suara hijau

Kolom

Belanja, Pakai, lalu Retur: Sisi Gelap yang Menghancurkan 'Green Logistics'

Belanja, Pakai, lalu Retur: Sisi Gelap yang Menghancurkan 'Green Logistics'
Ilustrasi paket e-commerce (Pexels/Polina Tankilevitch)

Jujur, siapa di antara kita yang nggak senang sama fitur "Gratis Retur" di e-commerce? Salah ukuran? Tinggal klik retur. Warnanya agak beda pas sampai? Kembalikan saja. Kurir langsung datang jemput ke depan pintu rumah tanpa kita perlu keluar duit sepeser pun.

Di mata kita sebagai konsumen, fitur ini terasa seperti angin segar dan penyelamat banget. Tapi, pernah nggak sih kita mikir apa yang terjadi di balik layar setelah kurir membawa barang itu pergi?

Di balik kenyamanan instan ini, ada bom waktu lingkungan yang siap meledak dan pelan-pelan menghancurkan konsep "green logistics" (logistik ramah lingkungan) yang sering digembar-gemborkan.

Secara sadar atau nggak, setiap kali kita menekan tombol retur, emisi gas karbon dioksida (CO2) dari rantai distribusi itu melonjak jadi dua kali lipat, bahkan bisa lebih! Proses logistik balik (reverse logistics) ini nggak sesederhana barang diambil kurir lalu selesai begitu saja.

Ada proses penjemputan ulang, sortir ulang di gudang transit yang memakan energi, pembersihan atau pengemasan kembali, sampai pengiriman ulang ke penjual asal. Lebih mirisnya lagi, aku sempat baca kalau beberapa raksasa e-commerce global bahkan memilih untuk membakar atau membuang barang returan langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Alasannya bikin geleng-geleng kepala: biaya operasional untuk menyortir dan mengemas ulang barang retur sering kali jauh lebih mahal daripada harga modal barang itu sendiri. Alih-alih less waste, kemudahan ini malah bikin gunungan sampah baru di bumi kita.

Krisis Moral Konsumen: Pengalaman Berburu Ulasan "Nyeleneh"

Masalah retur ini makin diperparah oleh rusaknya etika sebagian konsumen kita sendiri. Aku pernah banget membaca ulasan di salah satu platform e-commerce yang bikin aku bener-bener geleng-geleng kepala sekaligus gemas.

Di ulasan itu, seorang penjual mengeluhkan kalau baju batik dagangannya diretur oleh pembeli. Masalahnya, pas dicek sama penjualnya, baju itu datang kembali dengan bonus bau parfum yang menyengat dan noda makeup yang kentara jelas di bagian kerah.

Fenomena miris kayak gini ternyata punya nama keren di luar negeri, namanya "wardrobing" alias penipuan retur (fraudulent returns). Konsumen tipe begini sengaja membeli pakaian cuma buat dipakai sekali—entah buat konten foto di media sosial atau dipakai buat pamer ke acara kondangan—lalu setelah acaranya selesai, bajunya diretur dengan alasan "nggak cocok" atau "salah ukuran". Menurutku, ini adalah puncak tertinggi dari keegoisan konsumen.

Bagi para perajin lokal atau UMKM yang modalnya pas-pasan, tindakan manipulatif kayak begini benar-benar bisa membunuh bisnis mereka. Kain batik, apalagi yang cap atau tulis, bikinnya butuh proses lama. Pas dibalikin dalam kondisi kotor, otomatis nggak bisa dijual lagi dan akhirnya cuma berakhir jadi sampah tekstil di TPA. Sia-sia, merugikan orang lain, dan merusak bumi.

Solusi Realistis dari Sudut Pandangku

Melihat peliknya urusan retur yang merusak konsep green logistics ini, menurutku kita nggak bisa cuma diam atau sekadar menyalahkan sistem e-commerce. Perlu ada langkah konkret dan realistis yang bisa kita mulai dari diri sendiri dan sistem platformnya.

1. Stop Belanja Impulsif dan Beralih ke "Slow Shopping".

Bagiku, untuk barang-barang yang butuh presisi ukuran super pas kaya sepatu atau celana jins, mendingan kita bela-belain beli langsung di toko fisik deh. Atau kalaupun terpaksa harus beli online, kita betul-betul harus mindful banget sebelum checkout. Tahan ego dan sifat impulsif kita. 

Luangkan waktu beberapa menit buat mengukur tubuh pakai meteran kain, cek size chart dari penjual dengan teliti, dan wajib banget baca ulasan jujur serta foto asli dari pembeli lain. Jangan cuma tebak-tebak buah manggis.

Kalaupun barangnya sampai dan ternyata kurang pas tapi kualitasnya bagus, daripada diretur dan nambah emisi karbon perjalanan kurir, mending kita jual lagi secara lokal sebagai barang preloved atau dihadiahkan ke teman yang ukurannya pas.

2. Gunakan Fitur "Anti-Wardrobing"

Buat para pelaku UMKM, khususnya di bidang fesyen, yuk mulai berani pasang "Return Tag" berupa label plastik ukuran besar yang mencolok di bagian luar pakaian (misal di area dada depan).

Kasih catatan tegas: "Jika tag ini dilepas atau rusak, barang tidak bisa diretur". Dengan begini, konsumen yang niatnya cuma mau pinjam baju buat kondangan nggak akan bisa pakai baju itu tanpa terlihat aneh, kecuali mereka emang berniat membelinya.

3. Menggunakan AI Untuk Mengawasi Pembeli yang Nakal

Platform belanja online harusnya bisa memperketat AI mereka untuk melacak akun pembeli yang nakal. Akun yang rekam jejaknya terlalu sering retur tanpa alasan jelas, atau sering balikin barang dalam kondisi rusak, harus disanksi tegas berupa pencabutan fitur gratis retur atau diblokir.

Sebaliknya, kasih insentif berupa poin atau voucher belanja buat akun-akun yang berhasil mempertahankan rekor "Zero-Return" dalam jangka waktu tertentu sebagai bentuk apresiasi karena sudah menjaga bumi.

Kesimpulan

Bagi aku, gerakan less waste itu nggak melulu soal bawa kantong belanja kain sendiri pas ke minimarket atau nolak sedotan plastik.

Lebih dalam dari itu, less waste adalah soal bagaimana kita bisa mengendalikan ego dan menahan diri dari kemudahan instan yang ditawarkan teknologi, termasuk urusan retur barang.

Menjadi konsumen yang bijak berarti kita sadar bahwa kenyamanan gratis yang kita nikmati hari ini, jangan sampai harus dibayar mahal oleh kerusakan bumi di masa depan. Yuk, lebih mindful sebelum klik "Beli Sekarang"!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda