."

Curhatan teman saya itu bukanlah anomali. Di lingkaran pertemanan saya, baik sesama penulis, ojol, maupun pekerja kantoran—punya satu pekerjaan saja kini terasa seperti kemewahan yang langka.

Kita sedang dipaksa masuk ke dalam era di mana satu slip gaji saja tidak lagi sakti untuk menjamin keberlangsungan hidup sampai akhir bulan. Kita dipaksa menjadi "manusia serabutan" digital: pagi jadi staf administrasi, sore jadi penulis konten, dan malam mungkin jadi penjual frozen food di lokapasar.

Kita sedang mengalami normalisasi eksploitasi diri yang dibungkus dengan narasi "produktivitas" atau "semangat muda". Dilansir dari survei yang dilakukan oleh Deloitte, lebih dari 45% Gen Z dan Milenial memiliki pekerjaan sampingan untuk menutupi biaya hidup yang kian melambung.

Masalahnya, side hustle yang awalnya dianggap sebagai cara untuk mengejar passion atau tambahan uang jajan, kini telah bergeser menjadi instrumen bertahan hidup (survival mode) yang wajib hukumnya bagi para pejuang gaji UMR.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun angka pengangguran sempat menurun, jumlah pekerja paruh waktu dan pekerja informal justru meningkat drastis. Ini mengindikasikan bahwa banyak orang yang memiliki pekerjaan tetap namun masih harus mencari tambahan karena upah minimum yang diterima tidak lagi kompetitif dengan inflasi.

Dikutip dari laporan International Labour Organization (ILO), fenomena gig economy ini sering kali tidak dibarengi dengan jaminan kesehatan atau waktu istirahat yang memadai, sehingga risiko burnout meningkat hingga 60% pada pekerja dengan beban kerja ganda.

Menurut saya, kita sedang tidak baik-baik saja jika untuk sekadar makan layak dan membayar tempat tinggal, kita harus menyerahkan seluruh waktu istirahat kita. Waktu yang seharusnya dipakai untuk refleksi, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar tidur nyenyak, kini habis dikonversi menjadi rupiah demi rupiah tambahan. Kita kehilangan hak untuk beristirahat karena sistem ekonomi yang kita tinggali saat ini menganggap "diam" adalah sebuah kerugian finansial.

Saya sering merasa sedih melihat teman-teman saya kehilangan hobi dan waktu bermain mereka hanya karena terjebak dalam pusaran kerja sampingan ini. Kita menjadi generasi yang selalu merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu yang menghasilkan uang.

Tekanan untuk selalu produktif 24/7 telah merusak kesehatan mental dan fisik kita secara perlahan. Punya waktu luang tanpa memikirkan deadline tambahan adalah sebuah "flexing" baru yang jauh lebih mahal daripada punya gawai terbaru.

Fenomena ini adalah kegagalan sistem pengupahan yang tidak mampu lagi mengejar realitas kebutuhan hidup. Ketika gaji utama hanya "numpang lewat" untuk membayar kewajiban, maka kerja sampingan bukan lagi pilihan, melainkan paksaan.

Kita menjadi budak bagi diri kita sendiri, mengeksploitasi raga sendiri atas nama tanggung jawab, sementara para pemangku kebijakan mungkin masih sibuk berdebat soal angka pertumbuhan ekonomi yang tidak kita rasakan di saku celana.

Dampak jangka panjangnya adalah hilangnya kualitas hidup. Kita bekerja untuk hidup, tapi kenyataannya kita justru tidak sempat menikmati hidup karena terlalu sibuk bekerja. Mata kita lebih sering menatap layar daripada menatap langit sore, dan tangan kita lebih sering mengetik daripada berjabat tangan dengan orang-orang terkasih.

Sebagai penutup, saya ingin kita semua merenung. Sampai kapan kita akan membiarkan waktu istirahat kita dikomodifikasi secara terus-menerus? Memang, mencari tambahan itu perlu, tapi jangan sampai kita lupa bahwa kita adalah manusia, bukan mesin yang bisa digeber tanpa henti.

Apakah kamu merasa bangga dengan kesibukanmu yang tanpa jeda itu, atau sebenarnya kamu hanya sedang lelah dan tak punya pilihan lain? Punya satu pekerjaan yang cukup untuk hidup adalah hak, bukan kemewahan.

Mari mulai menuntut keseimbangan kembali, sebelum kita benar-benar lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang merdeka atas waktunya sendiri. Jangan sampai kita baru tersadar saat tubuh kita sudah tidak sanggup lagi menanggung beban "produktivitas" yang kita agung-agungkan itu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda