Kolom
Mengurai Weaponized Incompetence: Mengapa Peran Domestik Kerap Timpang?
Belakangan ini media sosial ramai membahas fenomena suami yang terlihat sangat kompeten di tempat kerja, tetapi berubah menjadi sosok yang seolah tidak bisa melakukan apa pun ketika berada di rumah.
Ada yang menganggapnya lucu karena menunjukkan sisi "apa adanya" seorang suami, ada pula yang menganggapnya sebagai bentuk kenyamanan karena rumah adalah safe space.
Namun, di balik candaan itu, banyak netizen yang justru melihat bahwa hal ini adalah bentuk weaponized incompetence yang selama ini tanpa sadar dinormalisasi.
Lantas, mengapa perilaku seperti ini justru sering dianggap lucu, padahal bisa menciptakan ketimpangan dalam rumah tangga?
Menilik Fenomena Weaponized Incompetence
Istilah weaponized incompetence memang sering muncul dalam berbagai diskusi tentang relasi. Mengutip Psychology Today, istilah ini menggambarkan situasi ketika seseorang mengaku tidak mampu atau menunjukkan ketidakmampuan dalam mengerjakan suatu tugas sehingga orang lain akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut.
Dalam konteks rumah tangga, perilaku ini sering dikaitkan dengan pembagian kerja domestik yang tidak seimbang. Akibatnya, satu pihak harus memikul lebih banyak tanggung jawab karena pasangannya dianggap tidak bisa.
Menurut saya, masalah ini menjadi serius ketika ketidakmampuan itu terus-menerus dijadikan alasan sehingga beban rumah tangga perlahan berpindah kepada pasangan.
Hal yang awalnya dianggap sebagai candaan atau lucu-lucuan justru membuka diskusi tentang keadilan dalam berbagi tanggung jawab di rumah.
Rumah Bukan Tempat untuk Melepaskan Tanggung Jawab
Saya sepakat bahwa rumah adalah tempat paling nyaman untuk menjadi diri sendiri. Setelah seharian bekerja, siapa pun tentu ingin beristirahat dan melepas penat.
Namun, menjadikan rumah sebagai safe space bukan berarti seseorang boleh mengabaikan seluruh rasa tanggung jawabnya terhadap urusan domestik.
Ada perbedaan besar antara merasa rileks di rumah dan menyerahkan semua pekerjaan kepada pasangan. Misalnya, seseorang berkata dirinya tidak bisa memasak, tidak tahu letak perlengkapan anak, bingung mencuci pakaian, atau selalu meminta bantuan untuk pekerjaan rumah yang sebenarnya bisa dipelajari.
Jika hal itu hanya terjadi sekali atau dua kali, mungkin tidak menjadi masalah. Akan tetapi, jika pola tersebut berlangsung terus-menerus hingga pasangan merasa lebih mudah mengerjakan semuanya sendiri, di situlah ketimpangan mulai terbentuk.
Padahal, rumah adalah ruang yang dihuni bersama. Semua anggota keluarga berhak menikmati rumah yang bersih, makanan yang tersedia, pakaian yang rapi, dan anak-anak yang terurus, sehingga sudah semestinya tanggung jawab untuk menjaga semua itu juga dipikul bersama.
Ketidakmampuan Tidak Selalu Berarti Weaponized Incompetence
Meski begitu, saya juga tidak setuju jika setiap orang yang belum mahir mengurus rumah langsung dicap melakukan weaponized incompetence. Tidak semua ketidakmampuan lahir dari niat menghindari tanggung jawab.
Bisa saja seseorang memang tidak pernah diajarkan mengurus pekerjaan rumah sejak kecil. Ada pula yang takut salah, kurang percaya diri, atau memang belum terbiasa melakukan tugas tertentu. Hal seperti ini masih sangat mungkin diperbaiki selama ada kemauan untuk belajar dan terlibat.
Yang dipermasalahkan adalah ketika ketidakmampuan tersebut dijadikan alasan yang terus diulang sampai akhirnya membuat pasangan berhenti meminta bantuan.
Lama-kelamaan, pembagian kerja menjadi tidak seimbang, bukan karena satu pihak lebih mampu, melainkan karena pihak lain memilih untuk tidak mengembangkan kemampuannya.
Normalisasi yang Diam-diam Membebani Pasangan
Menurut saya, inilah bagian yang paling perlu dikritisi dari fenomena weaponized incompetence di media sosial. Banyak konten yang membingkainya sebagai sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Hal ini akan memunculkan beban fisik dan mental yang tidak terbagi secara adil jika terjadi secara terus-menerus.
Selain pekerjaan domestik yang kita kenal sehari-hari, ada pekerjaan yang sering kali tidak terlihat, seperti mengingat jadwal anak, memastikan stok kebutuhan rumah tersedia, menyiapkan keperluan sekolah, hingga memikirkan apa yang harus dimasak setiap hari.
Semua proses berpikir itu juga merupakan pekerjaan. Ketika satu orang harus mengerjakan sekaligus memikirkan semuanya sendiri, sementara pasangannya hanya menunggu diminta atau bahkan mengaku tidak bisa, rasa lelah dan frustrasi sangat mungkin muncul.
Oleh karena itu, saya rasa sudah saatnya kita berhenti menormalisasi weaponized incompetence, apalagi menjadikannya sebagai bahan candaan yang membanggakan.