Ulasan

The Forbidden Kingdom: Sinergi Jet Li dan Jackie Chan Angkat Budaya China

The Forbidden Kingdom: Sinergi Jet Li dan Jackie Chan Angkat Budaya China
The Forbidden Kingdom (Prime Video)

Karena sejak kecil aku kerap menonton film-film kungfu, jadilah aku familiar dengan beberapa film yang dibintangi oleh Jackie Chan maupun Jet Li. Ketika mereka berdua disatukan dalam satu projek film bertajuk The Forbidden Kingdom, seketika euforia melambung seperti kenaikan harga barang di pasaran.

Melansir IMDb, The Forbidden Kingdom adalah film bergenre historical, fantasi, martial arts, dan adventure besutan sutradara Rob Minkoff yang rilis pada 18 April 2008 di Indonesia. Film ini secara gamblang mengusung budaya dan legenda China yang khas, dengan selipan humor yang segar.

Dalam 104 menit, penonton nggak hanya dibuat takjub akan plot yang seru berbumbu misteri, tapi juga menganga kala melihat scene kekompakan Jet Li dan Jackie Chan yang kece abis.

Kabur dari Bullying, Malah Harus Menyerang Jenderal Jade

Film ini mengisahkan seorang remaja bernama Jason Tripitikas (Michael Angarano) yang hobi membeli barang di toko antik kawasan pecinan. Suatu hari, dia menemukan tongkat berukir berwarna keemasan yang konon adalah milik seseorang yang penting. Namun, pemilik toko tidak mengizinkan Jason membelinya.

Di suatu malam, Jason dikeroyok dan diancam oleh teman sekelasnya yang ingin merampok toko barang antik tersebut. Pemilik toko kemudian meminta Jason pergi, sambil memberikan tongkat emas berukir dan berpesan untuk mengembalikan kepada pemiliknya.

Jason yang dikejar oleh tukang bully pun nekat melompat dari atap, hanya untuk menyadari bahwa dia berada di negeri antah berantah. Kawasannya mirip pedesaan China, dan dia hampir terbunuh oleh prajurit berkuda yang melihat tongkat emas berukir tersebut. Jason kemudian bertemu Lu Yan (Jackie Chan) yang membawanya pada petualangan dan takdir rumit.

Mereka lantas bertemu gadis muda berjuluk Golden Sparrow (Liu Yifei) dan biksu pendiam (Jet Li) yang rupanya memiliki motif masing-masing untuk menumbangkan kebengisan Jenderal Jade (Collin Chou) dan untuk mengembalikan tongkat emas tersebut pada Sun Go Kong yang disegel menjadi batu di dalam Istana Giok. Mampukah Jason menuntaskan misi tersebut dan kembali ke dunia asalnya?

Presentasi Kekayaan Budaya dan Geografis China yang Majestic

Sebagai generasi yang tumbuh bersama serial film-film ala Shaolin dan Kera Sakti, bagiku film ini adalah regenerasi yang mengharu biru. Kendati komponen utamanya berpusat pada Sun Go Kong minus kawan-kawan, tetapi presentasi kekayaan budaya China kembali hadir. Hal tersebut disajikan lewat esensi akademi Shaolin, elixir keabadian, sifat-sifat nakal Kera Sakti saat menjahili Dewa dan Dewi, serta nafas Yin dan Yang yang bahkan sejak awal sudah disiratkan.

Aku semakin kagum pada totalitas pihak produksi yang niat banget dalam menampilkan detail, terutama pada desain Istana Giok dan penampilan mewah Jenderal Jade, terutama pada jubah hitam menjuntai berukir benang emas. Pun pada setting lokasi yang real yakni hutan bambu Anji di Jiangsu hingga Gurun Gobi yang kian mengenalkan geografis China yang ciamik.

Kendati begitu, film ini nggak hanya menjual iming-iming fantasi semata, tetapi pengajaran kebajikan dalam lingkup Yin dan Yang. Betul-betul esensi khas film-film China era 90an, dimana nilai moral masih ditekankan walau diselipi humor.

Duo Legendaris Kungfu dalam Satu Frame

Boleh dikata, film ini sedikit paradoks mengenai tokoh utamanya. Namun, justru disitulah yang bikin penonton gemas.

