Kolom
Di Balik Pintu Ruang Dosen: Ketika Administrasi Mengalahkan Pendidikan
Banyak orang membayangkan profesi dosen sebagai pekerjaan yang nyaman. Datang ke kampus, mengajar beberapa jam, lalu pulang. Sebagian bahkan mengira dosen memiliki waktu luang yang lebih banyak dibanding profesi lain. Pandangan itu mungkin muncul karena yang terlihat oleh mahasiswa hanyalah aktivitas di dalam kelas.
Padahal, semakin dekat melihat kehidupan seorang dosen, semakin tampak bahwa pekerjaan mereka jauh melampaui sekadar mengajar.
Mengajar justru sering kali hanya menjadi sebagian kecil dari keseluruhan tugas. Di luar kelas, dosen harus menyiapkan materi, menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS), membuat soal ujian, memeriksa tugas dan skripsi, membimbing mahasiswa, menghadiri rapat, menyusun laporan, mengurus akreditasi, mengisi berbagai sistem pelaporan, hingga mengejar target penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Belum selesai sampai di situ. Banyak dosen juga dituntut menulis proposal hibah penelitian, menyusun laporan pertanggungjawaban, menerbitkan artikel ilmiah di jurnal bereputasi, mengikuti seminar, hingga memenuhi berbagai indikator kinerja yang menjadi syarat kenaikan jabatan akademik. Setiap pekerjaan memiliki format administrasi masing-masing yang tidak jarang menyita waktu berjam-jam.
Ironisnya, semakin banyak administrasi yang harus diselesaikan, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk mempersiapkan proses belajar yang berkualitas. Padahal, inti profesi dosen adalah mendidik mahasiswa. Ketika sebagian besar energi habis untuk pekerjaan administratif, kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa berpotensi ikut terdampak.
Persoalan lain yang sering menjadi pembahasan adalah kesejahteraan. Tidak semua dosen menerima penghasilan yang tinggi. Di Indonesia masih terdapat dosen, terutama dosen non-aparatur sipil negara atau dosen tetap di sebagian perguruan tinggi swasta, yang harus mencari tambahan penghasilan melalui berbagai pekerjaan sampingan. Ada yang menjadi konsultan, narasumber pelatihan, peneliti proyek, bahkan mengajar di beberapa kampus sekaligus.
Mencari penghasilan tambahan tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan yang patut direnungkan. Jika seorang dosen harus membagi fokusnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, kapan ia memiliki cukup waktu dan energi untuk terus memperbarui materi kuliah, membaca literatur terbaru, membimbing mahasiswa secara optimal, dan melakukan penelitian yang berkualitas?
Padahal, kualitas perguruan tinggi sangat bergantung pada kualitas dosennya. Mahasiswa membutuhkan pengajar yang memiliki waktu untuk berdiskusi, memberi masukan, serta membangun suasana akademik yang sehat. Semua itu sulit diwujudkan apabila tenaga dan perhatian dosen terus terkuras oleh beban administratif maupun tekanan ekonomi.
Kondisi serupa juga dialami banyak guru di berbagai jenjang pendidikan. Tidak sedikit yang mengeluhkan bahwa pekerjaan administrasi semakin banyak, sementara waktu untuk merancang pembelajaran justru semakin sempit. Berbagai formulir, laporan, dan dokumen memang memiliki fungsi dalam tata kelola pendidikan. Namun, ketika administrasi menjadi tujuan, bukan alat, proses belajar mengajar berisiko kehilangan fokus utamanya.
Tentu administrasi tetap diperlukan sebagai bentuk akuntabilitas. Perguruan tinggi harus memiliki dokumentasi yang baik, laporan yang tertata, dan sistem evaluasi yang jelas. Namun, sudah saatnya dilakukan evaluasi terhadap berbagai prosedur yang berulang, tumpang tindih, atau dapat disederhanakan melalui pemanfaatan teknologi. Efisiensi administrasi bukan hanya menghemat waktu, tetapi juga mengembalikan perhatian dosen kepada tugas utamanya: mengajar, meneliti, dan membimbing.
Investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya gedung kampus yang megah atau laboratorium yang canggih, melainkan manusia yang menghidupkannya. Dosen yang sejahtera, dihargai, dan tidak dibebani administrasi berlebihan akan memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendidik generasi berikutnya.
Karena itu, apresiasi kepada para dosen dan guru tidak cukup diwujudkan melalui ucapan pada hari-hari peringatan. Penghargaan yang sesungguhnya hadir dalam bentuk kebijakan yang memberi mereka waktu untuk mengajar dengan tenang, kesempatan untuk berkembang secara akademik, serta kesejahteraan yang layak. Ketika pendidik dapat bekerja dengan fokus dan bermartabat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mereka, tetapi juga oleh jutaan peserta didik yang kelak menentukan masa depan bangsa.
Di balik setiap lulusan yang berhasil, hampir selalu ada seorang guru atau dosen yang bekerja dalam senyap. Mereka mungkin tidak selalu tampak di panggung, tetapi merekalah yang membantu membangun fondasi ilmu, karakter, dan harapan. Sudah sepantasnya mereka tidak terus dibebani dengan urusan yang menjauhkan mereka dari hakikat profesinya sebagai pendidik.