Kolom
May Day dan Nasib Lulusan Baru: Gaji Dipotong Paksa, Kerja Borongan
Momen May Day atau Hari Buruh Internasional sering kali hanya diidentikkan dengan buruh pabrik. Padahal, ada kelompok lain yang sedang berjuang di "medan perang" yang tak kalah kejam: para fresh graduate. Sebagai buruh kerah putih masa depan, mereka justru kerap menjadi sasaran empuk praktik eksploitasi yang dibungkus rapi dengan kata "pengalaman".
Tragedi Lowballing: Yang Berpengalaman Saja Dipangkas
Belakangan ini, viral di portal lowongan kerja seperti Jobstreet mengenai fenomena lowballing yang tidak masuk akal. Bayangkan, ada laporan mengenai oknum HRD yang sengaja memangkas budget gaji kandidat dari Rp10 juta menjadi Rp5 juta. Hal yang mengerikan adalah praktik ini dilakukan demi mengejar "bonus efisiensi" bagi sang HRD.
Ralat pentingnya: korban dalam kasus tersebut bukanlah lulusan baru, melainkan mereka yang sudah berpengalaman. Namun, justru di sinilah letak horornya. Jika pekerja yang sudah punya "jam terbang" saja berani dihargai separuh harga, lantas bagaimana nasib para fresh graduate? Kita yang baru lulus seolah dianggap tidak punya nilai tawar, sehingga perusahaan merasa sah-sah saja memberikan penawaran gaji yang jauh di bawah standar kemanusiaan.
Eksploitasi Jobdesc "Palugada"
Tak berhenti di soal gaji, eksploitasi ini merembet ke beban kerja. Banyak perusahaan memanfaatkan status fresh graduate untuk memberikan job description "palugada" (apa lu mau, gue ada). Sering kali satu orang diminta menguasai lima bidang sekaligus misalnya admin, desain, hingga sales namun dengan upah yang tak sebanding. Di sini, semangat "ingin belajar" anak muda justru diperas untuk menutupi kekurangan tenaga kerja perusahaan dengan biaya semurah mungkin.
Kekejaman Rekrutmen: Antara Ghosting dan Ketidakpastian
Pengalaman pribadi saya menjadi bukti betapa rendahnya penghargaan terhadap calon pekerja. Saya pernah berada di posisi sudah siap melangkah secara profesional, namun tiba-tiba dighosting oleh HRD tanpa kejelasan. Beruntung saya belum sempat berangkat ke lokasi kerja yang mungkin memakan biaya transportasi dan akomodasi.
Ghosting bukan sekadar masalah etika, tapi bukti bahwa manusia sering kali hanya dianggap sebagai angka cadangan. Selama martabat manusia tidak dihargai dalam proses rekrutmen di Indonesia, selama itu pula eksploitasi akan terus dinormalisasi.
Mencari Solusi: Universitas Harus Turun Tangan
Program magang pemerintah memang bagus, namun persaingannya sangat berdarah-darah dan tidak mampu menampung jutaan lulusan setiap tahunnya. Kita butuh solusi yang lebih sistemis.
Kampus seharusnya tidak hanya menjadi pabrik ijazah. Universitas perlu membangun kerja sama strategis dengan perusahaan dalam bentuk kelas pelatihan terintegrasi. Mahasiswa yang lulus dari kelas tersebut harus memiliki kepastian atau prioritas untuk langsung diterima bekerja dengan standar gaji dan beban kerja yang jelas. Jalur resmi ini penting agar posisi tawar lulusan baru tidak lagi lemah di hadapan perusahaan yang nakal.
Penutup: Memanusiakan Manusia
Pada akhirnya, perayaan May Day tahun ini harus menjadi pengingat bagi kita semua. Selama sistem ketenagakerjaan kita tidak dilandasi pada prinsip memanusiakan manusia, maka selama itu pula praktik eksploitasi akan tetap abadi. Jika di tahap awal rekrutmen saja martabat manusia sudah tidak dihargai dan hanya dianggap sebagai komoditas yang bisa ditawar seenaknya, jangan pernah berharap akan ada kesejahteraan yang hakiki.
Mari kita berhenti menormalisasi eksploitasi dengan dalih "yang penting kerja". Karena tanpa rasa hormat terhadap sesama manusia, dunia kerja hanyalah sebuah lingkaran setan yang menghisap mimpi-mimpi para pemuda. Sudah saatnya kita menuntut transparansi, keadilan, dan penghargaan yang layak atas tenaga dan pikiran kita.