Kolom
Kejujuran Mi Ayam dan Kepalsuan Harga Ramen: Sejak Kapan Rasa Kalah oleh Layar Ponsel?
Uap panas mengepul dari mangkuk keramik besar yang terlihat cantik di bawah lampu kuning yang redup. Di atasnya, terdapat sepotong telur setengah matang dengan kuningnya yang meleleh sempurna, disajikan bersama irisan daging ayam yang ditata dengan presisi hingga milimeter. Saya menelan air liur, bukan karena lapar yang menggerogoti, melainkan karena menyadari bahwa untuk mendapatkan pemandangan ini, saya baru saja merelakan lembaran rupiah yang cukup untuk makan mi ayam selama tiga hari berturut-turut. Di tempat itu, di balik meja kayu yang sederhana, saya tengah menjalani sebuah ritual kontemporer: mengambil foto mangkuk ramen dari berbagai sudut sebelum akhirnya mencobanya, karena di zaman sekarang, cita rasa menjadi yang kedua setelah kepentingan untuk mempercantik tampilan di media sosial.
Kontradiksi ini menjadi sangat lucu ketika saya mengenang mangkuk ayam jago yang ada di gerobak biru yang sering saya kunjungi dekat kampus. Mi ayam adalah simbol kejujuran; ia ada hanya untuk satu tujuan, yakni mengusir rasa lapar. Dengan ayam bumbu kecap yang berlimpah ditambah sawi hijau yang segar, ia seperti pahlawan bagi perut mahasiswa yang kelaparan di akhir bulan. Akan tetapi, mengapa saat mi tersebut disebut "Ramen", dipindahkan ke sebuah ruangan ber-AC, dan ditambahkan narasi "autentik Jepang," harganya meroket berkali-kali lipat? Padahal, secara duniawi, keduanya hanya merupakan kombinasi antara karbohidrat, protein dari ayam, dan kaldu yang lezat.
Glorifikasi Gaya Hidup dan Haus Validasi
Fenomena ini merupakan sebuah manifestasi dari glorifikasi gaya hidup yang membuat anak muda merogoh kocek lebih dalam. Data dari McKinsey & Company mengenai perilaku konsumen menunjukkan bahwa generasi muda saat ini cenderung melakukan pengeluaran impulsif pada pengalaman yang bisa "dipamerkan" secara visual. Kita tidak hanya membeli makanan lagi; kita sedang membeli status dan pengalaman. Ramen telah sukses diposisikan sebagai produk gaya hidup kelas menengah ke atas, sedangkan mi ayam masih setia terjebak dalam kategori "makanan rakyat." Ada biaya-biaya tak terlihat yang kita bayar untuk setiap mangkuk ramen: biaya estetika, biaya untuk menyewa tempat yang Instagramable, dan biaya gengsi yang sebenarnya tidak memuaskan.
Akibatnya, muncul pusaran konsumerisme yang dangkal. Kita sering merasa lebih "berkelas" saat menyesap kuah kolagen di mal daripada menyeruput kuah kaldu di trotoar, meskipun mungkin lidah kita lebih akrab dengan bumbu lokal. Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang kebiasaan konsumsi masyarakat perkotaan, pengeluaran untuk makan di luar tidak meningkat karena intensitas makan yang lebih sering, melainkan karena perpindahan ke tempat-tempat yang menawarkan "pengalaman" visual. Kita sekarat karena kehausan validasi; logika ekonomi dikorbankan demi beberapa detik story Instagram.
Kearifan Lokal yang Terpinggirkan oleh Layar Ponsel
Harga ramen yang melambung tinggi kini telah menjadi sesuatu yang biasa, mencerminkan betapa mudahnya kita terpengaruh oleh tampilan luar. Mi ayam yang tulus dan mengenyangkan sering kali kita remehkan karena ia tidak memiliki "panggung" yang cukup megah untuk dipamerkan. Sementara itu, ramen terus memegang kendali dalam takhta kemahalannya, bergantung pada romantisasi budaya asing yang dianggap memiliki martabat lebih tinggi dibandingkan dengan kearifan lokal. Ini merupakan sebuah pukulan bagi akal sehat kita: sejak kapan sebuah hidangan diukur dari seberapa menarik tampilannya di layar ponsel berukuran enam inci?
Yang akhirnya membuat saya pulang dengan perut yang terasa "nanggung" meski dompet sudah menipis. Saya sudah mendapatkan kontennya, tapi kehilangan makna dari makan itu sendiri. Sebelum kita memesan mangkuk mahal berikutnya, penting untuk merenungkan: Apakah kita benar-benar merasa lapar, atau hanya menginginkan pengakuan? Hendaknya kita tidak mengorbankan akal sehat hanya untuk memenuhi tampilan feed yang sementara, sehingga membiarkan pikiran kita kelaparan di tengah banyaknya pilihan mi yang harganya sangat tidak wajar. Jadi, apakah Anda masih bisa memandang semangkuk mi ayam Anda dengan bangga besok, atau Anda masih membutuhkan pengakuan dari semangkuk kaldu mahal yang hanya muncul sebentar di linimasa Anda?