Ulasan
Paspor Dicabut, Tanah Air Ikut Hilang: Jejak Eksil 1965 oleh Martin Aleida
Melihat judul Tanah Air yang Hilang seketika mengingatkan saya pada bayang-bayang sebuah restoran di Paris dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Keduanya ternyata berpaut pada benang merah yang sama: kisah pilu para eksil politik Indonesia yang terenggut haknya untuk kembali ke tanah tumpah darah akibat prahara 1965.
Dari sinilah Martin Aleida memulai sebuah kerja sunyi yang luar biasa melakukan perjalanan menembus batas negara di Eropa demi menemui belasan orang Indonesia yang terpaksa menjadi "orang klayaban" di negeri orang. Mereka bukanlah orang sembarangan, melainkan para pemuda-pemudi cerdas harapan bangsa yang dahulu diberangkatkan oleh Presiden Sukarno untuk menimba ilmu dan kelak pulang membangun negeri, sebelum akhirnya paspor mereka dicabut secara sepihak oleh rezim Orde Baru dan memaksa mereka hidup tanpa kewarganegaraan selama berpuluh-puluh tahun.
Ulasan
Penjelajahan langsung yang dilakukan Martin Aleida ke berbagai kota di Eropa seperti Paris, Amsterdam, Berlin, hingga Praha pada penghujung tahun 2016 merupakan sebuah ikhtiar yang sungguh luar biasa. Berbekal transkrip wawancara konvensional serta tekad yang begitu kuat, sastrawan sekaligus mantan wartawan Tempo ini menemui para narasumbernya satu persatu guna merekam kesaksian autentik mereka secara langsung.
Buku terbitan Penerbit Buku Kompas ini menghimpun belasan kisah hidup yang memotret bagaimana eksistensi para tokoh tersebut jungkir balik dalam sekejap akibat prahara politik. Melalui sentuhan bahasa sastrawi yang empati, penuh nuansa getir, namun tetap memikat, setiap catatan wawancara di dalamnya berhasil menjelma menjadi sebuah ziarah kemanusiaan yang menyentuh nurani pembaca.
Di antara belasan kisah lainnya yang tak kalah mengiris hati, buku ini juga merekam bagaimana para pemuda cerdas pilihan Sukarno harus menjalani hari-hari penuh keterasingan. Mereka yang tadinya digadang-gadang menjadi motor penggerak kemajuan bangsa mendadak harus banting setir bertahan hidup di negeri orang tanpa identitas kewarganegaraan.
Ada yang bertahan dengan menjadi sopir taksi di Berlin, ada pula yang mendedikasikan hidupnya di lembaga riset terkemuka dunia, namun semuanya memikul beban psikologis yang sama: kerinduan tak bertepi pada kampung halaman yang tak pernah diizinkan menyambut mereka kembali.
Dari sekian banyak kisah yang dihimpun, salah satu yang paling memukau dan di luar nalar datang dari Farida Ishaja, seorang perempuan asal Medan. Pada tahun 1964, ia dikirim ke Vietnam untuk mendalami ilmu sejarah, namun takdir langsung berbalik drastis setahun berselang ketika prahara pecah dan memutus total jalan pulangnya ke tanah air.
Di saat yang bersamaan, kecamuk Perang Vietnam meletus di hadapannya, memaksanya bertahan hidup dengan keluar-masuk hutan, berlindung dari gempuran tentara Amerika Serikat, sekaligus tetap berupaya mengenyam pendidikan di universitas darurat yang didirikan di dalam barak persembunyian. Keputusan sang ayah untuk melarangnya pulang dan justru mendorongnya bergabung dengan barisan perlawanan melengkapi perjalanan hidupnya yang luar biasa, hingga akhirnya ia terdampar dan menetap di Belanda hingga hari ini sebagai seorang eksil yang gigih.
Selain Farida, lembaran-lembaran buku ini juga mempertemukan pembaca dengan sosok-sosok tangguh lainnya seperti Waruno Mahdi, seorang sarjana kimia lulusan Moskow yang kemudian mendedikasikan otaknya di lembaga riset Max Planck Gesellschaft di Jerman. Ada pula kisah Sunarto, sarjana teknik industri yang harus banting setir mencari sesuap nasi sebagai pengemudi taksi di Berlin, serta deretan nama lain yang memikul nasib serupa.
Melalui penuturan mereka, Martin berhasil merinci bagaimana luka sejarah akibat pencabutan paspor secara sepihak tidak hanya merenggut masa depan akademis mereka, tetapi juga menciptakan benteng pemisah yang membuat mereka terasing dari sanak saudara di tanah air karena ketakutan akan stigma politik.
Meski dibalut dalam nuansa getir dan nestapa personal yang mendalam, laporan jurnalistik ini tidak terjebak dalam ratapan semata. Martin Aleida berhasil meracik setiap wawancara dengan gaya bertutur yang membuai, antik, dan sarat empati, seolah-olah kita sedang membaca kumpulan cerita pendek berlatar belakang tragedi kemanusiaan. Mengutip salah satu narasumbernya, hidup para eksil ini memang digambarkan sebagai perjalanan yang "sengsara, tapi ada cahaya di dalamnya"—sebuah keteguhan jiwa yang menolak tunduk di tengah badai sejarah.
Sebagai penutup, Tanah Air yang Hilang bukan sekadar kumpulan arsip wawancara masa lalu, melainkan sebuah pengingat abadi bahwa bangsa ini masih memiliki utang sejarah yang belum sepenuhnya tuntas kepada para korban Orde Baru. Buku ini berhasil membuka mata kita bahwa di balik megahnya narasi pembangunan nasional, ada generasi cerdas bangsa yang terpaksa dikorbankan dan dilupakan. Melalui ketekunan Martin Aleida merangkai kepingan-kepingan kisah ini, kita diajak untuk melihat kembali luka lama dengan sudut pandang yang lebih manusiawi, sekaligus merenungkan arti sejati dari sebuah kata "pulang" bagi mereka yang dirampas tanah airnya.
Identitas Buku
Judul Lengkap: Tanah Air yang Hilang: Wawancara dengan Orang-Orang "Klayaban" di Eropa
Penulis: Martin Aleida
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
ISBN: 978-602-412-287-4