Kolom
Bengkel dan Perempuan: Memaksa Berani untuk Sekadar Servis Motor?
Ketika berdiskusi tentang perkiraan biaya ganti ban dalam, teman saya kaget mendengar harga yang biasa saya keluarkan untuk sekadar servis rutin motor. Ia menyarankan ke bengkel biasa, bukan ke bengkel resmi alias Ahas karena tentu biaya akan lebih mahal.
Namun, memilih bengkel resmi bagi perempuan seperti saya bukan semata-mata karena harga. Tapi juga keamanan dan kenyamanan. Di bengkel resmi saja pandangan mata petugas kerap kali masih membuat risih. Apalagi ketika datang ke bengkel yang tak resmi.
Bukan berniat menjelekkan orang yang bekerja di bengkel. Saya yakin tidak semua orang yang bekerja di bengkel seperti itu. Tapi tidak dipungkiri bahwa masih ada orang-orang seperti itu.
Bengkel seharusnya menjadi ruang netral, tempat siapa pun datang untuk memperbaiki kendaraan, tanpa melihat gender. Namun realitas di lapangan sering berkata lain.
Bagi banyak perempuan, masuk ke bengkel, terutama bengkel tidak resmi, bukan sekadar urusan teknis kendaraan, tetapi juga soal keberanian menghadapi lingkungan yang kerap tidak ramah.
Pengalaman yang sering muncul bahkan dimulai sejak langkah pertama masuk: siulan, komentar, atau cat calling dari sudut yang tidak terlihat. Hal-hal yang bagi sebagian orang mungkin dianggap “candaan,” tetapi bagi perempuan adalah bentuk gangguan yang nyata.
Situasi ini menciptakan rasa tidak nyaman, bahkan cemas, sebelum urusan utama memperbaiki kendaraan sempat dimulai.
Masalahnya bukan sekadar perilaku individu, tetapi budaya yang mengakar. Bengkel sering dipersepsikan sebagai ruang maskulin: kotor, keras, penuh oli, dan didominasi laki-laki. Dalam ruang seperti ini, kehadiran perempuan kerap dianggap “tidak biasa,” sehingga memicu respons yang tidak pantas.
Padahal, kebutuhan akan bengkel tidak mengenal gender. Perempuan juga mengendarai motor atau mobil, juga membutuhkan servis, juga berhak merasa aman.
Selain cat calling, ada bentuk ketidaknyamanan lain yang lebih halus tetapi tidak kalah penting: sikap meremehkan. Perempuan sering diasumsikan tidak paham soal kendaraan, sehingga penjelasan diberikan setengah hati, atau bahkan dimanfaatkan untuk menaikkan biaya servis.
Dalam beberapa kasus, perempuan merasa tidak punya pilihan selain percaya, meski ada keraguan.
Di sinilah ketimpangan terasa semakin jelas. Bukan hanya soal rasa aman secara fisik, tetapi juga posisi tawar. Ketika seseorang merasa tidak nyaman, ia cenderung ingin cepat selesai dan pergi. Kondisi ini membuat ruang untuk bertanya, menawar, atau memahami masalah kendaraan menjadi sangat terbatas.
Akibatnya, perempuan sering berada pada posisi yang kurang menguntungkan.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa banyak perempuan lebih memilih datang ke bengkel bersama teman, pasangan, atau keluarga laki-laki. Bukan karena tidak mampu, tetapi sebagai strategi untuk menghindari potensi gangguan. Ini adalah bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang belum sepenuhnya inklusif.
Padahal, jika dilihat lebih luas, kondisi ini merugikan semua pihak, termasuk pelaku usaha bengkel itu sendiri. Lingkungan yang tidak ramah akan membuat sebagian pelanggan enggan datang kembali. Dalam jangka panjang, ini berarti kehilangan kepercayaan dan potensi pasar.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Pertama, perubahan harus dimulai dari kesadaran bahwa bengkel adalah ruang publik. Artinya, ada standar perilaku yang harus dijaga. Candaan yang bersifat merendahkan atau mengganggu bukanlah hal yang bisa dinormalisasi. Pemilik bengkel memiliki peran penting untuk menetapkan batas dan memastikan lingkungan kerja yang profesional.
Kedua, edukasi menjadi kunci. Baik bagi pekerja bengkel maupun pelanggan. Pekerja perlu memahami pentingnya menghormati semua pelanggan tanpa memandang gender. Sementara itu, perempuan juga perlu didukung untuk memiliki pengetahuan dasar tentang kendaraan, agar tidak selalu berada dalam posisi pasif.
Ketiga, munculnya bengkel yang lebih ramah perempuan baik dari segi pelayanan maupun suasana perlu diapresiasi dan didukung. Ini bukan berarti menciptakan ruang eksklusif, tetapi menunjukkan bahwa standar pelayanan yang baik dan aman sebenarnya mungkin diwujudkan.
Namun, yang paling penting adalah mengubah cara pandang. Perempuan di bengkel bukan pemandangan langka atau objek perhatian, melainkan pelanggan yang datang dengan kebutuhan yang sama: memperbaiki kendaraan.
Selama hal ini belum benar-benar dipahami, pengalaman tidak nyaman akan terus berulang. Dan selama itu pula, bengkel akan tetap menjadi ruang yang terasa asing bagi sebagian orang, padahal seharusnya tidak.
Pada akhirnya, ini bukan sekadar isu bengkel. Ini adalah cermin bagaimana ruang publik masih belum sepenuhnya aman dan setara.
Dan perubahan, seperti biasa, dimulai dari hal sederhana. Menghormati orang lain sebagai manusia, bukan sebagai objek.