Kolom
Validasi Sosial Mengalahkan Literasi: Mengapa Kita Lebih Takut Kusam daripada Bodoh?
Mengutip data International Publishers Association (IPA), Indonesia tergolong salah satu negara di Asia Tenggara yang menerapkan tarif pajak tertinggi untuk buku komersial dan umum, yakni sebesar 11 persen. Sementara itu, negara di Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, dan Timor Leste tidak menerapkan satu persen pun tarif pajak.
Ironisnya, ketika negara kita dicap malas membaca, harga buku justru masih melambung tinggi. Akibatnya, banyak orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk membeli buku bajakan hingga mencari dokumen ilegal. Meskipun tindakan ini keliru, keterbatasan ekonomilah yang memaksa mereka memilih jalan pintas tersebut.
Ketika Buku Menjadi Barang Mewah
In this economy, harga buku tidak lagi ramah di kantong. Survei GoodStats pada tahun 2025 mengungkap bahwa masyarakat cenderung irit untuk membeli buku. Sekitar 70,8 persen masyarakat membeli buku dengan harga kurang dari Rp100.000 tiap bulannya. Oleh karenanya, di era saat ini, kita sering kali hanya bisa mengambil buku dari rak, lalu mengembalikannya lagi.
Berbeda halnya dengan produk perawatan yang lebih laris diburu oleh banyak orang. Menurut Eileen Kamtawijoyo, Co-Founder dan COO Populix, setiap bulannya 8 dari 10 orang Indonesia dapat mengeluarkan uang hingga Rp250.000 hanya untuk membeli produk-produk skincare. Artinya, keinginan masyarakat untuk membeli buku mulai minim.
Walaupun membaca bisa dilakukan tanpa buku fisik, kehadiran buku cetak menawarkan nilai estetika dan kenangan personal yang tidak tergantikan oleh perangkat digital. Aktivitas membaca buku fisik bisa menjadi momen istirahat dari melihat layar gawai dan distraksi digital.
Beralihnya masyarakat dari buku fisik ke buku digital tidak luput dari persoalan harga buku fisik yang berbanding terbalik dengan penghasilan. Harga buku yang relatif mahal membuat mereka menyisihkan sebagian kecil penghasilan ketika masih ada berbagai kebutuhan yang jauh lebih mendesak. Alhasil, membaca buku bukan lagi menjadi prioritas.
Masyarakat lebih suka berbelanja skincare dan make-up karena selain harganya yang barangkali menjanjikan, efek yang ditimbulkan dalam hitungan hari atau minggu terkadang langsung bisa terlihat, berbeda dengan membaca buku. Perubahan mulai dari wajah yang bersih dan glowing secara tidak langsung memberi sinyal bahwa dirinya terawat dan mapan dari segi ekonomi.
Sebaliknya, membaca buku memerlukan pengorbanan untuk menyisihkan penghasilan hingga membutuhkan waktu berbulan-bulan dan bertahun-tahun untuk terlihat hasilnya. Isi kepala yang cerdas akan ilmu pengetahuan tidak bisa langsung dipamerkan dalam bentuk jepretan foto di media sosial ataupun secara langsung kepada orang lain. Padahal, validasi sosial tidak sepenuhnya diperlukan.
Standar Sosial Mengalahkan Segalanya
Fenomena orang-orang yang haus validasi sangat erat kaitannya dengan interaksi di masa kini, terutama dengan maraknya penggunaan media sosial. Manusia memang secara alami membutuhkan validasi untuk merasa diterima, dihargai, dan diakui keberadaannya. Inilah salah satu alasan di balik munculnya standar sosial di dunia pergaulan.
Begitu pula di dunia kerja, ada realitas pahit ketika seseorang yang menarik secara fisik sering kali mendapatkan jalan pintas untuk diterima bekerja dan sukses menjalani karier. Syarat lowongan pekerjaan “berpenampilan menarik” kadang menjadi hak istimewa yang bisa dirasakan langsung dampaknya. Itulah mengapa merawat diri memberi keuntungan yang dinilai pasti.
Selain itu, pemasaran industri kecantikan lebih cepat menyebar dan dapat menciptakan tren standar perawatan diri yang baru. Iklan ini berhasil membuat banyak orang takut tua, kusam, dan berjerawat, sehingga membeli produk kecantikan dirasa menjadi kebutuhan darurat dibandingkan berinvestasi untuk otak. Di sisi lain, promosi buku atau kegiatan literasi jarang sekali terlihat di muka publik.
Belajar, membaca buku yang berat, hingga memecahkan masalah sering dianggap menguras energi untuk berpikir. Maka dari itu, masyarakat lebih memilih menonton hiburan sambil memakai masker wajah karena jauh lebih menyenangkan. Merawat muka memberi kepuasan dan mendapat validasi, sedangkan merawat otak membutuhkan hasil yang lebih lama dan baru terasa di masa depan.
Ketika standar sosial dan kebijakan tarif pajak buku berhasil menggelapkan dampak positif literasi, di sinilah masyarakat perlahan-lahan buta terhadap ilmu pengetahuan. Malasnya membaca adalah salah satu alasan mengapa negeri ini sulit beranjak dari status negara berkembang dan terus-menerus terjebak dalam lingkaran setan kebodohan.