Kolom

TikTok Made Me Buy It: Saat Budaya Konsumtif dan FOMO Berkolaborasi

TikTok Made Me Buy It: Saat Budaya Konsumtif dan FOMO Berkolaborasi
Ilustrasi perempuan berbelanja (Pexels/Vitaly Gariev)

Jujur saja, saya pernah membeli barang hanya karena lewat di TikTok berulang kali. Awalnya cuma scroll santai, lalu muncul video skincare viral, parfum yang katanya “wangi cewek mahal”, sampai alat-alat lucu yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Karena terlalu sering muncul, akhirnya saya mulai merasa, “Kayaknya aku butuh deh”. Dan lucunya, setelah barang datang, kadang saya baru sadar kalau saya sebenarnya baik-baik saja sebelum melihat racun TikTok itu.

Fenomena “TikTok made me buy it” memang terasa sangat dekat dengan kehidupan perempuan Gen Z sekarang. TikTok bukan cuma tempat hiburan, tapi sudah berubah jadi “mesin hasrat” yang membuat orang terus ingin membeli sesuatu.

Ditambah budaya FOMO, banyak perempuan muda akhirnya terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang terlihat menyenangkan. Padahal kebiasaan ini diam-diam cukup melelahkan, baik secara mental maupun finansial.

TikTok dan Algoritma yang Terlalu Paham Kita

Menurut saya, salah satu alasan TikTok sangat berpengaruh adalah karena algoritmanya benar-benar tahu apa yang kita suka. Sekali kita menonton video skincare sampai habis, besok timeline langsung penuh racun skincare.

Sekali tertarik lihat outfit estetik, tiba-tiba semua konten berubah jadi rekomendasi fashion. Akhirnya kita terus terpapar hal-hal yang membuat ingin membeli sesuatu.

Dan semua itu dibungkus dengan cara yang terasa relatable. Influencer atau content creator sering membuat produk terlihat seperti solusi. Tanpa sadar, kita mulai percaya kalau membeli sesuatu bisa membuat hidup terasa lebih baik.

FOMO dan Tekanan untuk Selalu “Up to Date”

Sebagai perempuan muda, saya merasa tekanan sosial sekarang memang cukup besar. Media sosial membuat semua orang seperti berlomba tampil menarik, estetik, dan mengikuti tren terbaru.

Kalau ada produk viral, rasanya takut ketinggalan. Kalau teman-teman sudah punya, muncul keinginan untuk ikut membeli. Kalau tidak update tren, takut dianggap kurang gaul.

Inilah yang membuat budaya FOMO semakin kuat. Padahal tren di TikTok bergerak sangat cepat dan barang viral mudah berganti keesokan harinya.

Namun karena terus melihat orang lain membeli dan merekomendasikan produk, kita jadi sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan sesaat.

Konsumtif yang Dibungkus Self-Reward

Menurut saya, salah satu hal yang membuat budaya konsumtif sekarang terasa “aman” karena sering dibungkus dengan istilah self-reward. Capek kerja? Checkout. Lelah? Beli skincare baru. Sedih? Cari promo online.

Dan saya tidak munafik, kadang belanja memang bisa memberi rasa senang sesaat. Namun masalahnya, rasa senang itu sering cepat hilang.

Akhirnya belanja berubah jadi siklus: bosan, scroll TikTok, tergoda, checkout, senang sesaat, lalu bosan lagi. Dan TikTok terus memberi “racun” baru setiap hari.

Perempuan Gen Z dan Standar Estetik Media Sosial

Saya merasa perempuan sekarang hidup di tengah standar visual yang cukup melelahkan. Media sosial membuat semuanya harus terlihat estetik dalam semua aspek, termasuk kepemilikan barang yang sebenarnya sepele.

Tanpa sadar, banyak perempuan jadi merasa perlu membeli banyak hal demi membangun image tertentu di media sosial. Padahal sering kali barang-barang itu bukan kebutuhan utama, hanya bagian dari tekanan sosial digital.

Paylater dan Belanja Impulsif

Yang membuat fenomena ini semakin berbahaya adalah kemudahan transaksi digital. Tinggal klik checkout, pakai paylater, barang langsung datang. Tidak perlu menunggu punya uang dulu.

Akhirnya banyak orang membeli sesuatu hanya karena takut kehabisan promo atau ingin ikut tren viral. Padahal kondisi finansial belum tentu aman.

Kombinasi TikTok, FOMO, dan paylater benar-benar menjadi “paket lengkap” budaya konsumtif generasi sekarang. Dan yang paling menyeramkan, semua itu terasa normal.

Tidak Semua yang Viral Harus Dimiliki

Belakangan saya mulai belajar lebih sadar saat melihat racun TikTok. Saya mencoba bertanya:
“Aku benar-benar butuh atau cuma takut ketinggalan tren?”. “Aku suka barang ini atau cuma suka karena semua orang membicarakannya?”

Ternyata mempertahankan kesadaran tidak mudah. Karena algoritma media sosial memang dirancang untuk membuat orang terus ingin membeli dan terus merasa kurang.

Namun, seharusnya semakin dewasa seseorang, semakin penting kemampuan untuk mengontrol diri di tengah godaan digital seperti sekarang.

TikTok Bukan Musuh, Tapi Kita Tetap Harus Sadar

Saya tidak merasa TikTok sepenuhnya buruk, apalagi sampai harus dimusuhi. Banyak konten kreatif, inspiratif, dan menghibur di sana. Bahkan banyak UMKM juga terbantu lewat media sosial.

Hanya saja, penting untuk tetap sadar kalau platform seperti TikTok juga sangat kuat membentuk kebiasaan konsumtif di tengah tekanan sosial dan budaya FOMO.

Karena pada akhirnya, tidak semua barang viral harus dimiliki. Tidak semua tren harus diikuti. Dan tidak semua rasa insecure bisa diselesaikan lewat checkout keranjang belanja.

Kadang yang paling penting justru belajar merasa cukup, sebelum terus-menerus membeli sesuatu demi mengejar validasi yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda