Kolom
Kartini dan Buruh Perempuan di Era Industri Modern
Setiap April, nama Kartini kembali dipanggil dalam upacara, seminar, dan unggahan media sosial. Kebaya dikenakan, kutipan suratnya dibagikan, dan semangat emansipasi perempuan menjadi simbol perubahan dan kesetaraan. Namun, di balik peringatan yang kerap hanya dianggap simbolik itu, ada kenyataan yang masih jauh dari cita cita Kartini. Perempuan masih menghadapi hambatan struktural, terutama mereka yang bekerja sebagai buruh di era industri modern.
Kartini berbicara tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan kemerdekaan perempuan menentukan masa depan. Ia menulis dalam konteks kolonialisme dan feodalisme Jawa.
Kini, perempuan menghadapi bentuk pembatasan baru yang tidak lagi berbentuk adat, melainkan sistem industri yang kompleks bercorak kapitalistik yang eksploitatif. Perempuan bekerja di pabrik tekstil, industri elektronik, hingga sektor layanan digital. Mereka hadir dalam rantai produksi global yang menjanjikan peluang, tetapi juga menyimpan ketimpangan.
Dalam banyak sektor industri, buruh perempuan menjadi tulang punggung produksi. Mereka dianggap teliti, sabar, dan mudah diatur. Stereotip ini sering dijadikan alasan untuk mempekerjakan perempuan dalam posisi dengan upah rendah.
Selain itu, buruh perempuan sering menghadapi sistem kerja kontrak, jam kerja panjang, serta minimnya perlindungan sosial. Mereka menjadi bagian dari mesin industri, tetapi tidak selalu memperoleh perlindungan yang layak.
Era industri modern juga membawa tantangan baru. Otomatisasi dan digitalisasi mengubah pola kerja secara cepat. Perusahaan mencari efisiensi dengan mengurangi tenaga kerja tetap. Buruh perempuan menjadi kelompok rentan karena mereka sering ditempatkan dalam posisi yang mudah digantikan.
Di sisi lain, peluang peningkatan keterampilan belum merata. Akses pelatihan teknologi masih terbatas, terutama bagi perempuan yang bekerja di sektor manufaktur atau informal.
Selain itu, beban ganda masih menjadi persoalan klasik. Perempuan bekerja di pabrik atau kantor, tetapi tanggung jawab domestik tetap melekat. Sistem industri belum sepenuhnya ramah terhadap kebutuhan buruh perempuan. Fasilitas penitipan anak, cuti melahirkan yang memadai, serta perlindungan terhadap pelecehan di tempat kerja masih belum menjadi standar universal. Dalam kondisi seperti ini, emansipasi yang diperjuangkan Kartini terasa belum sepenuhnya terwujud.
Perubahan memang terjadi. Perempuan kini memiliki akses pendidikan yang lebih luas. Banyak perempuan menduduki posisi kepemimpinan. Namun, kemajuan itu belum sepenuhnya dirasakan oleh buruh perempuan.
Ketimpangan masih tampak antara perempuan profesional dan perempuan di sektor industri. Padahal, semangat Kartini tidak hanya untuk segelintir perempuan yang berhasil menembus ruang elite, tetapi juga untuk mereka yang bekerja di lini produksi.
Momentum Hari Kartini seharusnya menjadi refleksi tentang kondisi buruh perempuan di era industri modern. Negara dan perusahaan perlu memastikan kebijakan yang berpihak pada perlindungan tenaga kerja perempuan. Upah yang layak, jaminan sosial, serta kesempatan pengembangan keterampilan harus menjadi prioritas. Selain itu, penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang bebas diskriminasi dan kekerasan.
Di sisi lain, gerakan perempuan juga perlu memperluas perspektifnya. Isu kesetaraan gender tidak hanya soal representasi di ruang publik, tetapi juga tentang kesejahteraan buruh perempuan. Kesetaraan tidak cukup diukur dari jumlah perempuan dalam posisi strategis. Kesetaraan juga harus diukur dari kondisi perempuan di lantai pabrik, di gudang logistik, dan di sektor ekonomi digital.
Kartini pernah membayangkan perempuan yang merdeka dalam berpikir dan bertindak. Dalam konteks hari ini, kemerdekaan itu berarti perempuan memiliki kesempatan yang setara, perlindungan yang memadai, dan kehidupan kerja yang manusiawi. Buruh perempuan di era industri modern menjadi cermin apakah cita cita itu sudah tercapai atau belum.
Peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol. Ia harus menjadi panggilan untuk memperbaiki sistem kerja yang lebih adil bagi perempuan. Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia tidak hanya menulis surat tentang pendidikan, tetapi juga tentang hak buruh, keadilan upah, dan perlindungan kerja. Sebab, emansipasi perempuan di era industri modern bukan sekadar soal peluang, melainkan juga tentang keadilan.