Cerita Fiksi
Kisah Dua Sisi di Lembah Hijau: Rahasia di Balik Rumah Busuk
Lembah Hijau adalah tempat yang damai, kecuali untuk urusan bertetangga antara Clarissa si Kupu-Kupu dan Bron si Kumbang Kotoran.
Clarissa adalah definisi dari kesempurnaan higienis. Sayapnya yang sewarna langit senja selalu disikat tiga kali sehari menggunakan embun pagi. Ia hanya mau hinggap di bunga melati yang mekar sempurna. Baginya, debu adalah musuh bebuyutan, dan kotoran adalah kejahatan terhadap estetika alam.
Lalu, tepat sepuluh langkah di bawah dahan Clarissa, tinggallah Bron.
Bron adalah replika berjalan dari tempat pembuangan sampah. Ia ke mana-mana menyeret sebuah cangkang bundar raksasa yang ia buat sendiri dari rajutan lumpur, sisa-sisa buah busuk, dan segala hal menjijikkan yang bisa kamu bayangkan. Bagi Bron, semakin menyengat bau rumahnya, semakin puitis hidupnya.
"Bron! Demi nektar yang suci, bisakah kamu menjauhkan gundukan berjalanmu itu dari dahan rumahku?!" jerit Clarissa sambil menutup hidungnya dengan kedua sayap, wajahnya sudah membiru menahan napas.
Bron menjulurkan kepalanya dari balik cangkang, menyeka lumpur di dahinya, lalu terkekeh komikal. "Oh, Clarissa, kamu terlalu tegang. Ini bukan bau busuk, ini namanya 'Aromaterapi Alami'. Lagi pula, rumah kotor ini adalah mahakaryaku!"
"Mahakarya katamu? Itu menjijikkan! Dunia ini akan jauh lebih indah kalau semuanya bersih tanpa makhluk jorok sepertimu!" ketus Clarissa sebelum terbang tinggi-tinggi untuk mencari udara segar.
Bron hanya mengedikkan bahu, lalu kembali memoles rumah lumpurnya dengan sepotong kulit pisang yang sudah menghitam.
Ketenangan Lembah Hijau tidak bertahan lama. Angin utara mulai bertiup, membawa awan hitam yang menggulung, menandakan datangnya Musim Dingin Ekstrem. Angin es yang menusuk tulang mulai menyapu lembah, mematikan kelopak-kelopak bunga, dan membekukan sisa nektar.
Clarissa panik. Sebagai makhluk yang terbiasa dengan keindahan dan kebersihan, ia sibuk menata sarang daruratnya di atas dahan pohon. Ia menyapu setiap helai daun kering agar sarangnya terlihat rapi dan estetik. Namun, saking fokusnya pada kebersihan, ia lupa satu hal: sarangnya terlalu tipis dan terbuka. Angin es dengan mudah menerobos masuk.
Sementara itu, di bawah, Bron justru makin sibuk. Ia mengumpulkan tumpukan sampah organik, dedaunan basah yang membusuk, dan kotoran hewan sebanyak-banyaknya untuk dimasukkan ke dalam cangkang bundarnya.
"Dasar serangga aneh," gumam Clarissa dari atas dahan, tubuhnya mulai menggigil hebat. "Sudah tahu mau badai, malah makin giat mengumpulkan kotoran."
Malam puncaknya tiba. Badai salju dan angin ribut mengamuk di Lembah Hijau. Suhu turun drastis hingga ke titik beku.
Di atas pohon, Clarissa berada di ambang maut. Sayap indahnya yang kaku tidak bisa lagi digerakkan. Sarangnya yang bersih berkilau sama sekali tidak bisa menahan hawa dingin yang membekukan. Tubuhnya gemetar hebat, matanya mulai sayu, dan ia sadar ia tidak akan selamat sampai pagi jika terus berada di sana.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Clarissa menjatuhkan diri dari dahan. Ia merangkak di atas tanah yang membeku, menyeret tubuhnya menuju satu-satunya struktur yang masih berdiri kokoh di bawah pohon: rumah lumpur busuk milik Bron.
"Tok... tok... tok..." Clarissa mengetuk cangkang itu dengan kaki depannya yang gemetar.
Pintu cangkang terbuka. Kepala Bron menyembul keluar, memancarkan hawa hangat yang aneh. "Astaga, Clarissa! Kamu terlihat seperti es loli!"
"Bron... tolong... aku membeku..." bisik Clarissa, membuang seluruh harga dirinya ke dalam tumpukan salju.
"Masuk! Cepat masuk!" Bron menarik Clarissa ke dalam.
Saat Clarissa melangkah masuk, ia sudah bersiap untuk pingsan karena bau busuk. Memang benar, bagian dalam rumah Bron dipenuhi pemandangan konyol dan menjijikkan dari tumpukan sampah. Tapi, ada satu hal yang membuat Clarissa terbelalak: tempat itu sangat hangat.
Di dalam ilmu alam, tumpukan sampah organik dan kotoran yang mengalami pembusukan alami (kompos) akan menghasilkan proses kimia yang melepaskan kalor atau energi panas. Di saat seluruh lembah membeku, rumah jorok Bron justru menjadi satu-satunya tempat yang memiliki sistem penghangat ruangan alami.
Bron memberikan selembar daun kering yang hangat kepada Clarissa. "Selimuti tubuhmu. Memang agak bau kulit jeruk busuk, tapi ini hangat."
Clarissa, yang tadinya mengagungkan kesucian dan kebersihan, malam itu tidur dengan nyenyak di dalam ruangan paling jorok di Lembah Hijau, didekap oleh rasa hangat dari sesuatu yang selalu ia benci.
Matahari pagi akhirnya terbit, mencairkan es yang membeku di Lembah Hijau. Badai telah berlalu.
Clarissa membuka matanya. Tubuhnya kembali segar dan hangat. Ia melangkah keluar dari cangkang Bron, disusul oleh si pemilik rumah yang meregangkan otot-ototnya.
Clarissa melihat ke bawah. Tubuhnya yang biasanya berkilau kini ketempelan noda lumpur dan baunya mirip dengan sup kubis basi. Namun, tidak ada lagi gurat kemarahan di wajahnya. Ia memandang sayapnya, lalu memandang Bron yang sedang tersenyum konyol seperti biasa.
"Bron," panggil Clarissa pelan.
"Ya? Maaf ya kalau rumahku membuat sayap indahmu jadi ternoda," kata Bron agak segan.
Clarissa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tulus. "Tidak. Aku justru ingin berterima kasih. Selama ini, aku menghabiskan seluruh hidupku untuk menjadi bersih, mengira bahwa kebersihan adalah satu-satunya hal yang berharga di dunia ini. Tapi semalam... aku baru sadar. Aku tidak akan pernah tahu apa arti kenyamanan dan kehangatan yang menyelamatkan nyawaku, jika aku tidak menyentuh duniamu yang kotor."
Bron terkekeh geli, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, kamu bisa saja. Lagipula, kalau dipikir-pikir, aku juga tidak akan pernah tahu seberapa berharganya kehangatan rumah kotorku ini, kalau makhluk sebersih dirimu tidak datang dan mengakuinya."
Clarissa tertawa kecil, suara tawa yang tidak lagi terdengar sombong. "Benar juga. Kita ini aneh, ya?"
"Seperti siang dan malam," sahut Bron. "Kamu tidak akan tahu apa itu siang kalau tidak ada malam yang gelap. Dan kita ini tidak akan pernah paham apa itu bersih, kalau tidak ada hal kotor sebagai pembandingnya."
Sezeit hari itu, Lembah Hijau menyaksikan pemandangan baru yang unik. Clarissa tetap menjadi kupu-kupu yang bersih dan anggun, dan Bron tetap menjadi kumbang yang hobi menggelindingkan kotoran.
Mereka tetap bertolak belakang, tetapi mereka tidak lagi bertengkar. Karena kini mereka tahu, bersih dan kotor ada bukan untuk saling memusnahkan, melainkan untuk membuat dunia berjalan dalam keseimbangan yang utuh.