Sejatinya, Michael Angarano adalah tokoh utama yang mengemban tugas tersebut. Jadi jatuhnya seperti kisah-kisah isekai lah. Kendati sinarnya terasa agak redup karena magnet utamanya ada pada sinergi Jackie Chan dan Jet Li, tetapi dia tetap totalitas. Baik pada scene berlatih bela diri, hingga ekspresi plonga plongo khas perasuk dunia isekai.

Liu Yifei disini pun badass punya ya, terutama keterampilan bela diri dan pembawaan dendamnya layak diacungi jempol. Aku sendiri turut terpikat dengan kemarahannya, sampai-sampai ikut menangis saat flashback kisah hidupnya.

Lalu duo legenda yang menjelma tokoh utama yakni Jet Li dan Jackie Chan, apa sih yang harus dibahas kecuali betapa kerennya akting mereka? Scene pertarungan bela dirinya real dan selaras karena background masing-masing yang terkemuka, ditambah humor receh berbahasa Mandarin yang asli bikin ngakak. Sepintas, aku seperti menonton ulang Boboho dan Xiao Long deh!

Sedangkan Collin Chou yang memerankan Jenderal Jade rasanya tenang, tapi dilingkupi kebengisan absolut nan mematikan dan berpadu mewah dalam jubah hitam panjang berukir emasnya. Esensi pertarungannya dengan Jet Li versi biksu ataupun Sun Go Kong terasa macam dendam yang nggak kunjung padam. Mengingat mereka juga berperan sebagai rival lewat film The Bodyguard from Beijing rilisan tahun 1993.

Sentuhan Wuxia Agak Maksa

Secara pribadi, scene terbang ala wuxia dalam duel Jet Li dan Jackie Chan atau pertarungan Jet Li dan Collin Choi tuh masih wajar. Efek wuxia ditambah seni estetika sinematografi, tapi berhasil membangkitkan nostalgia era 90an dulu.

Namun, wuxia dari sisi lain nih yang rasanya maksa. Terutama terhadap Penyihir Ni Chang yang menyerang lawan lewat rambut putih panjangnya. Iya, replikasinya mungkin berdasarkan scene-scene film Shaolin jadul, tapi disini kesannya maksa. Ekspresi villainnya pun kurang natural dan seperti dibuat-buat.

Kemudian dari penggunaan bahasanya pun cukup rancu. Okelah kalau Lu Yan bisa berbahasa Inggris pada Jason, karena remaja ini terdampar di pedesaan China. Namun, mengapa Golden Sparrow langsung ngomong bahasa Inggris dalam pertemuan pertama? Ini nggak masuk akal lah! Harusnya kan dia berbahasa Mandarin mengingat Lu Yan ada disana juga.

Pun duel Golden Sparrow dan Penyihir Ni Chang yang menggunakan bahasa Inggris. Aku nggak tahu hendak berkata apa. Apakah pihak produksi ingin mempermudah penonton atau bagaimana, tapi rasanya agak rancu juga. Mengingat background masing-masing karakter adalah orang China.

Film Kompleks yang Disajikan Sesederhana Mungkin

Kendati memiliki banyak scene pertarungan dan selipan komedi, film ini rupanya berusaha mengeksekusi situasi kompleks menjadi lebih sederhana. Konflik tentang kesewenang-wenangan penguasa, yang dilawan oleh pemberontakan rakyat kecil tuh sarkasme hebat. Nilai moral dan sosial yang dihaturkan bergaya tempo dulu, tetapi masih nggak lekang oleh waktu.

Namun tetap saja ada beberapa hal yang nggak bisa ditonton semua usia, terutama kebiasaan suka mabuk Lu Yan, dan scene kebengisan Jenderal Jade ya. Alhasil, mungkin film ini sebaiknya ditonton untuk usia 15 tahun ke atas.

After all, menilik dari representasi budaya dan efek nostalgia, aku memberikan nilai 8/10 untuk film ini.

Identitas Film

Judul: The Forbidden Kingdom

Sutradara: Rob Minkoff

Genre: fantasi, wuxia, martial arts, komedi, historical

Rilis: 18 April 2008

Distributor: Lionsgate, The Weinstein Company

Saluran: Netflix, Prime Video, Youtube

Negara Asal: kolaborasi Amerika Serikat, Hongkong, China

Bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin

Durasi: 104 menit

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda