Kolom
Sisi Gelap Kreator AI di TikTok: Ancaman bagi Perempuan Nyata
Belakangan ini, pernahkah kamu menjumpai sosok perempuan "sempurna" di For Your Page (FYP) TikTok-mu? Wajahnya simetris tanpa pori-pori, bicaranya santun tanpa cela, gerak-geriknya anggun, dan ia begitu fasih menyampaikan pesan-pesan moral atau nasihat spiritual. Di kolom komentar, ribuan netizen berkumpul, melempar pujian, mengetik kata "Adem banget melihatnya," bahkan tidak sedikit yang mengirimkan gift atau koin saat akun tersebut melakukan siaran langsung.
Namun, ada plot twist yang mengintai di balik layar: sosok tersebut sama sekali tidak bernapas. Dia bukan manusia. Dia adalah produk generator Artificial Intelligence (AI)—seperti fenomena akun "Ustazah Hajar" atau deretan model virtual yang belakangan ini mendadak menjamur dan meraih jutaan pengikut di media sosial.
Bagi sebagian orang, ini mungkin dianggap sebagai pencapaian teknologi yang efisien. Namun, jika kita melihatnya dari kacamata sosial dan gender, fenomena kreator AI ini membawa alarm bahaya bagi psikologi perempuan nyata. Kita sedang digiring masuk ke dalam era baru di mana perempuan nyata dipaksa berkompetisi dengan piksel dan algoritma.
Dulu, perempuan sudah cukup dibuat lelah oleh standar kecantikan konvensional yang diproduksi oleh majalah fesyen atau filter Instagram. Kita tahu filter itu palsu, tetapi setidaknya di balik rekayasa digital tersebut masih ada manusia nyata yang memiliki pori-pori, bisa lelah, dan bisa menua. Kini, tantangannya jauh lebih ekstrem karena karakter perempuan berbasis AI diciptakan dari miliaran data untuk memenuhi fantasi visual paling sempurna di mata pasar. Mereka tidak akan pernah memiliki lingkar hitam di bawah mata karena begadang, tidak akan berjerawat karena gejolak hormon, dan tidak akan pernah menua satu hari pun.
Ketika audiens—terutama remaja perempuan yang sedang mencari jati diri—terus-menerus mengonsumsi konten dari kreator AI ini, standar "cantik" dan "ideal" di otak mereka akan bergeser ke tingkat yang secara biologis mustahil untuk dicapai. Dampaknya adalah krisis insecurity baru yang bisa kita sebut sebagai AI Dysmorphia—sebuah kondisi di mana perempuan merasa asing dan kecewa dengan tubuh nyata mereka sendiri karena tidak mampu menandingi kesempurnaan sebuah program komputer.
Kehadiran mereka yang tanpa cela ini pun lambat laun mengikis esensi dasar ruang digital. Media sosial pada awalnya diciptakan sebagai tempat untuk membangun hubungan antarmanusia (human connection). Kita menyukai seorang kreator karena kita merasa terikat dengan kerentanan (vulnerability) mereka—ketika mereka bercerita tentang kegagalan, kelelahan, atau proses belajar yang berliku. Namun, kreator AI merampas esensi tersebut karena mereka tidak punya ruang privat, tidak bisa lelah, dan yang paling krusial: mereka tidak akan pernah melakukan kesalahan manusiawi. Mereka dirancang untuk selalu "benar" dan selalu tampil menyenangkan.
Ketika publik telanjur memberikan validasi emosional dan membangun hubungan parasosial dengan sesuatu yang tidak bernyawa, kita sebenarnya sedang menaikkan standar perilaku secara tidak adil bagi kreator perempuan nyata. Kreator perempuan nyata yang menyuarakan opini kritis, yang sesekali berbuat salah, atau yang tampil apa adanya tanpa riasan, akan dengan mudah tersingkir oleh sosok virtual yang patuh dan selalu estetik di layar gawai.
Di balik semua narasi kesempurnaan ini, sebuah pertanyaan kritis yang harus kita ajukan adalah: siapa sebenarnya yang mengontrol perempuan-perempuan virtual ini? Di balik akun-akun AI yang viral, ada para prompt engineer atau agensi digital yang sering kali digerakkan oleh motif profit atau bahkan perspektif maskulin yang bias dalam melihat perempuan.
Kreator AI ini adalah bentuk mutakhir dari komodifikasi identitas perempuan. Mereka diciptakan untuk menjadi sosok "idaman" yang bisa dikontrol sepenuhnya—mereka tidak bisa memprotes, tidak akan menuntut hak, tidak akan menyuarakan isu kesetaraan, dan siap bekerja 24 jam demi mendatangkan traffic dan koin.
Kondisi ini merupakan bentuk domestikasi baru perempuan di era digital. Agensi, kebebasan, dan suara perempuan seolah digantikan oleh boneka buatan yang penurut dan diatur sepenuhnya oleh pemegang kendali di balik layar. Kompleksitas inilah yang menuntut kita untuk merefleksikan kembali cara kita berinteraksi di ruang siber.
Kita tentu tidak bisa, dan tidak perlu, menghentikan laju perkembangan teknologi AI. Namun, kita memiliki kendali penuh atas kewarasan pikiran kita sendiri dan ke mana arah literasi digital ini akan dibawa. Sudah saatnya kita, sebagai pengguna media sosial, bersikap lebih kritis. Jangan sampai kekaguman kita pada kecanggihan teknologi membuat kita lupa cara mengapresiasi sesama manusia.
Mari kembali menaruh empati pada kreator-kreator perempuan yang benar-benar bernapas, yang berjuang dengan narasi-narasi nyata, dan yang berani merangkul ketidaksempurnaan. Sebab pada akhir cerita, kecantikan yang paling berharga bukanlah yang lahir dari barisan kode dan algoritma yang dingin, melainkan yang tumbuh dari jiwa, pori-pori kulit yang nyata, serta emosi jujur seorang manusia.