Kolom

Saya Masih Suka Membaca, Algoritmanya Saja yang Tidak Mengizinkan

Saya Masih Suka Membaca, Algoritmanya Saja yang Tidak Mengizinkan
ilustras buku [pexels/Min An]

Ada satu hal yang akhir-akhir ini cukup sering membuat saya merasa sedikit ironis dengan diri saya sendiri. Saya bisa duduk hampir dua jam scrolling video pendek tanpa terasa. Dari satu video ke video lain, dari konten receh, opini sosial, review buku, potongan podcast, sampai video orang masak mi instan tengah malam—semuanya lewat begitu saja, dan anehnya terasa ringan.

Namun, ketika saya membuka buku yang sebenarnya sudah lama ingin saya baca, baru dua halaman, pikiran saya sudah ke mana-mana. Tiba-tiba saya ingat notifikasi yang belum dibalas. Lalu tangan saya refleks meraih ponsel. Awalnya cuma ingin cek pesan, tapi tahu-tahu saya sudah kembali tenggelam di linimasa. Satu video, lalu video berikutnya, lalu satu jam hilang tanpa bekas.

Di titik itu saya mulai bertanya pada diri sendiri: mengapa membaca buku sekarang terasa jauh lebih berat daripada menggulir video pendek selama berjam-jam? Saya sadar, ini bukan semata-mata soal malas. Ada sesuatu yang berubah pada cara saya memusatkan perhatian. Dan saya rasa, saya tidak sendirian.

Fenomena Reading Slump dan Banjir Informasi

Fenomena reading slump atau kondisi ketika membaca terasa berat, kehilangan minat, bahkan sulit fokus pada teks panjang, semakin sering saya dengar di kalangan teman-teman sebaya. Beberapa teman saya yang dulu rajin membaca novel atau buku nonfiksi sekarang mengaku sulit bertahan lebih dari sepuluh menit. Ada yang bilang otaknya cepat lelah. Ada yang merasa halaman demi halaman berjalan lambat. Ada juga yang mengaku lebih nyaman membaca topik singkat atau menonton rangkuman buku dalam satu menit.

Saya melihat ini bukan sekadar persoalan kebiasaan pribadi, namun bagian dari fenomena sosial yang lebih luas—terutama di masyarakat perkotaan yang hidup di tengah banjir informasi. Kita hidup di zaman serba instan. Semua dibuat cepat, padat, dan menarik dalam hitungan detik. Informasi tidak lagi menunggu kita datang, tetapi aktif mengejar perhatian kita. Media sosial dengan algoritmanya tahu benar apa yang bisa membuat kita bertahan lebih lama.

Kalau saya menonton satu video tentang buku, beberapa menit kemudian beranda saya dipenuhi video sejenis. Jika saya berhenti sebentar pada konten yang memancing emosi, algoritma akan menyodorkan lebih banyak hal serupa. Tanpa sadar, perhatian saya sedang "dipelihara" untuk terus bergerak cepat. Di sini saya mulai merasa bahwa algoritma media sosial diam-diam “mencuri” jarak perhatian kita. Bukan dalam arti konspiratif, tetapi dalam cara yang sangat halus.

Setiap video pendek didesain untuk memberi stimulus instan: visual cepat, suara menarik, subtitle tebal, dan klimaks yang datang dalam hitungan detik. Otak kita akhirnya terbiasa menerima dopamin dalam format cepat dan terus-menerus. Akibatnya, ketika dihadapkan dengan buku yang menuntut kesabaran, imajinasi, dan fokus berlapis, otak kita seolah menolak. Membaca buku tidak memberi kepuasan secepat konten pendek. Ia butuh waktu untuk masuk, mencerna, lalu mengendap menjadi pemahaman.

Melawan Gangguan, Menemukan Kembali Fokus

Saya merasakan sendiri dampaknya. Dulu saya bisa duduk satu malam untuk menamatkan ratusan halaman. Sekarang, lima belas menit membaca saja terasa seperti usaha yang besar. Ini membuat saya berpikir bahwa kemerosotan minat baca bukan sekadar kehilangan mood membaca, tetapi gejala dari cara hidup yang terlalu cepat.

Meski begitu, saya tidak ingin jatuh pada kesimpulan bahwa media sosial adalah musuh. Masalahnya bukan pada platformnya, tetapi pada bagaimana saya menggunakannya. Saya mulai mencoba beberapa cara sederhana untuk kembali akrab dengan bacaan panjang.

Pertama, saya berhenti memaksakan diri membaca terlalu banyak. Saya mulai dari target kecil—lima halaman per hari. Kedengarannya sepele, tapi justru itu yang membuat saya tidak merasa terbebani. Kedua, saya membiasakan membaca tanpa ponsel di dekat saya. Sejujurnya, ini yang paling sulit sebab gangguan terbesar sering kali bukan dari luar, tetapi dari tangan saya sendiri yang refleks ingin membuka aplikasi. Ketiga, saya mulai memilih buku yang benar-benar dekat dengan keresahan saya saat ini.

Dan yang paling penting, saya belajar menerima bahwa kembali mencintai bacaan yang panjang adalah proses, bukan perlombaan. Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk bergerak cepat, mungkin membaca adalah salah satu bentuk perlawanan yang paling sunyi. Membaca mengajarkan saya untuk berhenti sejenak, menyelami pikiran orang lain, dan memberi ruang bagi pikiran saya sendiri untuk tumbuh.

Mungkin kita tidak benar-benar kehilangan minat membaca. Bisa jadi, kita hanya terlalu lama hidup dalam gangguan yang membuat fokus terasa asing. Lalu pertanyaannya, di antara ribuan video yang kita tonton setiap hari, kapan terakhir kali kita benar-benar duduk diam dan memberi waktu pada satu halaman untuk berbicara?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda