Kolom

Bimbel Bukan Jaminan Sukses, Lalu Untuk Apa Semua Lelahmu Selama Ini?

Bimbel Bukan Jaminan Sukses, Lalu Untuk Apa Semua Lelahmu Selama Ini?
Ilustrasi calon mahasiswa stres menatap layar setelah gagal SNBP dan SNBT [ChatGPT]

Persaingan meraih Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan program studi yang didambakan memang menuntut pengorbanan besar. Banyak siswa yang harus merasakan lelahnya pulang malam setiap hari demi mengikuti les selama menempuh pendidikan di sekolah menengah atas.

Belajar mati-matian dari pagi sampai malam di rumah, sekolah, dan tempat bimbel yang mungkin orang tidak tahu bagaimana proses di baliknya. Sekarang, sebagian dari mereka yang tidak lolos melalui SNBP maupun SNBT mungkin akan terlintas rasa kecewa.

Mulai merasa bahwa dirinya telah menghamburkan harta orang tua yang berakhir tidak sesuai harapan hingga timbul rasa percuma karena sesak pulang malam hampir setiap hari sejak lama.

Memang rasa kecewa itu sulit pulih, tetapi percayalah orang tua telah mendukung dirimu sampai di titik ini, dan sudah saatnya untuk mengucapkan terima kasih.

Ingatlah ketika membuka pengumuman pertama, lalu mendapat kalimat "Masih ada kesempatan mendaftar dan mengikuti SNBT 2026 atau seleksi mandiri PTN", orang tua tetap menyemangatimu untuk belajar sampai menjelang tes tiba.

Bahkan, persiapan itu biasanya telah dilaksanakan dari jauh-jauh hari di tempat bimbel sebelum pengumuman SNBP. Setiap hari berlatih soal, mengerjakan try out, melakukan evaluasi, dan memastikan setiap materi dikuasai.

Pelaksanaan tes pun tiba, bahkan keyakinan untuk menghadapi soal-soal di layar komputer telah membuahkan rasa percaya diri. Kemudian dirimu keluar dari ruangan dengan penuh harap dan pengumuman akhirnya tiba.

Ternyata, kalimat berukuran besar yang muncul di layar adalah "Jangan putus asa dan tetap semangat." Seketika harapan itu pupus menelan kepedihan setelah dua kali berusaha dan dua kali pula ditolak, sementara teman-teman yang lain telah lolos dan bergembira.

Dari lubuk hati paling dalam, saya memang harus mengakui tidak merasakan hal serupa, terlebih lagi untuk mendapatkan ‘biru’ pun tidak mengikuti les. Saya tidak lolos di tiga besar PTN seperti UI, UGM, dan ITB.

Meskipun begitu, saya ingin menegaskan bahwa setiap pengumuman yang menyatakan tidak lulus bukanlah kegagalan. Hal itu bukan karena dirimu bodoh dalam hal akademik, melainkan karena persaingan ketat dan kuota daya tampung yang minim.

Pada penjelasan berikutnya, mari kita bedah mengapa hasil ini bukanlah sebuah ketidakberhasilan.

Menghadapi Stereotipe PTN dan Kenyataan Kuota yang Kian Menciut

Ekspektasi orang tua terhadap PTN terkadang sangat tinggi. Mereka tidak ingin anaknya masuk ke PTS karena biaya kuliah yang tinggi, munculnya stigma sosial di masyarakat, dan kekhawatiran prospek kerja setelah lulus.

Kondisi ini kian pelik karena, meski anak sudah dinyatakan lulus di luar top PTN, terkadang mereka masih bisa mengatakan bahwa PTN itu biasa-biasa saja. Padahal, pihak top PTN sendiri menerapkan pembatasan kuota penerimaan.

Mengutip dari Tempo.co, salah satu contoh pembatasan tersebut yaitu pemerintah memangkas kuota mahasiswa S1 di ITB sebanyak 12,3 persen. Awal mula usulan dari pihak PTN sebanyak 5.100 orang, tetapi hanya 4.470 orang yang disetujui.

Pembatasan yang dilakukan pemerintah ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mengisi kursi kosong di PTS. Alasan inilah yang membuat masuk ke PTN makin sulit, terlebih lagi melibatkan banyak peserta.

Selain itu, dilansir dari Mamikos.com, daya tampung jalur mandiri di Undip diketahui lebih banyak dibandingkan dengan jalur SNBP dan SNBT. Jumlah total daya tampung yaitu sebagai berikut: SNBP (2.795), SNBT (3.994), dan Ujian Mandiri (6.159).

Penerimaan mahasiswa yang lebih banyak di jalur mandiri ini membutuhkan konsekuensi biaya yang berbeda karena adanya Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang harus dibayarkan. Umumnya, nominal IPI lebih besar daripada Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Keringat dan Lelahmu di Tempat Bimbel Tidak Pernah Sia-Sia

Bimbel tidak menjamin kesuksesan untuk meraih kampus dan program studi impian. Banyak siswa yang rela menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit dengan harapan dapat lolos ke perguruan tinggi yang diinginkan.

Namun, pada kenyataannya, hasil akhir tidak selalu sejalan dengan usaha yang telah dilakukan. Alhasil, mereka merasa gagal, menyerah akan keadaan, dan putus asa dalam menjalani hidup.

Padahal, ilmu yang didapatkan dari bimbel dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman materi, membentuk kedisiplinan, serta melatih kemampuan menghadapi tekanan.

Sayangnya, banyak di antara siswa yang terlalu fokus pada hasil akhir sehingga melupakan manfaat dari proses yang telah mereka lalui. Oleh karena itu, proses belajar tambahan di bimbel seharusnya dapat bermanfaat bagi mereka.

Kegagalan masuk kampus atau program studi impian bukan menjadi bukti bahwa usaha tersebut sia-sia. Penting untuk memahami bahwa bimbingan belajar hanyalah salah satu sarana pendukung.

Faktor seperti konsistensi belajar, strategi yang tepat, kondisi saat ujian, tingkat persaingan, hingga unsur keberuntungan juga memiliki peran dalam menentukan hasil seleksi. Bimbel dapat membantu memperbesar peluang, tetapi tidak pernah menjadi jaminan keberhasilan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda