Kolom

Lebih dari Sekadar Nasi Sisa, Sego Karak Adalah Simbol Kehangatan Masa Lalu

Lebih dari Sekadar Nasi Sisa, Sego Karak Adalah Simbol Kehangatan Masa Lalu
ilustrasi nasi karak (Youtube/Dapur Tomat Ceri)

Pernah melihat atau bahkan makan berlaukkan ikan asin? Ikan asin sendiri merupakan produk pangan yang dibuat dari ikan laut yang diberi garam dan dikeringkan supaya awet. Pengeringan dilakukan supaya ikan tetap bisa dinikmati di lain waktu atau dijual ke tempat jauh.

Tipe pengawetan inilah yang kutemui lewat sego karak, suatu cara mengawetkan nasi lewat proses penjemuran di bawah terik matahari.

Sego Karak sebagai Langkah Efektif Hindari Pembuangan Nasi

Di zaman sekarang, ketika nyaris setiap rumah memiliki rice cooker atau kulkas, mungkin nasi sisa tetap bisa awet karena disimpan dengan baik. Namun, kalau menengok ke belakang pada era ketika dua benda elektronik tersebut hanya dimiliki oleh kalangan atas, mayoritas masyarakat bakal memilih langkah lain dalam rangka menyelamatkan nasi sisa.

Masyarakat bakal meletakkan nasi sisa di atas tampah atau tempeh, kemudian dijemur di halaman rumah atau di atap. Menjemur sendiri adalah kegiatan mengeringkan sesuatu di bawah sinar matahari, menurut KBBI.

Praktik ini dilakukan ketika stok nasi masih banyak, entah karena perhitungan takaran menanak nasi yang meleset, maupun sewaktu ada banyak hajatan sehingga stok makanan berlimpah. Fyi, di kampung halaman ibuku dulu ada tradisi kenduri menjelang bulan Ramadan, yang mana tradisi tersebut dilakukan secara bergilir di beberapa rumah warga. Hasilnya, dalam sehari keluarga sudah mendapat beberapa porsi nasi yang nggak sanggup dihabiskan orang satu rumah. Alhasil, menjemur nasi supaya menjadi sego karak pun dilakukan, supaya lusa atau beberapa hari kemudian masih bisa dimakan.

Sego Karak sebagai Budaya Kuliner

Di daerahku sendiri, praktik mengeringkan nasi sisa ini masih dilakukan, walau sudah nggak semasif masa lampau. Mungkin karena sudah banyak yang mempunyai kulkas untuk menyimpan, ya.

Praktik menjemur nasi ini kemudian memiliki dua tujuan:

Pertama, sebagai cara mengawetkan nasi untuk cadangan pangan. Pada praktiknya, nasi dijemur di bawah sinar matahari selama seharian kalau cuaca panas, atau bisa juga dua harian. Nah, kalau hendak memakannya, nasi karak bakal direndam dengan air panas dahulu, barulah ditanak sebagaimana cara memasak tiwul instan.

Kedua, sebagai bahan pakan unggas. Bagi pemilik unggas peliharaan seperti ayam, mentok, atau bebek, nasi karak cukup direndam dalam air panas kemudian dicampur dengan dedak ataupun jagung.

Namun, sego karak alias nasi karak rupanya sukses menarik minat masyarakat dalam kultur budaya kuliner. Kalau kawan-kawan googling tentang sego karak, bakal muncul beberapa rumah makan yang menyajikan olahan tersebut. Beberapa di antaranya terdapat di daerah Gresik, ya.

Budaya Moral ‘Gemati’ yang Menghargai Makanan

Praktik mengeringkan nasi berjuluk sego karak ini sebetulnya nggak cuma sekadar pengawetan bahan pangan. Hal ini adalah wujud perilaku masyarakat dalam menghargai hasil bumi terutama beras, budaya gemati alias berhati-hati dan berhemat terhadap makanan, sampai contoh tindakan menghargai makanan.

Nasi sisa atau nasi basi nggak langsung dibuang begitu saja, melainkan dikeringkan guna cadangan pakan unggas. Kadang juga ada ampas kelapa dan ampas singkong yang dikeringkan bersama. Ibarat kata, praktik ini mirip dengan daur ulang makanan, lah.

Di beberapa lokasi pedesaan pun masih ada praktik jual beli nasi karak, sehingga eksistensinya lebih dari sekadar mengawetkan nasi. Ia mampu bertransformasi sebagai cadangan pangan, sumber cuan, sampai wujud empati manusia terhadap lingkungan maupun nilai moral.

Budaya yang Bikin Nostalgia Masa Lalu

Bagiku sendiri, praktik menjemur nasi ini nggak hanya sekadar menyelamatkan sisa makanan atau pakan ternak saja, melainkan memori nostalgia masa lampau ketika para nenek masih singgah di dunia. Rata-rata, para nenek atau lansia memiliki ayam peliharaan yang dimasukkan dalam kurungan bambu, yang di atasnya diletakkan tempeh guna menjemur nasi.

Memori ini kemudian membuatku merasa candu, tentang betapa tenteramnya era lampau kendati kemajuan zaman nggak sepesat sekarang. Selalu ada kehangatan sosial, budaya adat ketimuran yang membekas di hati, sebab aku pernah melihat nenekku menjemur sego karak.

Makanan adalah Harta yang Tidak Boleh Disia-siakan

Pada hakikatnya, manusia bekerja keras bak kuda adalah untuk mencukupi kebutuhan. Baik kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, atau kebutuhan sampingan seperti mobil Palisade, misalnya.

Namun, kadang kita lupa dan meremehkan makanan yang tersisa, tanpa ingat perjuangan kita dan orang tua dalam membelinya.

Kalaulah makanan itu basi, mungkin bisa diberikan ke unggas peliharaan, dikeringkan untuk cadangan pakan unggas ke depannya, atau dijadikan pupuk kompos. Bukannya dibuang membabi buta sehingga menimbulkan polusi aroma begitu.

So, di tempat kawan-kawan sekalian, praktik menjemur nasi ini masih berlangsungkah?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda