Kolom

Sapi Kurban APBN Rp100 Miliar: Saat Menkeu Mengaku Ketinggalan Info

Sapi Kurban APBN Rp100 Miliar: Saat Menkeu Mengaku Ketinggalan Info
Ilustrasi sapi kurban (Unsplash/Mufid Majnun)

Perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah tahun ini menyisakan sebuah cerita yang cukup memancing nalar kritis kita, Sobat Yoursay. Isu ini bermula dari pengadaan sapi kurban Presiden Prabowo Subianto yang jumlahnya fantastis, yakni mencapai 1.098 ekor sapi yang disebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Total anggaran yang digelontorkan dari APBN melalui pos bantuan kemasyarakatan Presiden ini diperkirakan menyentuh angka Rp100 miliar.

Menariknya, saat awak media mencoba mengonfirmasi angka jumbo tersebut kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai salat Idul Adha, beliau justru mengaku belum mengetahui detail anggarannya dan meminta wartawan bertanya langsung ke Kementerian Sekretariat Negara. Sebuah respons yang langsung memicu tanda tanya besar di kepala publik. Bagaimana mungkin seorang bendahara negara sekelas Menteri Keuangan bisa ketinggalan info tentang keluarnya dana 100 miliar rupiah?

Sobat Yoursay, mari kita bedah kejanggalan ini dari masalah yang paling kasatmata dulu, yaitu buruknya komunikasi publik antarpejabat kita. Sungguh terasa aneh melihat ketidaksinkronan pernyataan antara pihak Kementerian Keuangan dan Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, yang sebelumnya sudah mengonfirmasi asal-usul anggaran tersebut. Ketika urusan uang rakyat senilai ratusan miliar bisa dijawab dengan kalimat "belum mengecek informasi" oleh sang penjaga gawang keuangan negara, masyarakat tentu berhak merasa cemas. Ketiadaan koordinasi yang solid ini memperlihatkan betapa longgarnya pengawasan internal dan transparansi dalam pengelolaan dana bantuan kemasyarakatan Presiden.

Namun, Sobat Yoursay, sebenarnya persoalannya bukan hanya masalah miskomunikasi atau apakah sang Presiden boleh berkurban menggunakan duit pribadi atau APBN. Hal lain yang membuat publik merasa sensitif adalah lonjakan volume jumlah sapi yang sangat drastis dan tidak masuk akal.

Mari kita bandingkan dengan rekam jejak masa akhir pemerintahan Presiden Jokowi yang kala itu "hanya" menyalurkan sekitar 68 ekor sapi kurban dari APBN. Kini, di era pemerintahan yang baru, jumlahnya mendadak meroket tajam menjadi 1.098 ekor. Sebuah lompatan kuantitas yang luar biasa masif. Di tengah situasi ekonomi global dan domestik yang sedang dihantui oleh bayang-bayang inflasi drastis, tindakan menggelontorkan Rp100 miliar hanya untuk program seremonial tahunan seperti ini tentu terasa sangat tidak peka terhadap penderitaan rakyat kecil.

Membagikan ribuan sapi ke berbagai daerah dengan dana APBN bernilai fantastis terkesan seperti gaya foya-foya baru yang dibungkus dengan narasi ibadah. Sobat Yoursay, ibadah kurban esensinya adalah tentang keikhlasan dan pengorbanan pribadi, bukan tentang seberapa besar kita bisa menggunakan fasilitas uang pajak rakyat untuk membangun citra politik yang dermawan di mata publik.

Ketika daya beli masyarakat sedang terpuruk, harga kebutuhan pokok melonjak, dan ruang fiskal negara seharusnya diperketat untuk sektor-sektor produktif, keputusan menghabiskan Rp100 miliar untuk pengadaan sapi dinilai sangat salah prioritas. Uang sebesar itu alangkah jauh lebih berdampak jika dialihkan untuk subsidi pangan murah atau penguatan sektor peternakan lokal yang mandiri agar harga daging bisa dijangkau oleh semua kalangan sepanjang tahun.

Ironisnya, besarnya anggaran ini justru berisiko menciptakan pemborosan di lapangan jika proses distribusi dan pengawasannya tidak dilakukan secara ketat. Kita tidak ingin niat yang katanya "bantuan kemasyarakatan" ini justru menjadi ladang pemborosan anggaran baru yang tidak tepat sasaran. Kebijakan yang populis namun minim urgensi seperti ini hanya akan melanggengkan kebiasaan pemerintah dalam menghambur-hamburkan uang negara untuk program-program pencitraan, sementara masalah struktural ekonomi di akar rumput dibiarkan menganga tanpa solusi yang konkret.

Sobat Yoursay, sudah saatnya kita mendorong para pembuat kebijakan untuk berhenti menggunakan APBN sebagai alat untuk mencari simpati instan. Pengelolaan keuangan negara harus didasarkan pada asas efisiensi, ketepatan prioritas, dan kepekaan terhadap kondisi riil masyarakat.

Isu sapi kurban ratusan miliar ini harus menjadi bahan evaluasi total bagi sinkronisasi kinerja kabinet saat ini. Jangan biarkan ketidakjelasan informasi antar-kementerian membuat publik semakin skeptis terhadap komitmen penghematan anggaran yang sering didengungkan pemerintah di atas podium.

Bagaimana menurut pandangan kalian, Sobat Yoursay? Apakah kalian merasa pengadaan 1.098 ekor sapi menggunakan APBN ini sudah tepat sebagai bentuk kepedulian Presiden kepada rakyat, atau kalian sepakat bahwa anggaran Rp100 miliar itu sebaiknya dipakai untuk menekan laju inflasi dan menstabilkan harga sembako yang makin mencekik leher?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda