Kolom
Stop Bilang "Bukan Saya": Mengapa Masbro Juga Bertanggung Jawab Atas Budaya Pelecehan
Setiap kali ada kabar viral soal kasus pelecehan seksual, timeline rasanya langsung terbelah dua. Di satu sisi, ada korban yang dipaksa kuat dan dibombardir komentar-komentar sok bijak. Di sisi lain? Ada gerombolan bapak-bapak dan brother seperjuangan yang buru-buru klarifikasi dengan wajah paling polos sedunia: “Tenang, bukan saya. Saya mah gentleman sejati.”
Kalimat sakti itu biasanya diucapkan sambil ngopi, seolah-olah pelecehan seksual itu cuma hobi eksklusif milik segelintir freak yang baru keluar dari gua, bukan hasil dari gotong royong budaya patriarki yang sudah kita siram dan pupuk selama bertahun-tahun. Halo, Masbro, kita ini hidup di dunia nyata.
Bayangkan saja, data KPPA menunjukkan angkanya itu fantastis: belasan ribu kasus per tahun (14.459 di 2024, lalu 12.763 di 2025). Dan perlu kita garis bawahi dengan spidol stabilo tebal: itu cuma yang berani lapor! Sisanya? Disimpan rapat-rapat karena si korban sudah capek duluan memikirkan akan disalahkan pakai jurus pamungkas: "Salah sendiri kenapa bajunya begitu."
Angka setebal ini seharusnya bikin kita berhenti buang-buang energi bertanya, “Kenapa korbannya diam aja?” dan segera beralih bertanya, “Kenapa pelakunya selalu dapat privilege pembelaan dan validasi dari tongkrongan?”
Lucunya, edukasi soal pelecehan ini selalu lebih galak, lebih detail, dan lebih ribet untuk kaum hawa. Mereka diajari tata cara berpakaian yang aman (seperti ada pakaian anti-predator), jam pulang yang ideal, sampai teknik menolak yang sopan agar tidak melukai ego sang cowok. Sementara kaum Adam? Cukup diingatkan satu kalimat template: “Jaga sikap, ya.” Setelah itu, selesai, beres. Spoiler alert: Tidak beres!
Pelecehan seksual itu tidak lahir dari niat iseng setelah minum kopi sachet semalam. Ia tumbuh perlahan, disiram setiap hari pakai candaan mesum di grup WhatsApp, budaya “cowok mah wajar kalau nakal”, dan kebiasaan menganggap empati sebagai kelemahan terlarang.
Begini, dalam buku psikologi mana pun, akarnya pasti kompleks: pendidikan gender yang timpang, literasi emosi yang parah, dan pemahaman consent yang setipis kertas struk belanja Indomaret.
Nelson (2021) sudah pernah bilang, cowok itu dibentuk untuk selalu kuat, dominan, dan alergi pada perasaan. Nangis sedikit dibilang drama. Sensitif dibilang lebay. Begitu agresif? Malah dipuji, dapat tepuk tangan. Dari sini lahirlah toxic masculinity: paket lengkap maskulinitas yang mahal di sampulnya, tapi isinya racun mematikan. Kekerasan jadi normal, pelecehan dianggap bercanda, dan kalimat “namanya juga cowok” berubah jadi surat izin bebas dosa yang bisa dipakai kapan saja.
Di dunia yang begini, mengobjektifikasi perempuan itu bukan lagi dosa, tapi naik pangkat jadi prestasi sosial. Obrolan mesum dijadikan alat validasi kejantanan. Edukasi consent dipelintir seolah cuma soal "suka sama suka", padahal intinya adalah persetujuan yang sadar, setara, dan bisa ditarik kapan saja. Banyak Masbro tumbuh dengan logika paling santai: “Ah, kalau niat gue nggak jahat, berarti aman lah.” Padahal, Masbro, dampak itu tidak pernah peduli niat kamu semurni embun pagi.
Lalu, apa yang bisa dilakukan Masbro selain sibuk bilang “saya bukan pelaku”? Jawabannya sederhana, tapi bikin tidak nyaman: belajar dan bercermin. Pencegahan itu tidak dimulai dari kantor polisi, tapi dari isi kepala kita sendiri. Edukasi sejak remaja itu penting, bukan untuk menyalahkan, tapi untuk membongkar mitos maskulinitas yang selama ini kita kira adalah kodrat dari lahir.
Khatimah dkk. (2025) menegaskan bahwa edukasi yang benar harus mengajarkan menghargai batasan pribadi dan empati pada korban. Bagi cowok, ini artinya belajar hal baru yang sering dianggap tabu: mengenali emosi sendiri tanpa merasa kehilangan harga diri.
Bandura, bapak teori Social Learning, sudah mewanti-wanti: manusia itu meniru lingkungannya. Kalau tongkronganmu menertawakan pelecehan, jangan kaget kalau besok pelakunya lahir dari gengmu sendiri. Di sinilah kontrol diri jadi barang mewah. Paputungan (2025) menyebutnya faktor protektif: kemampuan menahan dorongan, menyadari dampak, dan—yang paling berat—berani beda dari kelompok.
Selain itu, berhenti jadi penonton pasif. Jadi active bystander, bukan komentator di Twitter. Konsep 5D (Direct, Delegate, Distract, Document, dan Delay) itu realistis, bisa dilakukan manusia biasa yang males ribet. Kadang, cukup dengan tidak ikut tertawa saat ada lelucon pelecehan, itu sudah jadi perlawanan kecil yang bermartabat.
Pada akhirnya, mencegah pelecehan seksual bukan cuma soal melindungi korban. Ini juga soal menyelamatkan laki-laki dari warisan maskulinitas yang bikin kita capek sendiri. Ketika cowok diberi ruang untuk merasa, memahami batas, dan berhenti memelihara kejantanan palsu yang rapuh, semua orang diuntungkan. Rasa aman pun berhenti jadi bonus yang harus dipertanyakan, dan kembali ke tempat seharusnya: hak dasar yang tidak perlu klarifikasi siapa-siapa.