Kolom

Indonesia Ekspor Listrik ke Luar Negeri, Mengapa Warga Masih Sering Gelap-gelapan?

Indonesia Ekspor Listrik ke Luar Negeri, Mengapa Warga Masih Sering Gelap-gelapan?
Ilustrasi Listrik (Unsplash/@abdurrehman_gujjar)

Indonesia patut berbangga ketika mampu menjalin kerja sama ekspor listrik dengan negara lain. Dari sudut pandang ekonomi, langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas menjadi pemain penting dalam rantai pasok energi kawasan. Potensi energi terbarukan yang melimpah, mulai dari tenaga surya, air, hingga panas bumi, menjadi modal besar untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat regional.

Namun, kebanggaan itu segera diiringi ironi yang ramai disuarakan masyarakat. Di berbagai daerah, keluhan mengenai pemadaman listrik bergilir, tegangan yang tidak stabil, hingga gangguan pasokan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Masyarakat tidak sedang mempersoalkan ekspor listrik semata. Yang mereka pertanyakan adalah mengapa keberhasilan di tingkat internasional terasa belum sepenuhnya sejalan dengan kualitas pelayanan yang mereka rasakan di dalam negeri.

Perlu dipahami bahwa ekspor listrik bukan berarti pemerintah mengambil pasokan listrik masyarakat untuk dikirim ke luar negeri. Dalam praktiknya, proyek ekspor biasanya berasal dari pembangkit tertentu yang memang dibangun untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor atau berasal dari tambahan kapasitas produksi. Bahkan, kerja sama semacam ini berpotensi mendatangkan investasi baru, membuka lapangan kerja, mempercepat pembangunan pembangkit energi terbarukan, sekaligus meningkatkan penerimaan negara.

Artinya, secara ekonomi maupun strategi energi, ekspor listrik merupakan langkah yang masuk akal. Persoalannya bukan pada ekspornya, melainkan pada kesenjangan pengalaman antara narasi keberhasilan dan realitas pelayanan yang masih dirasakan sebagian masyarakat.

Bayangkan seorang warga yang baru saja mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam. Saat membuka telepon genggamnya, ia membaca berita bahwa Indonesia akan mengekspor listrik ke negara lain. Reaksi spontan yang muncul kemungkinan bukan rasa bangga, melainkan tanda tanya. Baginya, kebutuhan dasar di rumah sendiri masih belum sepenuhnya terpenuhi, sehingga keberhasilan ekspor terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pencapaian makro, tetapi juga dari pengalaman mikro masyarakat. Statistik investasi, nilai ekspor, dan pertumbuhan sektor energi memang penting. Namun, indikator yang sama pentingnya adalah apakah listrik di rumah-rumah warga menyala secara andal, apakah gangguan dapat ditangani dengan cepat, dan apakah seluruh daerah memperoleh pelayanan yang setara.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tantangan geografis yang sangat kompleks. Menyalurkan listrik ke ribuan pulau tentu membutuhkan investasi besar, pembangunan jaringan transmisi yang panjang, serta sistem distribusi yang andal. Karena itu, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Akan tetapi, tantangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan harapan masyarakat terhadap pelayanan dasar yang berkualitas.

Ekspor listrik dan peningkatan pelayanan domestik seharusnya tidak diposisikan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Pendapatan dari sektor energi dapat menjadi sumber pembiayaan untuk memperkuat infrastruktur kelistrikan nasional, memperluas jaringan, meningkatkan keandalan sistem, serta mempercepat pemerataan akses listrik hingga ke wilayah yang masih tertinggal.

Yang dibutuhkan adalah komunikasi publik yang jujur dan transparan. Pemerintah perlu menjelaskan bagaimana proyek ekspor akan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia. Tanpa penjelasan yang memadai, ruang publik akan mudah dipenuhi persepsi bahwa negara lebih mengutamakan kebutuhan luar negeri daripada kepentingan rakyatnya sendiri.

Pada saat yang sama, penyedia layanan kelistrikan juga harus terus meningkatkan kualitas pelayanan. Keluhan mengenai pemadaman berulang, gangguan jaringan, maupun lambatnya penanganan harus menjadi prioritas perbaikan. Keberhasilan ekspor akan jauh lebih bermakna apabila masyarakat juga merasakan pelayanan listrik yang semakin baik.

Pada akhirnya, menjadi eksportir energi adalah cita-cita yang layak dibanggakan. Namun, kebanggaan itu akan terasa utuh apabila diiringi keberhasilan memenuhi kebutuhan energi rakyat sendiri. Sebab ukuran kemajuan sebuah negara bukan hanya kemampuannya menjual listrik kepada negara lain, melainkan juga kemampuannya memastikan setiap rumah di negerinya memperoleh pasokan listrik yang andal, merata, dan berkeadilan.

Indonesia tentu boleh bercita-cita menjadi pusat energi di kawasan. Namun, cita-cita itu akan memperoleh legitimasi yang lebih kuat apabila tidak lagi terdengar keluhan tentang pemadaman yang berulang.

Sebab, sebelum menjadi terang bagi tetangga, sudah semestinya Indonesia memastikan seluruh pelosok negerinya lebih dahulu menikmati cahaya yang sama.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda