Kolom

Bicara Soal Kartini di 2026: Apakah Emansipasi Perempuan Masih Relevan?

Bicara Soal Kartini di 2026: Apakah Emansipasi Perempuan Masih Relevan?
Ilustrasi Kartini modern (Pexels/Muhammad Taufiq)

Setiap 21 April, nama R.A. Kartini kembali ramai dibicarakan. Media sosial penuh dengan ucapan selamat Hari Kartini, foto kebaya, dan kutipan-kutipan inspiratif tentang perempuan. Tidak dimungkiri jika saya kemudian melihat semua ini hanya sebagai perayaan simbolik.

Namun, semakin saya bertambah usia, saya mulai bertanya apakah di 2026 emansipasi perempuan masih relevan? Atau justru kita hanya mengulang narasi lama tanpa benar-benar memahami maknanya?

Emansipasi Perempuan Hari Ini

Kalau dilihat sekilas, perempuan hari ini sudah jauh lebih “bebas”. Kita bisa sekolah setinggi mungkin, bekerja di berbagai bidang, bahkan memimpin. Secara kasat mata, apa yang dulu diperjuangkan Kartini seolah sudah tercapai.

Saya pun pernah berpikir begitu. Hanya saja, semakin saya memperhatikan sekitar, semakin saya sadar kalau realitanya tidak sesederhana itu. Emansipasi hari ini bukan lagi soal boleh atau tidak boleh, tapi bagaimana perempuan tetap harus bernegosiasi dengan banyak ekspektasi.

Standar untuk Perempuan: Masih Membingungkan?

Sebagai perempuan, saya melihat ada standar yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk. Kita didorong untuk mandiri, tapi tetap diharapkan “tidak melupakan kodrat”. Kita didukung untuk berkarier, tapi masih sering diukur dari peran domestik.

Dan jujur saja, itu membingungkan. Saya sering melihat perempuan yang harus kuat di tempat kerja, tapi juga tetap “sempurna” di rumah. Harus ambisius, tapi tidak boleh terlihat terlalu dominan. Harus pintar, tapi tetap “rendah hati” dalam batas tertentu.

Seolah-olah ada garis tipis yang tidak tertulis, tapi harus selalu dijaga.  Di situlah saya mulai merasa jika emansipasi perempuan masih sangat relevan. Bukan karena kita tidak punya hak, tapi karena kita masih terus berjuang untuk benar-benar menjadi diri sendiri tanpa tekanan berlapis.

Media Sosial dan Standar Baru

Hal lain yang saya sadari adalah bagaimana media sosial ikut membentuk standar baru. Perempuan sekarang tidak hanya dibandingkan di dunia nyata, tapi juga di dunia digital. Ada tekanan untuk terlihat produktif, bahagia, mandiri, dan tetap “aesthetic” di saat yang sama.

Tanpa sadar, standar ini bisa lebih berat dari yang kita bayangkan. Saya pernah melihat bagaimana perempuan harus merasa “cukup” di semua aspek. Kalau fokus karier, dianggap kurang perhatian pada keluarga. Kalau fokus keluarga, dianggap tidak berkembang. Serba salah.

Memperluas Ruang untuk Perempuan: Masih Pentingkah?

Dan di situlah saya mulai melihat kalau perjuangan hari ini bukan lagi tentang membuka pintu, tapi tentang memperluas ruang di dalamnya. Kita sudah masuk, tapi belum sepenuhnya bebas bergerak.

Saya juga mulai memahami kalau emansipasi tidak selalu berarti menjadi sama dengan laki-laki, tetapi lebih kepada punya pilihan dan dihargai atas pilihan itu. Mau bekerja atau tidak, menikah atau tidak, punya anak atau tidak—seharusnya menjadi keputusan pribadi, bukan tekanan sosial.

Emansipasi 2026: Masih Relevan?

Sayangnya, realita belum sepenuhnya seperti itu. Masih ada komentar, penilaian, dan ekspektasi yang datang tanpa diminta. Meski begitu, di sisi lain, saya juga melihat perubahan yang cukup positif. Banyak perempuan yang mulai berani bersuara, menetapkan batas, dan mendefinisikan hidupnya.

Generasi sekarang lebih terbuka untuk membicarakan hal-hal yang dulu dianggap tabu—kesehatan mental, relasi yang sehat, hingga tekanan sosial. Dan menurut saya, ini juga bagian dari emansipasi.

Bukan lagi sekadar soal akses, tapi juga soal kesadaran. Jadi, apakah emansipasi perempuan masih relevan di 2026? Bagi saya, jawabannya iya, sangat. Hanya saja bentuknya sudah berubah.

Tidak lagi selalu terlihat dalam gerakan besar, tapi hadir dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari. Dalam keberanian untuk berkata “tidak”, dalam pilihan untuk hidup sesuai nilai sendiri, dan dalam usaha untuk tidak terus-menerus memenuhi ekspektasi orang lain.

Melanjutkan Perjuangan R.A. Kartini

Mungkin, kalau R.A. Kartini hidup hari ini, perjuangannya juga akan berbeda. Bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa batasan yang tidak perlu. Dan mungkin, tugas kita sekarang bukan hanya merayakan namanya setiap tahun.

Kita harus benar-benar melanjutkan semangatnya dengan cara yang relevan dengan zaman. Karena pada akhirnya, emansipasi bukan tujuan akhir melainkan proses yang terus berjalan.

Dan selama perempuan masih harus berjuang untuk didengar, dihargai, dan dipahami sepenuhnya, percakapan tentang Kartini akan selalu punya tempat. Bukan sebagai simbol semata, tetapi pengingat kalau kita masih punya jalan untuk ditempuh.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda