Kolom

Hardiknas dan Jurang UMR: Mengapa Tidak Semua Anak Berani Bermimpi?

Hardiknas dan Jurang UMR: Mengapa Tidak Semua Anak Berani Bermimpi?
Ilustrasi anak-anak di pinggiran kota (Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu dirayakan dengan gegap gempita narasi "Merdeka Belajar". Namun, setelah menjalani hidup 4 tahun di Medan dan kini di Batam, saya menyadari satu hal pahit: keberanian seorang anak untuk bermimpi ternyata sering kali dibatasi oleh angka Upah Minimum Regional (UMR) orang tuanya. Besaran upah bukan sekadar soal daya beli, melainkan penentu "cakrawala harapan" seorang anak.

‎Batam dan Ambisi yang Menyesakkan

‎Di Batam, kota industri dengan UMR tinggi, pendidikan adalah kompetisi yang nyaris tanpa jeda. Saya teringat bagaimana anak-anak SMP di sana seolah diprogram menjadi "mesin" belajar. Pulang sekolah bukan berarti istirahat, melainkan bergegas ke tempat les dengan tas penuh buku berat hingga malam hari. 

‎Orang tua di Batam, yang sadar akan kerasnya persaingan industri, memproyeksikan kecemasan ekonomi mereka menjadi tekanan akademik bagi anak. Tidur cukup adalah kemewahan. Di sini, anak-anak mungkin tertekan, namun sistem dan ekonomi mendukung mereka untuk memiliki target masa depan yang konkret.

‎Namorambe dan "Santuy" yang Lahir dari Keterbatasan

‎Pemandangan ini berbalik 180 derajat saat saya memperhatikan lingkungan di Namorambe, pinggiran Medan. Di sini, suasananya jauh lebih "santuy", namun dalam artian yang memprihatinkan. Alih-alih menuju bimbingan belajar, banyak anak SMP yang lebih memilih nongkrong, merokok, atau terjebak euforia geng motor.

‎Apakah mereka malas? Tidak sesederhana itu. Dengan UMR yang jauh lebih rendah, orang tua di sini sering kali harus memilih antara biaya les atau kebutuhan pokok. Rendahnya upah menciptakan "mentalitas bertahan hidup" (survival mode) yang membuat pendidikan tambahan dianggap sebagai beban finansial, bukan investasi. Akhirnya, anak-anak kehilangan figur model dan tujuan, lalu mencari validasi di jalanan.

‎Ilusi Belajar Gratis: Masalah Kuota Eceran

‎Narasi bahwa "belajar bisa lewat YouTube" sering kali abai terhadap realitas. Di kota dengan ekonomi mapan, Wi-Fi bulanan adalah standar. Namun di Namorambe, akses internet adalah ekonomi "eceran". Mereka membeli kuota harian.

Ketika uang hanya cukup untuk makan, YouTube bukan lagi sarana belajar, melainkan pilihan sulit antara hiburan singkat atau data yang cepat habis. Bagaimana bisa konsisten belajar daring jika aksesnya saja harus menunggu sisa uang jajan?

‎Saran dan Solusi: Memutus Rantai Ketimpangan

‎Agar Hardiknas tidak sekadar seremoni, perlu ada langkah nyata dari pemangku kepentingan:

‎1. Pemerintah (Subsidi Digital dan Infrastruktur)

Pemerintah daerah harus menyediakan titik Wi-Fi gratis di balai desa khusus untuk akses portal pendidikan. Selain itu, lumbung desa harus diperluas dan kesejahteraan petani ditingkatkan melalui stabilitas harga pangan.

Jika perut petani di Namorambe kenyang dan sejahtera, beban ekonomi keluarga berkurang, sehingga anak-anak mereka punya kesempatan untuk fokus belajar.

‎2. Sekolah (Ruang Aspirasi dan Motivator)

Sekolah harus menghadirkan sosok motivator atau praktisi sukses dari berbagai bidang untuk membangkitkan kembali mimpi anak-anak yang mulai padam. Program ekstrakurikuler harus diperkuat sebagai wadah positif pengganti les privat yang tak terjangkau.

Harapan untuk Masa Depan

‎Pendidikan tidak berdiri di ruang hampa; ia berdiri di atas pondasi ekonomi yang kokoh. Jika kita ingin melihat anak-anak di daerah seperti Namorambe kembali bersemangat mengejar cita-cita, maka kita harus memastikan urusan perut dan akses informasi mereka terjamin terlebih dahulu.

Stabilitas harga pangan dan kesejahteraan petani adalah kunci agar orang tua memiliki "napas" lebih untuk mendukung pendidikan anak-anak mereka.

‎Sudah saatnya kita berhenti menghakimi anak-anak yang kehilangan arah di jalanan. Kemerdekaan belajar yang sesungguhnya baru akan tercipta ketika seorang anak desa memiliki keberanian bermimpi yang sama besarnya dengan anak di kota industri.

Jangan biarkan mimpi mereka padam hanya karena angka UMR yang tak cukup untuk membeli kuota, apalagi untuk sekadar membayangkan masa depan yang lebih cerah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda